Guru Yapena adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan berkualitas yang tidak diragukan lagi keberadaannya. Disiplin tinggi, jam mengajar sampai sore hari. Semua telah memiliki format pendidikan yang baik, yaitu guru yang telah professional, dan telah mengikuti berbagai kegiatan training pendidikan di lembaga pendidikan yang ada baik tingkat provinsi maupun nasional.

Saat  ini Senin (17/1) guru-guru Yapena banyak yang resah. Keresahan guru-guru Yapena yang berjumlah 113 orang, mulai terasa karena badan pengelolanya PT Arun akan melepas mereka ke pemerintah Aceh, Juli 2011. Bagaimanakah nasib mereka? Ke manakah mereka, statusnya? Usia mereka ini sudah di atas 45 tahun, masa pengabdian mereka sudah mencapai 30 tahun. Apakah mereka diterima yang usia di atas 45 tahun seandainya di negerikan sekolahnya?

Informasi yang kami terima dari wali murid yang status orang tuanya masih bekerja di PT Arun, sangat menyayangkan, rangking reputasinya termasuk rangking teratas. Apakah nantinya rangking ini masih bertahan bila sekolah ini dikelola pemerintah Aceh, seperti saat ini?

Diharapkan kepada pengelola PT Arun NGL untuk mencari solusi agar Yapena dipertahankan dengan mencari donator yang kuat karena kita banyak melihat sekolah swasta yang rangkingnya memuaskan. Bisa juga kita ambil contoh sekolah pertamina Rantau, P Brandan yang masih dikelola YKPP.

Awalnya Yapena ini pergantian dari Tamansiswa. Sekarang, masa Yapena, sekolah ini  telah kita ketahui kualitas yang cemerlang. Jebolan dari Yapena banyak muridnya yang lulus di perguruan tinggi seperti UI, ITB, Unpad, UGM dll. Apakah sekolah semacam ini akan hilang pamornya? Lemahnya menejement Arun di bidang pendidikan andaikan Yapena ditutup. Saatnya menejement Arun membenahi diri untuk kemajuan Yapena, serta membuka diri pada guru-guru Yapena untuk duduk satu meja membicarakan kelanjutan dunia pendidikan khususnya Yapena.