Kak Udin Pelor si Harmonika Ajaib


                Siapa yang tak mengenal Kak Udin? Sebagian orang-orang yang berkecimpung di dunia Pramuka (dulunya pandu) untuk wilayah Aceh Utara, Lhokseumawe, bahkan Langsa, tentu kenal dengan sosok yang satu ini. Gaya bicaranya yang membuat orang teringat akan dia. Suaranya yang memiliki kekhasan, disiplin, dan senantiasa ramah pada siapapun, membuatnya lebih dikenal orang lain. Ya tua dan muda pasti kenal pada orang yang memiliki sikap yang tetap dipertahankan hingga saat ini

Kak Nurdin kelahiran di Kutaraja 12 Maret 1951. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di kota Lhokseumawe.  Tak heran, logatnya pun begitu kental dengan nuansa keacehan. Dia sangat supel dan mudah bergaul. Terkadang dia pun heran, mengapa bisa begitu. Baginya yang penting hidup ini harus dihiasi dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah. Kalau ikhlas, ramah, orang pasti senang.

Ketika haba Rakyat berbincang-bincang dengannya Minggu (24/4) dan menanyakan sejak kapan Kak Nurdin mengenal pramuka, lelaki gempal itu pun mengatakan kalau ikut pramuka sudah lama, sudah sejak tahun 1955, ketika itu dia masih mengenakan seragam yang namanya Gajah Putih tingkat siaga waktu itu. Dulu namanya pandu, tepatnya pandu darat. Topi yang dikenakan pun masih topi powel atau rimba. Dulu kalau kemping ia naik kereta api, soalnya tidak ada kendaraan. Baru tahun 1961 dilebur namanya jadi pramuka.  Masa itu sungguh beda sekali dengan yang namanya pramuka zaman sekarang.

Waktu itu sekitar tahun 1967 beliau pindah ke kota Langsa. Di sana dia mengembangkan bakatnya dalam  kepramukaan. Sejak saat itu beliau mulai turun ke desa-desa, mengimbau, mengajak anak-anak desa bahkan orang tua agar memasukkan anaknya ke dalam pramuka. Dan Kak Udin bertindak sebagai Pembina siaga.  Usahanya itu akhirnya membuahkan hasil sampai terbentuk pramuka wilayah Langsa dengan Kwarcabnya Sultan Bagindo.

Kak Udin Pelor begitu kalangan pramuka menyapanya, tidak cuma hanya mahir di pramuka, tetapi pernah ikut sandiwara Sinar Jempa. Di sini kebagian banyak peran. Bisa peran antagonis dan protagonist. Pokoknya, antara dunia pramuka dengan dunia sandiwara nggak jauh beda. Kemahirannya memainkan alat music Harmonika membuatnya semakin tenar. Namun begitu, kesederhanaan tetap menggeluti hidupnya.

Di usia yang makin senja, Kak Nurdin terus berpacu dengan kegiatan kepramukaannya. Pembina yang telah mengikuti KMD 1, 2, 3  1973 ini, tetap eksis dengan bidang pramuka yang telah menempanya seperti sekarang ini. Dia tetap hadir membina pramuka meskipun tak menerima gaji. Bukan tenaga honorer yang tiap bulannya terima gaji, tidak, semua dilakukannya dengan ikhlas semata.

Sesekali ayah 5 anak ini menghela nafas panjangnya mengingat perjalanan dirinya terjun ke dunia pramuka. Tahun 1978 dia kembangkan sayapnya balik ke Lhokseumawe. Di PT Arun dia menjadi Pembina pramuka siaga bertahan sampai tahun 1990, PIM, Asean, dan sekarang Sawang Aceh Utara. Dia ingat betul, waktu itu Mabidanya masih Muzakir Walad, dia sebagai salah satu yang ikut meletakkan dasar kepramukaan hingga terbentuk saka-saka.

Itulah dia Kak Nurdin yang dibesarkan Pramuka. Sebagian hidupnya ia isi dengan pramuka. Hari ke hari sebagai anggota pramuka sejati, 55 tahun sudah digelutinya, meski tanpa pernah dibayar toh yang penting dapat membahagiakan adik-adiknya di kepramukaan. Sampai kini aktif sebagai Pembina Pramuka di pramuka SMP dan SMA yang sekarang ini tinggal di Sawang Aceh Utara. Akankah yang lainnya mengikuti jejaknya?