Saat ini dunia perkoperasian di negara maju dan di negara berkembang memang tengah menghadapi dinamika arus pasar global dan perdagangan bebas. Seperti yang kita ketahui bersama, terdapat perbedaan antara koperasi dunia dan koperasi nasional, terutama pada sejarah dan asal-muasal berdirinya. Di negara maju seperti Inggris, koperasi lahir sebagai gerakan untuk melawan ketidakadilan pasar. Dimana pertama kali ide ini dicetuskan bertujuan untuk menolong kaum buruh dan petani mengatasi masalah ekonomi dengan menggalang kekuatan sendiri melalui koperasi. Ide koperasi itu kemudian menjalar ke negara-negara maju lainnya.  Selain itu, perundang-undangan yang mengatur koperasi di negara maju terlahir dari tuntutan masyarakat koperasi untuk melindungi dirinya. Seperti yang disebutkan dalam wacana dunia, koperasi disebut juga sebagai The Third Way atau “Jalan Ketiga”, yang akhir-akhir ini dipopulerkan oleh sosiolog Inggris, Anthony Giddens, yaitu sebagai “Jalan Tengah” antara Kapitalisme dan Sosialisme. Sedangkan pada negara berkembang, koperasi dijadikan sebagai mitra negara yang turut membantu perbaikan roda perekonomian rakyat. Walaupun demikian, tujuan dan fungsi koperasi di masing-masing negara tidaklah berbeda, yaitu sama-sama mengusahakan kesejahteraan anggotanya.

Namun, tidak bisa dipungkiri kenyataannya pada koperasi Indonesia saat ini masih belum begitu efektif dalam mensosialisasikan dirinya secara menyeluruh kepada masyarakat. Padahal saat ini kita telah memasuki era globalisasi yang sedikit banyak koperasi memiliki pengaruh terhadap kondisi ekonomi di negara ini. Hal ini karena era globalisasi adalah pintu gerbang bagi semua negara-negara di dunia untuk melakukan perdagangan bebas. Naik turunnya perdagangan internasional berupa fluktuasi ekspor dan impor akan turut mewarnai wajah perindustrian negeri ini, karena globalisasi bisa berdampak positif dan juga negatif. Contohnya, jika barang impor terlampau menguasai pasar lokal / domestik, maka devisa negara akan berkurang karena hal ini sama saja mematikan industri domestik. Sebaliknya, jika Indonesia mampu mengembangkan diri dan terus belajar untuk menjadi lebih baik dengan mengutamakan produk dalam negeri, koperasi nasional sangat berpeluang besar untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri dan mempunyai prospek cerah dalam pasar ekspor yang nantinya akan menambah devisa negara dan tentunya akan menggairahkan produsen dalam negeri untuk terus berkarya. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi para penggiat koperasi. Karena jika kita dapat memanfaatkan peluang ini dan terus berkarya menciptakan produk-produk inovatif yang berkualitas, tentu kita dapat memajukan koperasi nasional. Khususnya untuk perkoperasian Aceh yang saat ini masih jalan ditempat.

Awalnya perkoperasian di Aceh mendapat semangat lebih oleh para penggiatnya. Namun dalam perjalanan perkembangannya, semangat itu tidak didukung oleh pengalaman serta dedikasi dan kreatifitas tinggi untuk membuat koperasi lebih inovatif dalam memasarkan produk-produknya. Produk-produk dari perkoperasian Aceh lebih cenderung monoton atau itu-itu saja. Sehingga dapat dipastikan akan menimbulkan kejenuhan dan menurunkan minat pasar terhadap produk-produk yang ditawarkan. Kondisi ini terjadi karena pemerintah Aceh melalui dinas teknisnya dalam hal ini Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Aceh, tidak pernah melibatkan gerakan koperasi dalam kegiatan yang dilakukan. Pemerintah Aceh juga hanya mengandalkan pada modal uang saja yang berasal dari APBD, tanpa memikirkan apa yang sebenarnya diperlukan oleh gerakan koperasi. Tentu hal ini bukan langkah yang tepat. Walhasil, Kondisi default akan terjadi, di mana uang pinjaman koperasi yang telah diberikan tidak kunjung disetorkan ke kas daerah. Model yang diterapkan dalam pembangunan koperasi di Aceh pun juga tidak menganut sistem model koperasi dari daerah lain atau negara lain, sehingga sistem pembangunan perkoperasian di Aceh cenderung ‘aneh’, karena ingin tampil dengan konsep sendiri, tapi sayangnya diluar jalur yang wajar.

Oleh karena itu, sudah saatnya para muda-mudi Aceh ikut andil dalam memajukan perkoperasian di tanah Meutuah ini. Karena generasi muda adalah generasi yang dapat berpikir cerdas dan kreatif untuk menciptakan suatu produk yang inovatif yang dapat bersaing dalam pasar global. Inovasi pada produk yang ditawarkan akan menjadi nilai khusus dalam menarik minat pasar. Dengan peran serta generasi muda ini, otomatis dunia perkoperasian di Aceh akan kembali terdongkrak, karena generasi muda Aceh mempunyai potensi besar pada perkembangan koperasi dalam meningkatkan mutu dam kualitas produk. Pemerintah Aceh juga harus menyadari ini, dengan menjadikan generasi muda Aceh sebagai proyek jangka panjang yang dapat membantu perkembangan koperasi kedepannya. Pemerintah harus bisa mengubah Mindset para pemuda yang beranggapan koperasi itu hanyalah badan sosial dan usaha yang tidak bisa menjamin kehidupan. Padahal koperasi bisa lebih menguntungkan dan perkembangannya bisa lebih cepat dari sebuah perusahaan, apabila ditangani oleh profesional. Bisa kita ambil contoh sederhana tentang apa yang bisa dilakukan pemuda Aceh untuk perkoperasian.

Jika dalam satu mesjid didirikan satu unit koperasi remaja mesjid, koperasi tersebut dapat beroperasi dalam hal penjualan alat-alat Ibadah yang dapat dipasarkan dilingkungan mesjid, para anggota koperasi juga dapat membuat dan menampung produk – produk yang ditawarkan, baik dari para anggota koperasi itu sendiri maupun dari masyarakat sekitar lingkungan. Agar dapat menarik minat pasar, produk-produk kreatif nan unik harus senantiasa dipromosikan, seperti tasbih yang terbuat dari kulit kerang, atau alat penunjuk baca Alqur’an dari daun rumbia, dan sebagainya. Hal ini tentu menjadi motivasi bagi kalangan remaja mesjid lainnya untuk menjadi perkumpulan remaja keagamaan yang mandiri.

Hal ini akan menjadi mudah karena kompetisi modern memang tidak dapat dimenangkan sendirian. Karena itu, aliansi sangat dibutuhkan untuk menjamin adanya sinergi kemasyarakatan. Bersaing atau berada di tengah-tengah persaingan dalam era global merupakan perilaku normal dari badan usaha dalam merebut pangsa pasar. Bekerja sama adalah perilaku luar biasa dari sebuah badan usaha yang mutakhir. Oleh karena itu, semua pemikiran haruslah berdasarkan pemikiran segar para pemuda, serta dibimbing oleh tetua yang kaya akan pengalamannya. Agar tercipta kesinergisan antara yang tua dan yang muda dalam menjadikan perkoperasian yang inovatif dan menguntungkan. Karena kemajuan untuk mencapai suatu tujuan itu berawal dari hal kecil; Semangat Kebersamaan. (Dian Fakhrizal)