Fathan Qaedi (berdiri nomor 3 kiri) fato bersama Ketua Panitia LPIR 2011 dan finalis lainnya sesaat setelah pemberian hadiah kepeda pemenang


Di tengah kondisi  tak menentu, terutama merosotnya dunia pendidikan di Aceh jika dilihat ranking di Indonesia, serta masa transisi dari sekolah Yapena berubah menjadi negeri, ternyata mampu  melahirkan cikal bakal yang dapat mengharumkan nama daerah di kancah nasional. Dia adalah seorang pelajar rendah hati dan suka curhat pada orang pilihannya yang betul-betul diyakininya mampu di bidangnya. Orang-orang kerap memanggilnya Fathan Qaedi si Peraih Emas Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) di Solo dari 3-8 Oktober 2011.

Menurut informasi yang disampaikan Mulyo, S.Pd selaku pembinanya pada haba Rakyat mengatakan Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) merupakan ajang untuk meningkatkan kreativitas anak bangsa khususnya remaja. Lomba ini diawali dengan mengirimkan karya masing-masing dan diterima panitia berjumlah 1116 buah dari seluruh Indonesia.

Dikatakan beliau, dari jumlah tersebut panitia hanya mengambil 106 karya yang terdiri dari bidang IPA 46, IPS 33 karya, dan teknologi sebanyak 33 buah. Siswa yang lolos dalam seleksi ini diundang ke tingkat nasional untuk mempertahankan karya masing-masing di depan juri yang bertitel profesor. Sebagian besar dewan juri tersebut merupakan mantan jawara karya ilmiah, selain tergabung sebagai anggota LIPI.

Setelah berjibaku dengan peserta lainnya, Fathan Qaedi yang juga siswa SMP Yapena (sekarang SMP Negeri Arun) Lhokseumawe setelah dibimbing langsung dari gurunya Mulyo S.Pd. telah berhasil merebut medali emas untuk bidang IPA, sedangkan Puspa siswi SMP Negeri 1 Langsa dibawah bimbingan Erwin S.Pd. berhasil meraih perunggu.

Dari tiga orang peserta yang mewakili remaja di Propinsi Aceh, telah berhasil membawa pulang 2 medali yakni emas dan perunggu. Prestasi ini patut diacunkan jempol karena duta-duta Aceh ini telah mengharumkan nama Aceh di kancah nasional.

Semmentara itu, Fathan demikian teman-temannya memanggilnya, selain tekun seperti yang diperlihatkannya di kediamannya Jalan Balikpapan nomor 5 Lhokseumawe, juga termasuk lelaki yang menggeluti hanya satu di bidang pertanian, khususnya tanaman Klengkeng.  Sedari kecil ia sudah mengenal tanaman yang satu ini.

Berbicara pada haba Rakyat di kediamannya, anak bapak Yusra Ibrahim dan ibu Nurlaili ini mengatakan memang benar menggeluti tanaman jenis Klengkeng. Lihatlah, di kediamannya banyak tumbuh aneka jenis tanaman Klengkeng. Tidak hanya itu, orang tuanya pun yang mengetahui kemauan keras si anak dan  menghadiahkannya ladang Klengkeng sebanyak 7 rante, khusus Klengkeng dataran rendah dan dataran tinggi.

Dari kerja kerasnya itu, anak kelas IX SMP Negeri Arun telah berhasil mengukir prestasinya yang spektakuler. Fathan meraih juara pertama dan mendapatkan emas dalam LPIR tingkat nasional 2011 dengan judul “Kiat Sukses Budidaya Klengkeng Tekhnik Sambung Sisip”, yang mana mengenai perbanyakan tanaman Klengkeng menggunakan tekhnik sambung sisip.

Sambung sisip selama ini sering digunakan pada perbanyakan tanaman kakao, hal tersebutlah yang membuta agrabisnis muda ini mencoba sambung sisip pada tanaman Klengkeng. Dengan metode itu, ia berhasil mengharumkan nama Aceh sebagai peraih nilai tertinggi dalam Lomba Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Nasional 2011. Lawan yang dihadapi pun cukup berat, orang dari seluruh Indonesia. Lagi pula, penelitian itu saya lakukan sejak saya kelas lima SD. Orang tua juga mendukung, menyediakan fasilitasnya,  ujarnya.

Atas keberhasilannya tersebut, pemerintah seharusnya tidak tinggal diam. Pasalnya pemerintah daerah tidak memberikan bimbingan secara khusus kepada 3 orang putra putri Aceh yang ikut lomba di Solo. Fathan dari Lhokseumawe, sedangkan 2 orang lainnya dari Langsa. Sudah seharusnya pemerintah maupun pemerintah daerah memberi perhatian lebih kepada putra putri Aceh yang berprestasi pada bidangnya masing-masing

Pada yang masih muda dia berpesan kita harus meniru dari daerah lainnya yang pesertanya lebih dari 5 orang sedangkan kita hanya 3 orang saja, demikian Fathan mengakhiri dengan sedikit berharap.