Istana megah tampak kokoh tak goyah meski dihantam guntur, guruh, atau apa saja bagai gemuruh  menggelegar sekalipun. Ya hari itu kemilau cahaya silih berganti menghiasi permukaan alam istana yang begitu luas. Kemerduan irama music terus mengalun tanpa pernah berhenti. Makanan berjibun dan bertaburan, berserakan dalam wadah berhiaskan permata dan kilauan emas menanti insan-insan pilihan untuk mencicipinya. Minuman dan segala minuman terlezat terhidangkan di atas dipan-dipan antic penuh pesona. Lengkap dengan penjaga istana yang begitu patuh terhadap titah Sang Raja. Semua gembira, bersyukur, sepanjang waktu pada Raja yang adil, tanpa pernah pilih kasih, yang sayang meskipun ia tidak disayangi, yang rela memberikan semua miliknya meskipun rakyatnya banyak yang tak rela padanya.

Sang Raja duduk di singgasananya yang agung lengkap dengan segala kebesarannya. Matanya kerap memandang ke segala penjuru istana dari kejauhan. Tak ada satu pandangan pun yang luput dari sorot matanya yang begitu tajam. Dia terus memperhatikan suasana yang tengah terjadi di istana kerajaannya. Namun tak sepatah suara pun dikeluarkannya. Rakyat pada tunduk nggak berani menatapnya dan patuh atas semua perintah yang telah dikumandangkan di seantero kekuasaannya.

Di istana yang begitu mempesona, rakyat tentram hidupnya, serba ada, dan tidak kekurangan. Berbilang  tahun mereka hidup begitu. Tiada merasa resah dan gelisah, tiada susah yang membalut jiwa. Tiada yang merasakan sakit. Semuanya sembuh, sebab Sang Rajalah yang senantiasa menjaga kesehatan rakyatnya. Apa yang mereka harap sudah ada di depan mata. Mereka taklah perlu berlama-lama memohon. Waktu ini bermohon, waktu ini pula diberi. Yang mereka inginkan tetap dipenuhi oleh Sang Raja.

Seorang rakyat jelata, miskin lagi dina papa, tak memiliki harta dan kekayaan, buta mata karena tidak pernah mengenyam pendidikan, datang menghampiri Sang Raja sembari merebahkan diri menjunjung tinggi rasa hormat, pujian, dan sanjungan. Kepala didongakkan sembari memohon segala keperluan. Mulut berkomat kamit tiada henti. Berulang kali, berulang kali, dan berulang kali sampai Sang Raja menerimanya dengan ridho.

“Ampunkan hamba Rajaku, hamba telah lancang menghadap ke mari, hamba takut salah langkah dan bicara !” ucap lelaki kere itu penuh ketakutan. Tubuhnya gemetaran, degup jantungnya berdetak kencang melebihi kecepatan mobil patroli jalan raya. Menggigil kayak orang yang sedang kesakitan berbilang tahun.

“Utarakan apa maksudmu. Semua yang kau ingin katakan, kan kuterima dengan senang hati. Aku akan memenuhinya,” ucap Sang Raja meyakinkan.

“Hamba takut nggak bisa memegang amanah yang Raja berikan nantinya. Hamba minta keringanan wahai Rajaku….aku mohon, Raja ….!” mohon lelaki kere.

“Ya, baiklah, semuanya kan kupenuhi,” balas Raja.

“Ampunkan hamba, Raja. Ampun………jangan Raja timpakan lagi beban untukku, beban di pundakku ini sudah berat sekali, jangan tambah lagi, Raja…!”

“Jika begitu, sekarang kuberikan jalan bagimu, jalan kemudahan. Berangkatlah kamu sekarang ke tempat yang jauh, kau harus mengarungi samudera yang amat luas ini. Jika telah sampai di seberang nanti, kau akan mendapatkan kesenangan baru, yakinkanlah itu pada dirimu, mudah-mudahan saja engkau selamat sampai di tempat tujuan !” ucap Sang Raja.

“Puji syukur, terima kasih…..terimakasih……., Raja !”

Di hari yang telah ditentukan, berangkatlah orang kere itu. Dia sendiri saja. Tak serorang pun yang menyertai kepergiannya. Cuma satu yang ada dalam dirinya, tekad bulat untuk mengubah nasibnya kelak di rantau orang. Bekal yang dibawanya sudah cukup buat di perjalanan. Perjalanan yang ditempuhnya pun jauh sekali. Dia nggak tahu berapa jauh perjalanan itu. Waktunya juga cukup lama. Sampailah akhirnya ia di sebuah dermaga yang bagus dan belum pernah ia temukan waktu di istana dulu.

Segeralah ia menambatkan kapalnya di situ. Asing sekali. Tak ada satu makhluk pun yang mengenalnya. Namun ada kebanggaan melekat di hatinya. Walau asing, mereka tampak tersenyum menyambut kedatangannya. Waou………..senang rasanya bisa disambut demikian hangat.

