Hamdan petugas parkir di Lhokseumawe sedang melaksanakan tugasnya di jalan Gudang Lhokseumawe

Hamdan petugas parkir di Lhokseumawe sedang melaksanakan tugasnya di jalan Gudang Lhokseumawe

Mencari pekerjaan di zaman canggih sekarang ini, terlebih lagi bagi orang yang tidak punya pekerjaan tetap, sungguh sangat sulit. Zaman sekarang apapun pekerjaan yang kita lakukan dituntut pengetahuan, keterampilan, dan tanggung jawab yang tinggi. Sejelek apa pun pekerjaan yang dilakukan, sepanjang semua itu halal untuk anak maupun istri, tetaplah dikatakan baik. Hal itulah yang dilakukan petugas parkir jalan Gudang Kota Lhokseumawe, Hamdan ketika berbincang dengan haba Rakyat, Kamis (9/5)

               Demi menghidupi enam anak dan istrinya, Hamdan, lelaki   kelahiran 1950 lalu, terpaksa ia bekerja sebagai petugas parkir. Dulunya, sebagai pekerja bangunan, menarik becak orang, bahkan kerja kasar lainnya tetap ditekuninya. Kalau dulu masih usia muda, sekarang ho…. Sudah tua, badan sering sakit-sakitan, pokoknya banyaklah Bang. Belum lagi anak butuh makan dan pakaian, sekolah, dan lain sebagainya.

               Selama sehari penuh, dari pukul 08.00 – 18.00 WIB, lelaki itu telah bekerja sebagai tukang parkir di kota Lhokseumawe, meninggalkan anak dan istrinya di Simpang Ardat.  Dalam bekerja, ia melengkapi dirinya dengan sebuah pluit digunakan sebagai penyemprit di kala orang hendak parkirkan kendaraan, dan karton bekas untuk menutup kendaraan dari panas matahari saat siang tiba.

                 Dengan sigap dan cekatannya, lelaki yang telah bekerja sebagai tukang parkir selama 20 tahun ini, mengatur lalu lintas, kendaraan roda dua dan empat yang hendak parkir di jalan Gudang Lhokseumawe. Suami dari Aisyah 45 tahun dengan 6  orang anak di antaranya Mulyana, Mahmulidar, Armia, dan si kecil Mahmudiah, sedangkan dua anaknya lagi telah dipanggil yang Maha Kuasa, kini menggantungkan hidupnya dari tukang parkir.

               Saya ini, Bang pendapatan nggak seberapa, tapi setorannya itu yang menurut dia kebanyakan. Tapi dari pada nggak ada kerja, ya Alhamdulillah lah, Bang. Orang nyari kerja itu sudah susah sekali, Bang,  apa lagi saya nggak sekolah, SD saja nggak tamat,Bang, katanya memelas.

               Bekerja diterik matahari, baginya sudah biasa, sudah menjadi darah  daging. Meskipun seharian, toh dia bisa istirahat kalau nggak ada kendaraan yang parkir atau orang lain yang tidak ada mengambil kendaraannya, kata Hamdan yang bekerja di bawah Dinas Perhubungan kota Lhokseumawe mengakhiri pertemuannya (hR081)