Manusia dan orang adalah dua kata yang memiliki kemiripan makna. Namun sesungguhnya berbeda. Perbedaan itu terjadi disebabkan adanya perbuatan yang dilakukan oleh keduanya sungguh berbeda. Kata manusia mengarah kepada perbuatan yang positif, halus, dan memiliki nilai tinggi, tetapi perkataan orang lebih cenderung pada hal yang tidak manusiawi, tidak bisa diterima akal sehat, dsb.

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang diberi akal dan pikiran. Dengan akalnya itu manusia dapat berbuat sesuai kata hatinya. Manusia juga  memiliki kelebihan dan keistimewaan  dari makhluk yang lainnya, namun bukan berarti paling  hebat dan berkuasa. Kelebihan itu diberikan Allah kepada manusia sehingga dapat membedakan dan memikirkan segala ciptaan-Nya, manusia yang memang benar-benar manusia adalah mereka yang bertindak dilandasi nilai rasa manusia. Yang pasti, manusia adalah mereka yang sudah dapat mengendalikan dan membebaskan diri dari rasa takut. Takut untuk tidak dapat mempertahankan hidup, takut tidak dapat rezeki dsb.

Dalam perjalanan hidupnya, manusia bergaul di tengah masyarakat dengan segala bentuk tindak perbuatan  dan memperoleh pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh negatif yang didapat manusia dalam hidupnya akan mengarah kepada problem hidup yang dihadapi. Baik yang menyangkut diri sendiri dan keluarga, maupun kepentingan pada khalayak ramai. Bila permasalahan hidup yang ditemui manusia dan  tidak dapat diatasi secara tuntas dan cepat, maka manusia berubah jadi orang. Segala macam bentuk tingkah ditampilkan, tidak lagi mengingat mana halal dan mana pula haram, dan yang lebih parahnya mereka telah melupakan nilai kodratnya sebagai manusia. Percaya atau tidak anda sendirilah yang menilainya.

Zaman kini sudah jarang kita temui yang namanya manusia, kebanyakan orang. Tidak  percaya…? Lihat saja sendiri. Orang banyak yang menuruti kata hatinya yang telah dikendalikan oleh hawa nafsu. Mereka berangan-angan yang macam-macam, angannya itu setinggi langit, berlomba-lomba meningkatkan taraf hidup dengan mencari kekayaan, yang tidak akan pernah merasa puas, padahal hartanya telah berlebih dan mungkin pula bisa menghidupi tujuh keturanan, dan tidak ingin sengsara atau  menderita karena takut rezekinya hilang.

Karena turuti hawa nafsu dengan segala aktivitas yang banyak mengumbar waktu, banyak cara yang ditempuh orang untuk mendapatkan keuntungan yang berlebih. Usaha yang dilakukan tidak lagi mencerminkan perbuatan manusia, tidak lagi memperdulikan larangan Allah, tidak pula memperhitungkan halal dan haram. Yang terpenting bagi mereka adalah hasil yang dapat membanggakan, memuaskan, dan mengenyampingkan kepentingan sesama.

Kekerasan dan kezaliman merajalela, akhirnya jasmani jadi korban. Jasmani jadi sakit. Jika dibiarkan kebiasaan buruk  dan mengikuti nafsu mewarnai kehidupan, maka batin pun ikut sakit juga. Hidup jadi tak nyaman lagi, hati gundah menjadi-jadi,  lupa kepercayaan diri pada Sang Pencipta karena terombang ambing akan kegiatannya sendiri. Oleh karena itu, bila kita mau menyadari,  seharusnya mengembalikan diri ke asal semula, kembali untuk menjadi manusia seperti janjinya pada Rabbul Izzati saat mula kali ia diciptakan.

