Senja mengulas senyum mengajak jiwaku merenungkan seorang sahabat ketika di esde dulu. Burung-burung di luar pun menyanyikan lagu kerinduan. Semilir angin menggugah lembaran lamaku. Kenangan itu telah terkubur lama, namun masih melekat erat dalam dadaku. Kenangan yang penuh dengan bunga permainan masa kanak-kanak itu yang membuatku tidak bisa memejamkan mata siang tadi.

Adik-adikku, ketahuilah bahwa aku punya seorang teman. Sama dengan kalian yang punya teman banyak. Akupun begitu adanya. Dari sekian banyak temanku, tentulah ada yang membekas dalam jiwa. Teman yang menggoreskan pena dengan tindasan tinta emasnya. Teman yang tidak akan kulupakan dalam seumur hidupku.

Temanku punya wajah ayu nan rupawan. Tak pernah royal pada kekayaan. Sering membantu walau tidak diminta. Patenkan,  Dik ? Dialah sahabatku dalam suka dan duka waktu itu. Pergi pulang sekolah dan bermain selalu bersama, ibarat lepat dengan doanya.

Satu lagi yang kusenangi, dia itu rajin sekali beribadah dan membantu ibu adalah seharian kerjanya, disegani kawan dan lawan karena baik budi bahasanya. Waduh,  betapa bahagianya orang tua bila memiliki seorang anak yang mempunyai sifat seperti kawanku tadi.

Suatu hari saat pulang sekolah dan hujan rintik-rintik, kami berjalan beriringan. Seketika itu terlihat seorang temanku yang lain menerkam anak kecil yang hampir tersambar mobil. Si Kecil selamat, sedangkan kawanku itu mengerang kesakitan. Aduh, kasihan sekali adik-adik. Badannya penuh luka dan darah segar membanjiri tubuhnya. Orang-orang pada berkerumun mengelilingi temanku yang terluka, tetapi tidak untuk sahabat karibku. Dia segera menyetop becak guna mengantarkan temanku tadi ke rumah sakit.

Dengan pelan tapi pasti, teman karibku menjawab  setiap pertanyaan yang diajukan dokter kepadanya. Luar biasa, adik-adik. Sampai-sampai mengenai biaya yang di luar dugaanku tidaklah mungkin dijawabnya. Ternyata dugaanku salah besar, malah ia menjawab sejujurnya bahwa segala ongkos pengobatan akan diusahakan ditanggungnya sendiri. Sungguh mulia hatinya. Benar-benar ia anak yang setia kawan.

Tiba di rumah, Wira Andika Tulusanti segera mengguyur dirinya sebelum bapaknya kembali dari kantor. Dengan cekatan sekali ia menghilangkan noda merah yang melekat di badan. Selesai merias diri, kawanku segera berleha-leha di beranda depan sambil membaca buku disertai secangkir teh manis dan rebusan singkong.

Senja di ufuk barat mulai sedikit-sedikit merebahkan diri disertai nyanyian ayam kampung yang baru saja pulang dari merantau ke negeri tetangga. Siulan anak gembala sayup-sayup mengulas rasa simpati pada kita dengan kabar kambing-kambing telah siap pulang ke kandang. Begitu pula dengan bocah-bocah cilik teman sekampung. Mereka yang tadinya keluyuran, kini siap medaratkan kaki ke pondok tersayang. Anak-anak itu pada takut main di luar sebab magrib kan menjelang.

Setelah selesai makan malam dan shalat isya, Wira mulai dengan aksinya. Aksinya tidaklah sembarang aksi, melainkan aksi jempolan.

“ Ma………,Pa…….., jangan marah dulu ya ?” katanya pelan.

Ibu bapaknya heran tiada terbilang. Kedua pasang mata mereka menatap lain. Ada sesuatu yang hendak diutarakan, itu pasti.

“ Mengapa mesti marah, persoalannya saja belum jelas, Wir !”

Adik-adikku, bapak dan ibunya terlihat senyum mungkin mereka setuju.

