Hidup manusia banyak sekali tantangannya.  Tantangan itu bisa berupa hal  yang negative atau  positif.  Semua tantangan yang dihadapi manusia itu ada resiko atau bahayanya, bahkan terkadang terimbas pada diri sendiri. Ada tantangan, pastilah ada larangannya. Tak sedikit larangan itu dilanggar manusia yang dalam hidupnya menacari jalan pintas. Inilah salah satu yang digambarkan penulis buku ini Al Hakim At Tarmidzi dengan judul asli Al Manhiyyaat dan Zeid Husein Alhamid yang menerjemahkannya dengan judul Awas Ini Larangan Allah.

Aku memperoleh buku ini di perpustakaan SMP Negeri Arun. Ketika itu aku tengah melihat-lihat dan mencari sebuah buku. Langkah kaki pun terhenti, tertuju pada buku tersebut. Kuambil buku itu. Baru lihat judulnya saja, aku sudah tertarik, belum lagi ketika aku membacanya.  Banyak yang kudapatkan dari buku tersebut, mulai dari duduk ihtiba sampai pada menjual emas dengan emas.

Buku terjemahan Cahaya Indah Semarang cetakan pertama tahun 1994 didahului kata pengantar, yang intinya mengangkat kisah pengarang aslinya At Tirmidzi seorang tokoh Islam yang harus diteladani generasi muda yang menempuh perjalanan menuju pembentukan masyarakat Islam.

Buku berisi 170 judul sangat bagus bagi orang yang agama, terlebih bagi mereka yang mendalami Islam secara kaffah, untuk pelajar, dan masyarakat umum. Di samping orang mudah memahaminya, juga bahasa yang dipakai pengarang tidaklah sulit dan masih bersifat umum.

Kemudian di halaman selanjutnya tentang biografi pengarang, kelahirannya, lingkungan hidupnya, seluk beluk hidupnya, keahliannya, dan karya-karyanya. Awas Larangan Allah semakin enak kita membacanya karena dilengkapi dengan sekilas kitab yang berisi 236 halaman, serta catatan kaki di buku  ini.

 Sebagai orang awam yang memegang teguh ajaran agama, aku baru sadar telah melakukan kesalahan besar, buang air mengadap dan membelakangi kiblat seperti yang diterangkan buku ini karena wcnya seperti itu (hal 12). Begitu pula kita nggak boleh menggunjing orang lain (hal 72).  Bila seseorang menyebut keburuannya, berarti ia telah mengeluarkan rahasia yang diterima atau dititipkan Allah padanya.

 Namun begitu, buku yang memiliki kulit buku yang tebal dan warna cantik ini, memiliki masih banyak kekurangan.  Selain mudah lepas dari kulit sampulnya,  isi bukunya belum berwarna, tidak ada gembar penunjang agar orang yang membaca semakin tertarik.