Hari itu hari libur dan cuaca sangat cerah. Aku bangun lebih cepat dari biasanya. Semua itu kulakukan karena aku ini ingin sekali bermain dengan seorang temanku. Sama seperti kalian juga. Suka bermain dan bercanda kan ?  Namanya juga kita masih kanak-kanak. Ya nggak……..,ya nggak………?!

Hai sahabat, yang lagi membaca tulisanku ini atau yang mendengarkan kisahku yang dibacakan mama dan papa di rumah, aku bangun tadi karena …….. Sudah tahu kan ? Kawanku adalah seorang gadis yang sungguh …..cantik.  Betul teman-teman. Matanya…. waduh, indah menawan gejolak jiwaku. Mau tahu lagi ……..? Alis matanya bagus dan bulu matanya lentik. Cek….cek……….! Rambutnya meliku-liku. Aku sangat senang bermain dengannya karena dia anak yang baik.

Temanku adalah Afriana Dameria. Ia tinggal di dusun terpencil bersama neneknya. Nah, kawan-kawan, meskipun dusun itu terpencil, namun masyarakatnya hidup rukun penuh kedamaian. Termasuk mereka yang diam di pondok kecil.

Hari-hari kawanku sangatlah riang, tetapi saat ini tidaklah.

“ Kenapa dia ?”

Ia tampak murung dan bersedih hati. Sedihnya merasuk dalam jiwa kewanitaannya. Kawanku sedang memikirkan neneknya yang sudah sangatlah tua.

“ Apa sudah pernah dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa dokter ?”

Ya ……..sudah tentu.

Afriana Dameria sering berdoa untuk kesembuhan neneknya.

“ Wah, bagus itu!”

Itu dilakukannya setiap selesai menghadap dan melaksanakan perintah-Nya. Karena ia tahu, saat ini neneknya adalah orang tua satu-satunya yang diharapkan dapat menolong hidupnya semenjak ditinggal pergi ibu bapaknya untuk selama-lamanya.

Dulu….. ketika orang tuanya masih hidup, mereka cukup senang dan bahagia. Bahkan kehidupan mereka cukup terpandang di dusunnya. Namun kali ini sudah tidak lagi. Nenek dan cucunya itu hidup menderita.

“ Kasihan…………, mengapa bisa begitu ya ?”

Entahlah, tetapi sebenarnyalah hal itu tidak terjadi asalkan kedua ibu bapaknya tidak meninggalkan utang yang melilit pinggang. Kini mereka berdualah yang menanggung derita berkepanjangan. Sedih pilu berbaur menyatu.

Penderitaan yang dialami sahabatku terus bertambah saja, teman. Ia hanya bisa pasrah menatap neneknya yang terbaring kaku tak bergerak lagi. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Hanya sepotong doa yang dapat diberikan untuk mengantarkan jenazah nenek ke liang lahat. Mendung yang sedari tadi ditahannya akhirnya mencair juga.

Hari terus berganti tanpa mau kompromi lagi. Duri-duri kehidupan semakin mencabik-cabik dirinya. Wahai pembaca setiaku, bantulah kawanku, sebab ia dirundung malang sepanjang waktu. Hanya satu tekadnya. Ia ingin merantau dan tidak ingin menggantungkan kehidupannya pada orang lain. Ada  rasa enggan di dadanya yang paling dalam. Dengan terpaksa gubuk tempatnya bernaung dari terik mentari dan cucuran hujan digadaikan guna menyambung hidup yang masih panjang.

Dengarlah, Dik. Lolongan anjing kian semarak, cicit anak burung di atas dahan semakin keras meminta disuapi induknya.  Mereka menjerit keras kelak ada yang mendengar rintihan yang membalut wajah-wajah yang butuh pertolongan. Begitulah, si Miskin menjerit namun tertahan dalam relung batinnya sehingga tiada yang mendengarnya.

“ Aku mau menolongnya, bagaimana ?”

“ Aku juga, kasihan dia, hidupnya sendirian dan sebatang kara. Bolehkan kami membantunya walau sekedar kesanggupan kami sendiri ?”

“ Boleh saja, tidak ada salahnya menolong orang lain, tetapi……..”

“ Tetapi apa ….?”

“ Sudah terlambat. Lihatlah, kawanku telah berhasil menggadaikan rumah peninggalan orang tuanya.”

