Bang Ramli tengah melayani pelanggannya di pasar Batuphat


                Pedagang sate zaman sekarang sungguh berbeda dengan pedagang sate zaman dahulu. Nggak perlu muter keluar masuk desa, keliling-keliling memeras keringat, memanggil pelanggan dengan sate……sate………. Cukup duduk muka manis, pelanggan sudah datang berkunjung. Yang penting kita harus ramah sama pembeli, jangan pasang muka masem, dan yang lebih penting kita harus jujur, ucap Bang Ramli mengomentari seputar dagangannya.

Lelaki yang telah dikaruniai 3 orang anak yang semuanya lelaki ini sudah lama berdagang sate, sate sudah menjadi bagian hidupnya. Rasanya kalau tidak berdagang sate, nggak enaklah, nggak banyak orang yang datang, maklum sajalah, pelanggan nanti bisa lari

Ketika ditemui di Pasar Batuphat pada Rabu malam (8/6), beliau tengah melayani pembelinya, raut mukanya tampak segar saja, badannya pun tampak subur. Dengan kaos putih yang melekat di tubuhnya, Bang Ramli menyempatkan diri berbincang-bincang berbagi pengalaman seputar dagangannya yang hingga kini masih tetap laris.

Sejak tahun 2000 hingga saat sekarang, pedagang yang ramah ini masih berdagang sate. Hitung-hitung telah 11 tahun lebih ia menekuni pekerjaannya. Ini bukanlah waktu yang singkat untuk memajukan usahanya yang dirintis dengan susah payah.

Pagi-pagi, ia membeli bahan yang dibutuhkan seperti daging kambing, ayam, dan bumbunya untuk berdagang sore hari. Setelah daging dan ayam diperoleh , kemudian bahan itu diolah sendiri di rumahnya di lorong Mawar no 9 Batuphat Timur, Lhokseumawe. Bang Ramli dagang sate dari pukul 15.30  hingga 23.00 malam.

Sekarang ini Bang Ramli dagang sudah tidak sendirian, sudah ditemani istrinya Jamilah jualan putu bamboo. Tepat disebelah dia jualan. Terkadang ditemani anaknya Dimas yang SMA sehingga agak ringan sediit.

Setiap harinya pelanggan datang pada sore menjelang malam hari. Lebih banyak kalau pas hari libur, nggak hujan. Ya habis ashar, magrib, atau isya. Umumnya mereka memilih sate padang, sate kacang, atau sate ayam, dan daging. Daging kambing, ayam, tersedia di almari kaca gerobaknya, sehingga pelanggannya bebas memilih mana yang disuka. Selain menyediakan makanan buatannya, Ramli juga menjual es campur untuk obat pelepas dahaga.

Ya hari itu memang banyak pelanggan yang datang ke tempatnya dagang. Dengan cekatan pula Bang Ramli melayaninya. Tetapi untungya, mereka pelanggan yang telah terbiasa dengan keadaan seperti itu, sehingga tak ada rasa lelah sedikitpun di wajah Bang Ramli.

Ketika ditanya keuntungannya, lelaki kelahiran 1969 itu mengatakan kalau hari baik, ya untungya hanya bisa mencapai 300 ribu rupiah, tapi sekarang ini pembelinya sudah mulai berkurang, karyawan pun sudah mulai sedikit. Menjelang tengah malam, ia pun kembali ke rumahnya untuk beristirahat sehingga esok hari segar kembali.

Itulah gambaran sosok Ramli yang akrab disapa Bang Ramli AD si penjual sate, di Pasar Batuphat yang selalu mengiasi hidupnya dengan keramahan bagi semua orang.