DSCN4917

Komandan Marinir Rancong tengah membawakan beberapa lagu dalam ulang tahun Marga Silima

Perayaan ulang tahun biasanya dirayakan dengan besar-besaran. Ada kalanya dengan mengadakan kenduri besar atau makan bersama, beri makan anak atim, panggil penceramah, atraksi hiburan, dsb. Ini tidak dilakukan bagi keluarga besar Marga Silima, warga Karo di perantauan di Lhokseumawe, Aceh Utara dan sekitarnya, yang merayakan ulang tahunnya ke-31 di bumi Pos Marinir Rancong Lhokseumawe  Sabtu (30/3). Mereka lakukan dengan sangat sederhana namun tidak mengurangi rasa kekeluargaan dan silaturahmi antar suku Karo di perantauan.

Turut hadir dalam acara tersebut para pengurus Marga Silima Aceh Utara dan Lhokseumawe, Ketua Marga Silima Rosliana Sebayang, Ketua Panitia Istim br Perangin Angin, Komandan Marinir Rancong, Ketua DPP PAS Sugeng Sarbaini, anggota Marga Silima dan keluarganya. Acara tersebut dipandu Normal Tarigan diisi dengan makan siang bersama dan acara hiburan sampai sore hari.

DSCN4913

Ketua Panitia ketika menyampaikan sambutannya mengharapkan agar tetap menjaga kekompakan, persatuan dan kesatuan di antara keluarga besar Marga Silima. Karena di dalam Marga Silima semua suku itu ada, Aceh, Jawa, dan orang Karo itu sendiri, baik istri atau suami yang berasal dari suku lain. Lihatlah betapa bahagianya kalau kita kompak.

Rosliana Sebayang Ketua Marga Silima mengatakan inilah keluarga Karo di perantauan. Walau berbeda agama, tapi tetap satu, baik non muslim maupun muslim, bahkan saling mendukung satu sama lain. Tidak ada perbedaan, yang dari suku Karo atau bukan. Karena kita semua makhluk Allah.

Selain itu, beliau juga mengharapkan pesta ulang tahun yang diselenggarakan hendaknya bisa dilanjutkan tahun mendatang, walau pesta sederhana, tapi mengandung makna besar, memperkuat silaturrahmi, anak-anaknya ikut ambil bagian, semua ikut menyanyi dan menari, anakanak, muda-mudi, bapak-bapak, ibu-ibu semuanya bergembira ria, katanya.

Puncak acara, hiburan yang diisi oleh Komandan Marinir Rancong dengan membawakan tiga buah lagu lagu Karo dan Tapanuli, kesenian anak-anak, remaja diawali Swastiekadhy dengan beberapa buah lagu Karo, bapak-bapak dengan tariannya diringi keyboard, ibu-ibu juga tak ketinggalan, semua menyatu, bersahabat bagaikan kakak dan adik.