“ Ya ampun…….., harta warisan kok dijual ….??!! “

“ Habis, mau bagaimana lagi ? Mau nongkrong di situ terus tak mungkin lagi. Sanak saudara juga tak punya. Sudah kadung basah ya……sekalian mandi.”

“ Lantas, hasilnya untuk apa ?”

“ O ya, hasil lelangnya digunakan untuk membayar utang sedangkan sisanya untuk biaya hidup di kota. Sungguh pilu hatinya. Tek-tekan yuk, siapa mau ?”

“ Ah, masyarakat desa saja tak sanggup menghalau kepergiannya, apalagi saya.”

“ Sungguh, kita-kita mengkhawatirkan keselamatannya……..!!”

“ Keselamatanku……??!! “ ujar Afriana Dameria heran.

“ Betul  !” jawab kami serempak.

“ Ah, tidak. Tidak usah kalian risaukan kepergianku. Cukup doa yang kuharapkan. Semoga aku selamat di rantau orang, ” pintanya mantap.

Adik-adik manis, teguh sudah pendiriannya bagaikan batu karang di tengah laut yang tidak bergeming walau dihantam badai sekalipun.

Sudah seminggu lamanya kawanku tinggal di perkotaan. Ia pun semakin was-was. Pekerjaan yang diharapkan belum mau menyapanya. Kekhawatirannya kini terus memuncak seakan dunia ini gelap tak bersinar. Uang persediaan hampir habis. Sewa pondok harus tetap dilunasi namun tak lagi tercukupi dari sakunya sendiri. Akhirnya ia merelakan diri untuk menginap di emperan toko.

Malam yang semakin dingin membalut tubuhnya seakan mengajak bercanda. Dinginnya malam yang menusuk-nusuk itu membuatnya semakin gelisah. Anda bagaimana ?  So, pasti enak berselimut tebal, berkasur, dan berbantal. Tidak bertiriskan hujan dan terpaan angin malam. Bukankah begitu ?  Apalagi hujan turun semakin deras seperti sekarang ini. Anu, Dik, badan kawanku yang mungil coba dilindungi dengan kain sarung, namun masih juga dingin. Ah…….., dengusnya.

Untunglah masih ada orang yang beriba hati. Tak tega melihat temanku si Kecil menanggung derita berkepanjangan di situ.

“ Siapa dia ?”

“ Makhluk halus kali .”

“ Bukan, bukan siapa-siapa, tetapi……..”

“ Tetapi siapa ?”

“ Dia hanya seorang penjual dan penyemir sepatu, menawarkan jasa baiknya. Ya , dia seorang wanita. Setelah berkenalan beberapa saat, mereka berdua tertidur di emperan toko dalam satu selimut. Nah teman-teman, hal itu berlangsung cukup lama. Menyemir sepatu adalah tugasnya sekarang.”

Beberapa tahun kemudian, pada pagi hari, ketika ia terlepas dari melambungkan tubuhnya, berdirilah seseorang di depannya.

“ Orang nakalkah dia ?”

“ Tidak.”

“ Makhluk aneh ?”

“ Tidak.”

“ Dewa penolong ?”

“ Mungkin juga.”

“ Seperti apa dianya ?”

“ Seperti kita juga. Tubuhnya tegap, berkumis lebat, dan mukanya menyeramkan.”

“ Hiiiiiii, ngeri……..!”

“ Kamu tidak usah takut kepadanya. Dia orang baik-baik. Tidak nakal seperti dugaan kalian.”

Sesaat kemudian.

“ Kau dari mana, Nak ? “ sapanya lembut. Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak percaya terhadap  apa yang dilihatnya.

” Kau terlalu pagi untuk menanggung beban hidupmu. Apalagi kamu seorang wanita,” katanya lagi setelah lelaki itu mendengarkan cerita temanku.

Afriana Dameria dibawa dan diasuhnya. Sejak saat itu ia dan rekannya satu selimut diangkat menjadi anak angkat. Hidup serba kecukupan di rumah besar dan mewah. Di rumah orang berpangkat berhati mulia. Dengan senang hati dermawan itu menyekolahkan keduanya.

“ Baik benar dia ya, Kak ?”

“ Begitulah tandanya orang yang tahu mengucapkan terimakasih dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepadanya.”

Adik-adik, terakhir kali barulah diketahuinya bahwa orang yang telah menyelamatkan hidup kawanku tadi adalah teman akrab ayah Afriana semasa di sekolah dulu. Bahagia dia sebagaimana rekannya yang lain menikmati hidup ini.