Sudah menjadi suratan jika hidup harus jadi pedagang, meskipun sejak dulu menjadi pedagang es krim bukan menjadi cita-citanya. Namun, demi kehidupan keluarganya, apalagi ia menjadi kepala keluarga, lelaki ini tetap menjadi penjual es krim Idola di kawasan Batuphat.

Bagi Basyaruddin tidak ada lagi pekerjaan sekarang, tentunya amat merepotkan. Jadi penjual es krim sejak 8-12-2003 menjadikan pilihannya setelah lepas dari Tamansiswa dan Yapena beberapa tahun lalu. Demi kelangsungan hidup dan pendidikan dua orang buah hatinya yang tengah menimba ilmu di USU, Iqbal sekarang duduk di bangku kuliah semester VIII jurusan Fisika Instrument dan si adik Rizki semester 5 jurusan Akutansi, membuat lelaki berusia 46 tahun ini banting stir. Setelah berkenalan dengan Bang Jiman, Basyar yakin dengan tambatan hatinya Penjual Es Krim Idola sebagai mata pencaharian hidupnya hingga sekarang ini.

Pagi-pagi sekali, lelaki ini sudah bangun. Selesai shalat subuh, ia bergegas untuk membuat es krim dibantu istrinya Marwiyah 44 tahun mengukur kelapa. Sementara itu, dia sendiri yang mengolah bahan-bahan yang telah dibelinya dan disiapkan dari kedai  Bang Chairul sejak malam hari. Cepat sekali, bersih kerjanya, dan yang terpenting rasanya tidak mengecewakan pelanggan. Bekerjanya pun tidak pakai mesin, masih manual, pakai tangan, dan berlangsung sampai tahun 2008 lalu. Lebih lagi rasanya gak boleh beda, harus tetap sama. Coba bapak lihat, semua dari gula asli, katanya.

Bagi lelaki berusia 46 tahun ini, kepuasan pelanggan itu yang menjadi nomor satu. Ia berdagang siang  hari dari pukul 11.00 – 13.30 dan sore 17.00 – bada magrib. Dulunya  melewati jalan Medan –  Banda  Aceh  dari Blang Pulo sampai ke Blang Naleung Mameh. Itu sih pelanggannya ya bisa dihitung dengan jari. Namun sekarang ini pelanggannya telah banyak, mulai dari SPBU Batuphat –simpang IV Arun. Dalam menjajakan dagangannya, Basyaruddin tetap berjalan kaki, hitung-hitung olah raga.

Suka dukanya menjadi penjual es krim, bagi bapak dua anak ini, “Wah cukup banyak, Pak ! “ katanya pada haba Rakyat di kediamannya jalan Medan – B. Aceh belakang Singgalang 2 pagi itu (24/7).  Mula jualan es krim, banyak yang mencibir dirinya, sempat diceramahi, bahkan memarahinya. Lakunya, nggak seberapa. Terkadang habis, terkadang tidak. Mukanya merah menahan panas, letih juga. Biasalah, kalau mau berubah nasib, kita harus mau berusaha. Sekarang, hasilnya ya lumayan, bisa menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi, ujarnya.

Dalam menjalankan usahanya, Bas pernah mendapatkan bantuan dari pihak Unimal sebesar 3 juta rupaih. Sumbangan itu ia gunakan untuk membeli mesin sederhana dan hingga kini ia tidak perlu repot-repot,  udah ada mesin. Satu harapan lagi katanya, Basyaruddin ingin membuka lapangan kerja baru, menampung anak muda di desanya. Tapi, terbentur dana untuk membeli mesin pembuat es krim. Dananya sebesar 50 juta.

Sungguh suatu harapan ke depan yang perlu mendapat perhatian kita semua.  Harapan yang suci bagi anak desa Batuphat Timur, seandainya ada yang ingin meringankan beban hidupnya.