Hari ini jiwaku menerawang jauh ke belakang mengingat seorang sahabat sepemandian dan sepermainan waktu kecil. Kesan bergema mengiris jiwaku mengisahkan pengalaman ini pada adik-adikku. Sebagai seorang teman, Kenangan merupakan pengalaman dalam hidup. Apalagi bila teman kita tergolong orang budiman.

Seorang wanita berhati sebening kaca. Meskipun dirinya tergolong mampu, namun dia tetap biasa-biasa saja. Bagus, aku pun berharap kelak adik-adikku dapat bersikap seperti kawanku itu. Ya…biar kita berharta, jangan sekali-kali kita bangga terhadap kekayaan yang kita miliki itu.

Temanku yang satu ini punya keistimewaan. Dia sangatlah pemurah hati. Kemurahan yang melekat rapat telah mengantarkan jiwanya pada titik puncak kehidupan. Lakunya selalu putih menyibak ke permukaan alam. Kasihnya pada sesama tiadalah yang menandinginya. Hebatkan, Dik……?

Yuni demikian panggilannya. Dia itu anak semata wayang, anak satu-satunya, tumpuan kasih segalanya, pewaris tahta warisan ayah tercinta. Pembimbing teman dalam duka dan pelurus hati pemecah masalah serumit apapun.

Bagi Yuni, ketunggalan dalam keluarga tidaklah membuatnya tinggi hati, melainkan menempanya menjadi manusia yang tahu diri. Dia tidak ingin dimanja dan dikasihani walau orang tuanya mengharapkan demikian. Pergi dan pulang sekolah tetap berjalan kaki. Anak itu lebih senang berjalan bersama teman-temannya ketimbang naik mobilnya sendiri.

Yuni bertubuh kecil, namun tidak membuatnya merasa risi. Ada kelebihan yang ditampilkannya. Asyik……… nari barang kali, ya Dik ! Tidak juga.

“ Kalau begitu apa……..?”

“ Cerdas otaknya, gesit kerjanya. Biar orang menggelarinya atau menganggapnya rada aneh, ia tetap saja tidak menggubrisnya.”

“ Apakah dia kebal terhadap sesuatu ?”

“ Mungkin juga benar. Bahkan dirinya akan tersenyum bangga terhadap ocehan teman sebaya.”

“ Cek ile………….!”

Suatu hari ada kegiatan Maulid. Semua teman sibuk bekerja menyambut peringatan yang suci itu. Sudah tentu demikian kan teman-teman ?  Lagi pula, si Kecil itu jadi manusia yang dituakan.

“ Jadi nenek-nenek ……??!! “

“ Bukan itu maksudnya. Dia itu sebagai ketua pelaksananya. “

“ Hebat juga……..!!”

Sebagai ketua, Yuni tidak ingin acara Maulid itu menjadi berantakan tak karuan. Dia putar otaknya dan bekerja keras menyelesaikan segala dekorasi yang diperlukan. Tak kepalang tanggung, sore pun digapainya asalkan kerja selesai tepat waktu. Gadis itu tidak ingin mengecewakan guru yang telah memberikan kepercayaan kepadanya. Rasa tanggung jawab pun terus membalut dirinya. Namun demikian, ada rasa dongkol juga di hatinya yang paling dalam. Betapa tidak demikian, hiasan telah selesai dan tertata rapi jadi sobek gara-gara bocah temannya sendiri. Kemarahan telah di ambang pintu, tetapi tetap ditahannya. Sabar adalah kunci keberhasilan bagi dirinya. Itu suatu moto yang tetap dipegang teguh hingga kini.

Selesai acara Maulid, semua murid berhamburan untuk pulang ke rumah masing-masing. Tak ketinggalan temanku si Yuni sendiri. Hari itu kami berbaris rapi menunggu mobil jemputan dan tidak berjalan kaki seperti biasanya.

Antrian panjang telah kami bentuk sedemikian rupa meskipun tak ada guru yang mengawasi gerakan bocah-bocah ingusan. Karena begitu panjang, barisan kami terlihat seperti ular.

Dari kejauhan sudah tampak bus yang akan membawa kami pulang. Tiba-tiba seorang di antara kami berlari ke depan menyongsong ke pinggir jalan. Jelas berbahaya kan, Dik ?  Kalian tak boleh main di tepi jalan, bisa-bisa nati……

Nah, tak pelak lagi, benturan keras menggema ke angkasa. Anak itu tersungkur dan darah segar menggenangi permukaan tanah. Ada juga yang gemetar ketakutan, ngeri, dan bingung. Pak Sopir segera turun menghampiri dan memberi pertolongan. Dengan gesit dan cekatan Yuni turut serta membantu membawa anak yang celaka ke rumah sakit. Dia tak lagi memperdulikan darah yang menggenangi baju seragam sekolahnya. Ya…..

Di rumah sakit, anak yang usil tadi diinfus. Ia mendapat rawatan inap di kamar anak-anak. Matanya memerah menahan tangis karena kesakitan. Si Usil mengaduh sekuat-kuatnya. Nafasnya naik turun dan erangnya semakin menjadi-jadi. Getarannya keras melengking-lengking sampai terdengar ke pojok kamar perawat jaga. Karuan saja Yuni dan perawat jaga segera menghampir si Lasak. Mereka berlari-lari kecil agar lekas sampai.

“Yuni…….., tolong aku……! Sakit…….., Yuni……..!”

Yuni si Pengiba Hati tak tega mendengar jerit tangis temannya. Segera ia angkat kaki meninggalkan kawannya yang luka setelah lebih dahulu berbincang dengan perawat rumah sakit.

“ Ke manakah dia ?  Pulangkah anak itu ? “

“ Tepat sekali. Dia pulang ke rumah. Tujuannya tak lain dan tak bukan tentunya rumah si Lasak tadi.”

Saat si Yuni menuju rumah si Kawan, wajahnya memerah sepertinya dia sedang bersalah besar. Hatinya tak tenang. Degup jantungnya semakin kencang dan terus mengusiknya. Namun kesedihannya segera hilang manakala dirinya telah tiba di pondok teman sekelas.

Duh, teman-teman, Yuni tertegun dan mungkin juga hatinya menjerit meratap melihat pondok teman yang beratap nipah dan berdinding tepas lagi tidak bersemen. Segera saja ia tatap wanita di depannya. Rambutnya sedikit kusut dan bajunya yang dikenakan mungkin belum diganti sedari semalam. Matanya mulai berkaca-kaca manakala Yuni menyampaikan kabar tentang anak terkasih mendapat musibah.

“ Di mana temanmu, Nak ?”  tanya ibu itu sedikit gusar.

“ Rumah sakit, Bu……..!”  Yuni menjawabnya pelan.

Seperti mimpi saja, wanita tengah baya itu gelisah sangat. Gundah hatinya terus membubung langit.sudah tentu beliau sedang memikirkan biaya pengobatan anaknya. Ibu setengah tua itu asyik mondar-mandir jalan sana jalan sini dan sesekali memegang jidadnya yang mulai sedikit berombak.

Yuni, si Gadis Cilik temanku itu, cepat tanggap terhadap kata-kata wanita itu.

“ Sudah, Bu……, tak usah dipikirkan lagi, yang penting, si Usil selamat. Sudah beres semuanya kok. Ya tidak, Pa !”

Papa Yuni tersenyum bangga. Kepalanya mengangguk dan yang lain pun ikut. Serempak sekali. Ruangan sepi berubah gambar senyum menawan hati di tengah anak berhati sebening kaca.

Si Usil menjerit dan aku mengaduh. Ternyata………….aku terlempar ke semen karena…………….