DSC00438

Pada bulan Dzulhijjah banyak orang melakukan ibadah untuk berziarah ke Baitullah (Kakbah) di Masjidil Haram Makkah Arab Saudi. Mereka datang ke Masjidil Haram untuk melaksanakan berbagai amalan ibadah mulai dari ihram, wukuf, tawaf, sa’i dan amalan lainnya pada masa tertentu demi memenuhi panggilan Allah SWT dan mengharapkan ridho-Nya.

Sesuai dengan buku petunjuk Doa, Zikir, dan Tanya Jawab Ibadah Haji yang diterbitkan Kementerian Agama RI Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, perjalanan melaksanakan ibadah haji dan umrah adalah perjalanan suci, di samping memerlukan biaya yang tidak sedikit, dan memerlukan kesiapan fisik dan mental, serta pengetahuan tentang manasik,  wajib bagi yang mampu dan dilaksanakan sekali dalam seumur hidup. Antara ibadah haji dan umrah merupakan dua peribadatan yang masing-masing berdiri sendiri.

Tiap tahun bila musim haji tiba, masyarakat tampak tumpah ruah memadati Kota Makkah. Nggak tanggung-tanggung, mereka datang dari segala penjuru dunia. Orang yang datang pun dari lapisan masyarakat paling bawah hingga kedudukannya paling dihormati di negara masing-masing. Mulai dari Presiden, Perdana Menteri, hingga rakyat jelata sekali pun.DSC00387

Ibadah yang Dilakukan

Setelah melakukan perjalanan cukup melelahkan meninggalkan tanah air 8 jam lamanya, jemaah haji begitu tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi.   Di sini mereka manunggu 6 jam sampai lewat tengah malam untuk pengurusan administrasi. Selanjutnya meninggalkan Jeddah dan waktu subuh sampai di kota  Madinah.

Setibanya di kota Madinah, mereka tinggal di pemondokan yang jaraknya 500 meter – 2.500 meter dari Masjid Nabawi dan melakukan ibadah jamaah arbain yaitu shalat jamaah lima waktu secara berjamaah di Masjid Nabawi sebanyak empat puluh waktu  shalat ditambah dengan  sunat lainnya seperti membaca Al Quran, zikir, dan berdoa.

Di  Masjid Mikat Bir Ali, para jamaah calon haji, mandi dan berwudu, berpakaian ihram, shalat sunah dua rakaat dengan berdoa aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah untuk umrah. Selain di Bir Ali, jamaah haji Indonesia bisa mikat ihram antara lain: gelombang satu di Bir Ali, gelombang dua di dalam pesawat pada garis sejajar dengan Qarnul Manazil, airport King Abdul Aziz, asrama haji sejak keberangkatan.

Jamaah haji yang sakit harus melakukan thawaf  ifadah sekalipun dengan cara ditandu,  karena tawaf ifadah merupakan rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan. Ada pun rukun haji itu antara lain ihram (niat), wukuf di Arafah, tawaf ifadah, sa’i, tahalul, dan tertib sedangkan wajib haji meliputi ihram haji dari miqat, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, melontar jamarah, meninggalkan perbuatan yang dilarang dalam keadaan ihram, dan tawaf wada’ bagi yang akan meninggalkan Makkah.

Tawaf dilakukan setelah lewat tengah malam hari nahar 10 Zulhijjah sampai kapan saja, tetapi dianjurkan hari-hari tasyriq dalam bulan haji.

Wukuf bagi calon jamaah haji yang sakit dengan cara safari wukuf, seluruh jamaah yang sakit dikumpulkan di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Makkah oleh petugas haji.  Jamaah haji yang sakit diberi penjelasan dan bimbingan tentang pelaksanaan ibadah haji, mulai dari bersuci, berpakaian ihram, niat haji, dan talbiyah.

Pihak rumah sakit Arab Saudi tetap mewukupkan pasien-pasien yang sadar dan bisa dibawa ke Arafah dengan menggunakan ambulance (kendaraan) sebagaimana safari wukuf yaitu mulai tergelincir matahari mata pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai terbit fajar 10 Dzulhijjah yang dilaksanakan pemerintah Indonesia. Mereka dibawa beriringan menuju Arafah pada pukul 16.00 waktu setempat.

Sa’i berjalan dimulai bukit Safa ke bukit Marwah dan sebaliknya, dilakukan sebanyak tujuh kali berakhir di bukit Marwah. Bagi laki-laki berlari kecil di antara dua pilar hijau dan mengangkat kedua tangan sambil berdoa menghadap Ka’bah.

Selanjutnya jamaah hanji melaksanakan lontar jamarah Ula, Wustha, dan Aqabah. Lontar jamarah ini yang paling baik waktunya 10 Dzuhijjah matahari nahr. Untuk menjaga keselamatan agar menghindari waktu afdhaniyah karena berbahaya, siang hari  sampai terbenamnya, tanggal tengah malam hingga terbit fajar 14 Dzuhijjah, atau lewat tengah malam sampai pukul 5.00 waktu subuh.

Beberapa hal perlu diperhatikan

Ada beberapa hal perlu diperhatikan bagi setiap calon jamaah haji khusus wanita  antara lain:

  1. Berpakaian rapi, menutup aurat kecuali muka dan telapak tangan (ketika ihram) , dan menghindari pakaian tipis, dan ketet
  2. Tidak mengeraskan suara sewaktu membaca talbiyah atau berdoa, tidak makai make up berlebihan
  3. Berkat yang baik, tidak berbohong, memfitnah, atau menggunjing orang lain
  4. Berduaan dengan orang yang bukan mahramnya (hR 081)