Anggota Dewan Pembina Majelis Pendidikan Republik Iran, Ayatullah Muhammad Jawad Marwi dengan dipandu moderator Zulfikar Syarif, S.E(kanan) dan narrator Abdullah Beik, M.A.(tengah) memaparkan Filosifi Hukum Islam di Gedung Hasbi Asy Syiddiqie, Lhokseumawe, Senin (12/7)

Untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat bagaimana konsep yang sebenarnya dari hukum yang akan ditegakkan dalam menerapkan syariat Islam yang memiliki landasan dan fondasi yang kuat dan jelas, Aceh Darussalam Student’s Association (ADSA) menyelenggarakan seminar akbar bertajuk “Filosofi Hukum Islam” bagi masyarakat luas di Gedung Hasbi Asy Syiddiqie Mon Geudong Lhokseumawe, Senin (12/7) Kegiatan seminar akbar yang digelar ini dihadiri pejabat Kota Lhokseumawe,  Perwakilan Islamic College Jakarta, Perwakilan Islamic Cultural Al Huda Jakarta, dan 209 peserta terdiri dari 141 putra dan 68 putri yang berasal dari berbagai elemen masyarakat Aceh, Dandim 0103 Aceh Utara, Kapolres Lhokseumawe, Ketua MPU Lhokseumawe, dan Kadis Syariat Islam Kota Lhokseumawe, menampilkan pembicara tunggal Ayatullah Muhammad Jawad Marwi staf pengajar Imam Syafii dari Republik Iran. Ketua Pelaksana T. Achyarsyah  mengatakan acara ini digagas selain untuk mempererat tali persaudaraan di antara umat Islam dalam melakukan syiar Islam, ada tiga hal yang tak boleh dilupakan dalam menegakkan kebenaran, seperti cinta kepada Allah di atas segala-galanya, cinta dan sayang kepada sesama umat manusia, dan cinta kepada ilmu pengetahuan segenap cabangnya. Ketiga pesan ini harus  kita implementasikan dalam kehidupan nyata, tanpa demikian maka tidak ada artinya apa yang kita perbuat itu. Dengan memiliki landasan dan fondasi yang kuat, insyaallah kita dapat melakukannya dengan baik menurut kaca mata syariat. Tiap individu hendaknya terus mengkaji lebih dalam lagi akan makna syariat Islam itu sendiri, bukan hanya sekedar menutup aurat saja, dan lain sebagainya. Islam adalah agama Allah yang dapat diterima akal sehat. Segenap apa yang menjadi larangan Allah dan Al Quran, kalau diikuti dengan baik dan cermat, akan menyelamatkan seluruh umat manusia dari aneka ragam penyakit, karena Islam memiliki pola dan corak kebudayaan yang khas dan bersifat manusiawi, yang merupakan system keyakinan purna yang dapat menjamin kebutuhan hidup umat manusia. Sementara itu, Drs. A. Murad AB yang mewakili Walikota Lhokseumawe saat membuka acara tersebut, mengajak segenap lapisan masyarakat untuk memahami syariat Islam dengan sebenar-benarnya, tidak setengah-setengah, segala bentuk tindak haruslah berlandaskan Al Quran dan Hadist. Dalam hal memahami apa yang dimaksudkan, Sekda Kota Lhokseumawe itu mengisyaratkan semoga kegiatan seminar dapat memberi pencerahan pola pikir masyarakat dalam menerapkan syariat Islam yang benar. Harapan ke depan hendaknya masyarakat khususnya umat Islam dalam menerapkan syariat tersebut haruslah dimulai dari diri sendiri dan  keluarga terdekat. Anggota Dewan Pembina Majelis Pendidikan Republik Iran, Ayatullah Muhammad Jawad Marwi dengan dipandu moderator Zulfikar Syarif, S.E dan narrator Abdullah Beik, M.A.  memaparkan Filosifi Hukum Islam dan membuka jalan pikiran umat mempelajari dan mengkajinya lebih dalam. Pakar Islam dari Iran itu merasa sangat senang bisa melihat langsung penerapan syariat Islam di Aceh. Beliau mengajak seluruh umat Islam agar mengambil pelajaran dari sejarah Islam masa lampau. Sebagai contohnya pakar Islam tersebut mengisahkan tentang perjuangan rakyat Iran dalam menegakkan kebenaran khususnya Islam. Kisah sebelum terjadinya revolusi Islam di Iran, perjuangan rakyat dalam menghadapinya, dsb. iran berhasil bangkit, berjaya, dan diakui dunia seperti sekarang karena penerapannya penuh dengan nilai kemanusiaan, kelembutan, dan kebersahajaan. Menurutnya, negeri ini pun bisa demikian. Untuk itu diperlukan persiapan yang benar-benar matang, adanya kesungguhan dari tiap-tiap individu dalam menciptakan kondisi yang benar-benar disukai Allah. Masyarakat mau membuka diri dari pengalaman bangsa Islam lainnya terhadap kemajuan yang telah dicapai. Penerapan syariat Islam di negeri ini harus mendapat kajian ulang yang mendalam dari semua pihak, sehingga Islam tidak terkesan yang bersifat radikal yang menghalalkan cara-cara kekerasan, akan tetapi sebaliknya harus menjadi Islam yang berwibawa, bersahaja, dan rahmatanlilalamin. Jika tidak demikian, dikhawatirkan masyarakat akan takut terhadap pelaksanaan syariat Islam, bukan takut akan hukuman Allah, tetapi takut mendapat perlakuan yang merendahkan martabat manusia sendiri. Mengubah paradigma masyarakat terhadap syariat Islam tentu tidaklah tuntas hanya dalam sekali melakukan sosialisasi qanun melalui media atau seminar, namun membutuhkan energy yang besar dan berjangka panjang, pendekatan persuasive lainnya, yang kemudian mampu mewujudkan pemahaman masyarakat terhadap pelaksanaan syariat yang sesungguhnya. Betapa Islam sangat santun dan menghargai hak-hak manusia, penyelesaian tiap pelanggaran dengan cara terhormat dan berwibawa, tidak dengan pemaksaan, melainkan dengan contoh yang masuk di akal. Sebagai contoh Marwi mengisahkan Sayidina Ali mengajak seorang buta agar tunduk pada Allah dengan cara mendekatkan besi panas ke diri si buta, yang akhirnya mampu menyadarkan diri si buta untuk sujud kepada Allah. Hanya dengan kelembutan Islam dapat berjalan dengan benar seperti sekarang.