Umat muslim di dunia yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadhan setiap tahunnya kerap kali menantikan datangnya malam nuzul quran. Sebuah malam berisi kebaikan yang melebihi seribu bulan, malam yang penuh rahmat, maqfirah, dan ampunan. Malam peristiwa diturunkannya kitab suci Al Quran bagi rahmat sekalian alam. Selain itu, di malam tersebut turun beribu malaikat untuk memberi kabar gembira pada orang-orang yang senantiasa bertasbih dan bertahmid kepada Allah Maha Agung.

Pada malam itu, mulai dari meunasah, langgar, atau surau di pelosok desa, mesjid-mesjid yang ada di perkampungan dan kota, masyarakat berduyun-duyun menghadiri dan memadati tempat-tempat tersebut. Tujuannya pada malam keagungan tersebut mereka datang untuk mendengarkan siraman rohani dari para ustadz yang mengupas tentang makna dan kelebihan malam nuzulul quran. Namun, sampai sekarang ini, sudahkah masyarakat tahu betul, mengapa harus memperingati adanya nuzul quran.  Mengapa kita umat manusia menyebutnya Al Quran turun.  Bagaimana memahami Al Quran yang diturunkan Allah.

Semua jawaban yang diberikan sama, belum paham benar. Meskipun telah berjuta penceramah mengupasnya, toh masyarakat awam belum mengerti benar mengapa kita memperingati nuzul quran. Yang jelas, kita memang harus banyak belajar, mendengar, membaca, tentang agama kita sendiri, mengupas tafsir, dan bertanya pada orang yang lebih paham. Moga saja tulisan ini dapat mencerahkan pikiran kita yang masih terbelenggu dengan kenikmatan dunia, mulai membuka diri bagi kita untuk terus mencari dan menemukan apa sesungguhnya nuzul quran itu.

Mengapa  kita memperingati nuzul quran?

Setiap malam tujuh belas Ramadhan umat Islam di dunia berlomba-lomba untuk hadir di surau dan mesjid. Mereka kumpul dengan tujuan sama, menyimak uraian hikmah malam keagungan tersebut. Tak pelak lagi, tempat-tempat ibadah penuh sesak umat manusia. Ustadz-ustadz kondang pun hadir memberikan pengetahuan baru lewat cara masing-masing yang diiringi canda tawa yang menyegarkan suasana.

Ada beberapa hal yang disampaikan para mubaliqh tentang mengapa kita memperingati malam nuzul quran. Yang pertama dan paling esensial sekali adalah kita memperingati malam nuzul quran untuk mensyukuri segala nikmat pemberian Allah. Salah satunya adalah nikmat diturunkannya Al Quran bagi umat seluruh alam yang diterima Nabi Muhammad SAW. Al Quran yang agung, yang membuka jalan pikiran kita dalam bertindak, petunjuk untuk menjalankan hidup di dunia dan akhirat, penerang di kala hati sedang tertutup dengan segala tipu daya keduniawian, kedua; sebagai wujud keinginan kita memberikan penghargaan atas keterikatan kita kepada kitab suci Al Quran.

Dalam memberikan penghargaan tersebut, kini umat manusia di dunia telah banyak melakukannya dengan berbagai cara: pertama; masyarakat menganggap Al Quran itu sebuah seni bernilai tinggi, dengan memperdengarkan bacaan yang indah-indah ketika musabaqah tilawatil quran terlepas dari apakah yang membaca itu mengerti artinya atau tidak, kedua; Al Quran dipandang sebagai hal yang luar biasa, baik isi, maupun khatnya dalam bentuk kaligrafi, dan diperdengarkan ke segala penjuru dunia, ketiga; dipergunakan untuk meruqyah dan praktik perdukunan.

Intinya adalah manusia itu ingin mempertegas kembali atas komitmennya terhadap penghargaan pada Al Quran bahwa sebenarnya kita adalah makmum sedangkan quran sebagai imam.

Al Quran turun

Al Quran merupakan wahyu Allah Yang Agung yang diturunkan dari tempat yang tinggi, dari Zat Yang Maha Tinggi kepada hamba pilihan-Nya secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Diturunkannya Al Quran sebagai sebuah revolusi kehidupan bagi bangsa Arab di mana Allah ingin mengubah prilaku peradaban manusia yang telah menyimpang dari yang sebenarnya.

Waktu itu bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang menghargai tutur lisan namun mereka tidak bisa membaca, maka Allah ubah peradaban mereka menjadi bangsa yang bisa dan rajin membaca sehingga berkembang menjadi bangsa yang maju dan berpradaban.

Masa Allah turunkan Al Quran kepada Muhammad merupakan proses menjadi sebuah mushab. Prosesnya pun berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa yang terjadi di zaman itu.  Setiap   ada peristiwa  yang terjadi dan masyarakat tidak dapat mengatasinya, Allah tunjukkan jalan memecahkannya dengan menurunkan ayat-ayatnya, kemudian ayat-ayat itu dikumpulkan menjadi sebuah kitab yang dikenal hingga saat ini dengan nama kitab suci Al Quran.

Generasi Islam setelah Nabi Muhammad adalah generasi yang sudah kenal baca tulis sehingga banyak lahir penulis muslim yang dapat menyampaikan isi Al Quran itu kepada generasi berikutnya secara turun-temurun sampai saat ini.

Memahami Al Quran

Memahami Al Quran tidak hanya sekedar tahu hurufnya, bisa membacanya, atau tahu terjemahannya, tidak cukup hanya sampai di situ saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita memahami arti yang sesungguhnya dari kulimah-kulimah Allah tersebut dan mengamalkannya secara langsung dalam kehidupan.

Untuk memahami dan mengamalkan isi Al Quran sebaiknya dimulai dari diri sendiri, tidak cukup hanya ngomong saja, tetapi harus sudah pernah dilakukan sendiri, baru menyuruh orang lain berbuat. Jika kita tidak bisa melakukannya, hanya cuma bisa ngomong, lebih baik tak usahlah ngajari orang begini begitu. Karena Allah paling tidak suka pada orang yang bisa ngomong, tetapi dia tidak melakukan apa yang dibicarakannya, sebagai mana firman Allah dalam surat Ash Shaff ayat 3.

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”