Muhammad Al Hayadi si cilik juara Motor Cross Class Special Engine 65 CC yang dikenal kalangan IMI dengan sapaan Al Hadi


Segudang prestasi, segudang ambisius, dan segudang piala kejuaraan didapat  bukanlah hal mudah diraih. Banyak rintangan dan hambatan yang harus dilewati remaja cilik ini. Mulai dari latihan sampai persiapan perlombaan dia lahap dalam usia yang terbilang muda, 8 tahun.  Kita bisa bayangkan, anak usia sekecil dia membawa honda balap, kakinya belumlah sampai menginjak pedal. Aneh itulah dia, Muhammad Al Hayadi Yoenan  menunjukkan dirinya  jadi yang terbaik di  berbagai kejuaraan motor cross class special engine Usia 8 – 15 tahun untuk daerah Provinsi Aceh dan Sumatera Utara

Ketika ditemui di kediamannya Kamis (10/11) di jalan Rel Kerea Api Dusun B Batuphat Timur, Al Hadi kawan-kawan di IMI Lhokseumawe menyapanya, tampak seperti anak-anak kecil lainnya, bermain kelereng, bola kaki, patok lele, lari-lari  dengan adik kecilnya Zakia Balqis, dan teman mainnya. Anak yang tidak banyak bicara kalau tidak ditanya. Tidak sama seperti kalau sedang di arena balap, ganas, lugas, dan tentunya kemenangan jadi impian.

Ditemani ayahnya Muhammad Yoenan dan sang ibu Farnila, Al Hadi kelahiran Batuphat, 02 Juli 1999 mengisahkan dirinya bisa merajai motor cross class special engine 65 cc. Awalnya dulu, Al Hadi sering dibonceng abang-abang tetangganya  seorang pembalap liar, sering dibawa ngebut ke Rancong, ujarnya.  Mengetahui kebiasaan anaknya walau usia baru sekitar 5-6 tahun yang tiada takut dibawa ngebut, ayahnya yang seorang pedagang bakso di Batuphat mulailah mengajarinya  naik sepeda motor. Daripada jadi pembalap liar ya lebih baik jadi pembalap sungguhan.

Sejak saat itu, Al Hadi kecil yang merupakan adik Dinda Selvia atlet Taekwondo dan bercita-cita jadi pembalap profesional ini, tekun menimba ilmu dari ayahnya tercinta,  seperti latihan fisik setiap sore harinya. Sekarang ini siswa kelas VII SMP Negeri 6 Lhokseumawe, latihan sore hari kalau sekolahnya pagi, sekolah sore latihan fisiknya pagi. Latihan handgrib untuk menguatkan tangan, push up, sit up, dan renang. Latihan balap setiap Minggu di Rancong, ya minimal satu bulan empat kali. Tanpa itu semua mustahil kejuaraan bisa diraihnya.

Untuk menjadi orang nomor satu Al Hayadi harus bisa menjadi dirinya sendiri, jangan cuma ikut-ikutan sama orang lain, jadilah terbaik untuk diri sendiri. Kalau nggak menang, besok hari nggak boleh ikut balapan lagi. Kata-kata ibunya itulah yang diingatnya terus sewaktu balapan, sampai akhirnya tercapai.

Usahanya mengukir prestasi dalam dunia balap patut jadi contoh rekan-rekannya yang lain. Balap sudah ditekuninya sejak kelas satu SD  Negeri 2 Muara Satu, dan untuk evan balapan motor cross sudah diikuti si kecil yang berhobi balap motor ini  kelas 4 SD class engine 65 cc kelompok umur 8-15 tahun. Itu belum mendapat nomor, baru ikutan saja. Tahun kedua, baru Al Hayadi berhasil meraih posisi 4 di Kejurnas motor cross di Rancong Lhokseumawe, kejuaraan yang mengawali kejuaraan lainnya.

Beberapa kejuaraan yang diikuti di antaranya a) kejuaraan yang diadakan tahun 2008, juara I Dan Satrad 231 Cup I tanggal 23/24 Agustus di Lapangan Sirkuit Motor Cross AURI Bukit Rata, juara I tropi Bupati Aceh Utara, juara II Danlanud Iskandar Muda tanggal 9/10 Agustus Sirkuit Motor Cross Blang Bintang Banda Aceh, juara II motor cross Subussalam Aceh Singkil,

b) kejuaraan tahun 2009, juara I motor cross Langkahan Cup Champion Aceh Utara, juara I Rajawali Cup NAD-Sumatera di kabupaten Aceh Timur, juara II kejurda seri II Langsa,

c) kejuaraan motor cross tahun 2010, juara I motor cross Dandim Open Grass Track 18/19 Desember di lapangan Sirkuit Bireuen, Juara I Kejurda seri I Paru, Pidie Jaya, juara I Kejurda IV Takengon Aceh Tengah, juara I motor cross Kejurnas  Region Sumatera di Langsa, juara I Super Grass Track di Pante Breuh Aceh Utara, juara I Putra Jeumpa Grass Track Bireuen, juara II motor cross Open Muspika Kecamatan Baktia, juara II motor cross Sigli Open Grass Track 7 Februari, dan juara II motor cross ulang tahun kota Banda Aceh.

Meskipun telah banyak gelar kejuaraan diraih, tidak membuat anak kedua dari tiga saudara ini menjadi tinggi hati. Remaja cilik ini pun berhasil menduduki rangking 10 besar di kalasnya meskipun tidak selalu nomor satu. Baginya sekolah dan balap nomor satu. Hidup tanpa ilmu dan mencoba, tiada artinya. Juara tanpa latihan yang memadai, mustahil kita raih. Yang penting, satu hobi jika ditekuni, keberhasilan akan diraih kemudian. Semua diraih bersama-sama antara kemauan, usaha, kerja keras dari pemerintah dan diri kita tentunya.