Suatu saat pun nanti kita akan kembali ke asal semula. Tidak ada yang tetap di dunia ini. Semua makhluk akan mengalami yang namanya mati. Untuk dapat merintis  jalan itu, hanya ada satu cara, yaitu melalui pendidikan agama. Hanya saja dalam ajaran agama ada tingkatan dari syareat, tarekat, hakikat, ma’rifat, dan ma’rifatullah.

Sebelum kembali kepada Allah, lebih dahulu kita harus mengenal diri kita ini siapa, untuk apa, dan mau ke mana. Sesuai hadist: Sebelum mengenal Allah, kenalilah dirimu sendiri lebih dahulu.

Sekarang kita bertanya, siapa diri kita sebenarnya, manusia ataukah orang ? Kalau secara jujur kita mau mengakui masih orang, maka segeralah kembali jadi manusia yang mengenal dirinya.

 

Selain nafsu dan rokh, pada dan dalam diri manusia terdapat dzad, nur, dan sir. Itulah sebabnya bila manusia yang hendak mati menghembuskan nafas 3 kali.

Dzad dan sir ada di nyawa dan darah membawahi nafsu amarah dan luamah. Sedangkan nur ada di sukma membawahi nafsu sawiyah dan mutmainnah.

Dzad pada diri manusia dapat dibuktikan adanya angan-angan. Angan-angan ada yang positif (untuk membuat rencana) dan negatif (yang harus ditindas). Angan-angan yang posistif perlu disaring dan disesuaikan dengan kemampuan. Kalau sudah sesuai, baru ditingkatkan untuk membuat rencana. Jangan sampai kita dikuasai angan-angan sehingga kita bertindak nekad, membunuh, merampok, dan sebagainya untuk mendapatkan sesuatu (dzad mempengaruhi sir) dan sir menggerakkan nafsu untuk melakukannya.

Ketahuilah tidak ada manusia yang berangan-angan hidup sengsara tetapi menghendaki hidup yang enak, cepat, murah, dan berhasil. Karena adanya dzad maka manusia selalu menginginkan yang lebih dan merasa tidak puas. Untuk  membendung dan menyaring dzad maka nur harus berfungsi. Fungsi nur agar dzad tidak mempengaruhi sir. Sebab bila sir terpengaruh, maka nafsu berperan. Yang menjadi korban pasti jasad /  jasmani / raga. Tetapi yang jadi korban tidak selamanya jasmani, melainkan dapat pula batin.

Padahal menurut firman Allah “Tinggalkanlah dosa lahir dan batin.” Kalau manusia tidak meninggalkannya, niscaya hidupnya akan terkena problem lahir dan problem batin. Akhirnya penyakit  lahir dan batin timbul.

Dosa lahir ialah perbuatan dosa melanggar larangan Allah yang dapat diketahui orang lain, sedangkan dosa batin adalah perbuatan melanggar larangan Allah yang tidak dapat diketahui oleh orang lain, melainkan dirinya sendiri dan Allah, seperti: mengeluh, menyesal, duka cita, putus asa, tidak puas, merasa lebih, pamrih, tidak ikhlas, kecewa, tak berterimakasih / bersyukur, gembira, dan mimpi.

Jika setiap dosa tak dapat dihapus, namun dapat diimbangi dengan amal. Yang diterima Allah hanya taubat dari manusia. Karena ada dosa lahir, maka ada amal lahir. Ada dosa batin, maka ada amal batin.

Jika setiap orang yang selama ini hidupnya lebih banyak dipengaruhi oleh hawa nafsunya, dengan menunjukkan arogansinya, mengikuti keinginan yang menggebu-gebu, bertindak tidak sesuai dengan hakikat nuraninya, maka cara yang harus dilakukannya agar menjadi manusia seperti semula adalah dia harus meninggalkan sifat jeleknya itu dan menghiasi dirinya dengan sebenar-benarnya mendekatkan diri pada Allah, mempelajari dirinya, dan memikirkan apa yang telah dan akan dilakukan anggota tubuhnya baik lahiriyah maupun batiniah.