Untuk membantu  mengantarkan anak-anak menghadapi UN dan menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, telah diselenggarakan seminar Ganesha Operation The King of The Fastest Solution bagi pelajar SMP Negeri Arun. Seminar ini dilaksanakan dari jam 08.30 – 11.00 WIB hari Rabu (17/4) di aula SMP Negeri Arun Lhokseumawe.

  Program ini memberikan jaminan lulus ujian kenaikan kelas, masuk SMA favorit, dan masuk perguruan tinggi negeri, dengan tenaga pengajar yang sangat qualified, professional.  Di samping itu adanya pertemuan orang tua  (parent meeting) secara berkala sehingga GO dan orang tua bisa bekerja sama dalam mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk kesuksesan siswa.

Menurut Miranda Sari pimpinan GO di Langsa, selaku pembicara tunggal mengatakan seminar ini Meeting on Maxizing Motivation (M3) dilaksanakan secara berkala untuk membangkitkan motvasi pelajar SMP Negeri Arun meraih prestasi secara maksimal dan diberikan secara lengkap meliputi pembahasan PR, ulangan harian, buku SMS (Strategi Menuju Sukses) GO, mengenalkan rumus The King, dan revolusi belajar.

Katanya, bicara soal masuk SMA, tahun lalu ribuan siswa gagal seleksi penerimaan siswa baru SMA favorit, tingkat persaingan yang sangat kuat, dan kesulitan soal tinggi mengakibatkan banyak siswa yang gagal.

Kalau ingin keluar dari kemelut di atas, jawabannya adalah revolusi belajar. Ganesha Operation menerapkan teori ini sehingga belajar selaras dengan cara kerja otak. Hal ini membuat siswa  mampu meraih prestasi spektakuler dengan nilai rapor yang tinggi,  katanya yang dijawab anak-anak dengan tepuk tangan.

Otak kiri bertanggung jawab terhadap kemampuan matematis dan verbal seperti membaca, menulis, berhitung yang sifatnya sistematis dan analitis.  Sedangkan otak kanan berurusan dengan irama, music, imajinasi, warna, diagram, dan gambar, sifatnya kreatif, tidak teratur, dan menyeluruh. Inilah yang terjadi dalam seminar Ganesha Operation dan Revolusi Belajar.

Penyajian Miranda cukup menarik perhatian, tidak saja buat siswa sendiri, melainkan juga bagi guru-guru yang hadir saat itu. Itu dilakukan GO semenarik mungkin dan suasananya tidak tegang, tidak seperti  prajurit di medan pertempuran. Untuk  menjamin siswa belajar sesuai dengan modalitasnya, maka di awal penerapannya akan dilakukan evaluasi untuk mengetahui apakah siswa tersebut tergolong visual, auditorial, atau  kinestetik. Dengan  demikian penyejian pelajaran dapat disesuaikan sehingga siswa mudah menyerap pelajaran.