“ Begini, Ma…….., Pa…….., siang tadi ada kecelakaan !”

“ Siapa ?” tanya ibu ingin tahu.

“ Teman Wira, badannya penuh luka.”

“ Lantas ?” tanya ayahnya agak kaget.

“ Ini, Pa !” Wira menyodorkan sebuah amplop kepada bapaknya.

Lelaki tengah baya itu pun membukanya dengan sedikit was-was  dan membacanya.

“ Apa Papa tidak salah baca, Wir ……?”

“ Wira yakin tidak, sebab surat itu dari dokter kan, Pa ….?” jawabnya enteng.

“ Wir, kita boleh saja menolong, tetapi ini kan banyak ??!! “

“ Justru karena itulah saya ingin meringankan derita teman, Pa !” kata Wira tegas.

“ Dua ratus ribu, dari mana saya dapat …..?!”  pikir papanya.

Adik-adikku yang baik hati. Teman ogut si Wira itu coba menenangkan papanya.

“ Jangan begitu, Pa……..! Ingat nggak, Papa pernah bilang bahwa kita harus dapat menolong orang lain yang………”

“ Meskipun itu biayanya besar ?! “

“ Ya, Pa !”  Wira menggerakkan kepalanya sedangkan kedua pengasuhnya hanya bisa menggelengkan kepala. Si Ibu terus menatap seakan ingin menembus dinding besar di depannya. Papa Wira juga begitu, namun anak yang teguh hati itu masih tetap tenang-tenang saja. Bahkan dengan tekun mengikuti segala perkataan ayahnya.

“ Pa, Ma, kita tidak boleh ingkar janji. Janji itu adalah utang. Kalau kita berutang, harus dibayar……..! Begitu yang sering saya dengar dari Papa dan Mama. Papa juga Mama tidak usah pusing, bingung, dan repot-repot. Yang saya minta cuma eh hanyalah persetujuan saja, bukan yang lain.”

Mereka tak bisa berkutik lagi. Keduanya mengangguk tanda setuju. Wira bergegas ke kamarnya. Kemudian………..

“ Ayo apa, adik-adik ?”

“ Minta pamit.”

“ Bukan.”

“ Jadi, apa ?”

“ Dia segera membuka celengannya di depan kedua orang tuanya.”

“ Wir………!” kata ibunya sembari menggeleng.  “Itu tabungan untuk biaya sekolahmu nanti.”

“ Tabungan segini, Ma, di depan Tuhan belum ada apa-apanya. Apakah akam Mama biarkan bila anak mama seperti itu ……..? Tidak bukan…..? Ma, saya akan berikan tabungan ini untuk biaya pengobatannya. Kasihan dia, rumahnya gubuk beratap rumbia dan tidak bersemen seperti rumah kita. Permisi, Ma, Pa !”  Wira mencium kedua tangan orang tuanya untuk kemudian bergegas ke rumah sakit.

Adik-adik manis, nyata benar kawanku itu orang yang budiman. Hatinya tulus ikhlas, ringan langkahnya, dan tidak pula mudah menyerah begitu saja. Semua rintangan ia hadapi dengan tenang setenang air dalam kolam. Riaknya tak begitu besar tetapi dalamnya kilat berkilauan. Buktinya, adik-adik. Di rumah sakit semua urusan itu mudah ia selesaikan.

Setelah sembuh dari sakitnya, Nita menjabat tangan Wira dengan linangan air mata. “ Terima kasih, Wir !”  Keduanya berpelukan bagai adik dan kakak.

Wahai pembaca yang budiman, Wira dan Nita dua sahabatku mengukir hidup ini dengan saling membantu. Mereka gigih belajar guna meraih cita-cita. Dalam meraih prestasi, keduanya bagai seteru tiada tara, tetapi dalam kesehariannya mereka itu bagai mutiara di dasar laut. Mutiara-mutiara cilik bersemayam di lubuk hati terdalam, menciptakan persahabatan abadi.