Aminah tengah melayani langganannya anak-anak SMP Negeri Arun Lhokseumawe


Semangatnya tampak jelas terpancar dari balik wajahnya yang kian tua. Hari-hari dilaluinya dengan sepeda bututnya berjualan makanan ringan. Ia bahkan tak peduli manakala orang-orang yang ditemuinya ada yang mulai mencibirkan …… “Kita kan jualan, Pak, orang kita nggak nyuri kok, mengapa kita harus malu, ya kan, Pak?”  katanya suatu hari.

Begitulah hari-hari yang dilalui Aminah ketika menjajakan makanan ringannya. Hari itu Selasa (20/12) siang dia gembira sekali, sejak pukul sepuluh wanita itu telah berjualan. Sesekali  dia tampak  mengelap tubuhnya yang berkeringat. Ntah mengapa begitu, nggak ada yang tahu, kecuali dirinya sendiri. Ya hari itu dia sedang gembira. Banyak anak yang membeli dagangannya. Ada yang membeli kerupuk, bon-bon, cokelat, minuman jelio, mie gema, roti, kacang jagung, dan es.  “Hitung-hitung, bantu anak-anak ini, Pak, kasihan mereka, dah siang, nggak ada makanan,” ucapnya dengan gembira di depan sekolah SMP Negeri Arun.

Aminah mulai berjualan makanan begituan ya sudah lama sih. Awal tahun 1990 lalu. Waktu itu masih di SD 1 jalan Sei Gerong PT Arun, PT Arun masih ramai-ramainya,  nggak seperti sekarang ini,  yang laku pun sedikit, Pak. Dari SD 1 Tamansiswa, SD 2, SD 3, dan SMP seperti saat ini. Sekarang, untung nggak seberapa, ya sekitar cukup makan dan sekolahkan anak-anak, yang penting kita syukuri aja, Pak, ungkapnya pada haba Rakyat ketika mengajaknya berbincang-bincang.

Minah yang kini tinggal di Lr Sinar Selatan 3 Dusun B Batuphat Timur hidup dengan lima orang anak- anaknya, anak  sulungnya telah berkeluarga,  sementara yang empat lagi masih banyak perlu biaya. Makan juga kalau dulu, sehari baru makan, modalnya cuma 500.000,00, itu pun pinjam sama orang. Sekarang sudah lunas semuanya. Dikit-dikitlah, dikumpul, diapai untuk makan, dan sama bayar sekolah anak-anak.

Wanita kelahiran 1966 ini, ketika ditanya apa nggak ada niat pinjam modal sama orang Arun? Wah, malu saya, Pak. Orangnya gede-gede, lebih baik tidak usah, nanti jualan hanya mikirkan bayar orang, nggak pikiran bayar sekolah, syukur-syukur nggak diusir, ujarnya

Hari itu dia melayani pembelinya dengan ramah. Memang Wawak ini pandai berdagang, pintar menarik minat pembeli. Kami senang ada wawak di sini, barang yang dijual tidak ada di kantini sekolah, ramah lagi baik, jujur lagi, ujar Inas Salsabila ketika ditanya seputar Bu Minah. Lagi pula merasa kasihan, orangnya baik, lagi pula harganya seribu semua, tolongin kami dia, Pak ! sambung Riska Aisha Mastura.

Memang rezeki nggak kemana. Tiap jualan dihiasi dengan mendekatkan diri kepada Allah, niscaya hidup ini berarti, yang penting kejujuran harus kita miliki, kalau nggak, mustahil kita peroleh semuanya. Masalah untung atau nggak, ya tergantung Allah saja, kita cuma nerima, ujarnya berdiplomasi layaknya seorang ustazd.