Setelah perjalanan jauh yang amat gelap, penuh rintangan dan tantangan berhasil   dilaluinya dengan sukses, kini ia menemukan tempat yang baru. Di tempat ini banyak sekali pemandangan indah, gaya hidup yang berbeda satu dengan lainnya, pola piker rakyat yang tak pernah sama, keinginan yang kerap menimbulkan gunjang ganjing, adu kekuatan yang saling mengalahkan, bahkan sepak terjang segala cara ia temukan. Di sini, lukisan-lukisan indah itu kerap mengahantui hidupnya. Sepertinya ia tak percaya lagi dengan apa yang dilihatnya. Duri dan kerikil tajam lagi runcing itu niscaya akan menghancurkan kehidupannya kalau saja ia tak mampu menghalaunya jauh-jauh. Ya silap mata pecah kepala. Jika tak mampu memilah-milah, godam besar siap menimpa tubuhnya sendiri.

“Ouh….., luar biasa, menggoda, merayu, meninabobokkan, kejam, kasar, mengerikan, Raja…..!”teriaknya sendiri.

“Itu adalah godaan bagimu, jika kau ingat janjimu dulu, niscaya godaan itu kan bisa kauhindari !” bisik suara kecil di daun telinganya.

Lelaki kere itu celingak-celinguk mencari tahu dari mana asal suara itu. Matanya tak terkedipkan, diputarnya tubuh mungilnya berulang kali, tetapi nggak ada yang dilihatnya. Bulu kuduknya pun mulai tegak, dingin sekujur tubuh, dan keringat besar-besar keluar dari lubang pori-porinya.

“Subhanallah, ada yang mendengar suaraku. Tetapi……..”

“Engkau tak usah takut, aku di sini, di sampingmu…!”

Ketakutannya pun kian meninggi. Jika mungkin, gunung –gemunung itu pun bisa didakinya saat itu. Jika tak kuat, mungkin ia sudah  lari terbirit-birit, tembok kekar di depannya pun niscaya tak dihiruaukannya kemudian.

Langkahnya terhenti sektika. Bening matanya memancarkan kepastian. Lalu, matanya berbalik arah, tidak lagi ke kanan kiri, melainkan dia dongakkan ke atas sembari berucap lirih. Raja, engkaukah yang datang kepadaku tadi? Kata-kata itu terus menghantui dirinya sendiri, hingga akhirnya ia menemukan sesuatu di keramaian kampong.

“Ou…..ou………, cantik benar gadis ini. Baru kali ini kulihat seperti ini. Kulitnya putih, rambutnya panjang terurai, ikal lagi, cek ile………!” ucapnya sendiri. Kedua bola mata bundarnya tak henti-hentinya menatap sosok gadis yang melintas di depannya. Langkah gadis itu makin cepat dan dia pun ikut cepat juga. Dikuntitnya terus gadis itu hingga di tikungan jalan.

Keduanya berkenalan, bercerita panjang lebar sampai mentari terbenam silih berganti dengan siang dan malam. Insan lain jenis itu pun seketika sepakat menyatukan jiwa menyambung hidup lebih panjang. Mereka berpesta menyambut hidup baru. Berupaya keras menyingsingkan lengan baju mengisi kehidupan yang telah digariskan.

Tak berapa lama kemudian.

Lelaki kere itu amat bahagia melihat buah hatinya telah jadi orang dan hidup berkecukupan. Yang sulung si Tada orang terpandang di kampungnya. Sekolahnya tinggi, sarjana pun telah diraihnya. Hartanya berlimpah, sawahnya luas membentang berbilang kampong. Wou, rumahnya besar bagai istana kerajaan. Anak tengahnya si Anri gadis yang tengah naik daun. Di sekeliling jemarinya melingkar benda kuning yang juga banyak. Pakaiannya pun luar biasa, serba buatan luar negeri. Gayanya memang jempolan, nggak ingin dikira orang tak mengenal kemajuan. Pokoknya serba wah. Sementara si bungsu Aso hanyalah orang kecil, hidupnya pun biasa saja. Dia nggak royal pada kekayaan, pemurah lagi dermawan, siap membantu orang yang menjemput jiwanya. Ringan tangan bukan main. Berdecak kagum orang dibuatnya, namun ia tetap bersahaja dengan kebiasaannya yang amat sederhana.

Pagi buta, siang bahkan juga malam, setiap harinya, si Aso kerap membangunkan seluruh warga. Lewat getar-getar suaranya yang khas, anak itu terus mengumandangkan azan memanggil orang tuk bersujud pada Yang Kuasa. Dia berharap semoga memetik hasil yang lebih baik dari apa yang diusahakan hari ini. Itulah sepenggal doa yang senantiasa terucapkan saat selesai mengabdi pada Rabbul Izzati.

“Hei,So, ayo ikut kami ke pesta….!” teriak Tada.

“Bener, So, ntar kalau kamu nggak ikut, ruginya luar biasa..!” timpal si Anri.

“Emang mau ke mana? Necis kali kalian, aku sih nggak punya baju kayak yang kalian pakai. Apalagi pakai manik-manik segala, kantong kalian juga tebal, kalau aku sih nggak punya.., nggak ah, mendingan aku di rumah sama bapak aja, kasihan kan sudah tua..!” sahut Aso merendah.

“Ya sudah kalau tidak mau, ntar jangan menyesal…!” ucap keduanya sembari meninggalkan Aso yang asyik membersihkan pekarangan rumah.

Di rumah pesta, Tada dan Anri disuguhi makanan dan minuman yang sungguh lezat. Keduanya menyantap penuh nikmat, minum dan minum lagi. Mereka telah dibuai kemegahan, kenikmatan, keasyikan, tak ingat waktu lagi. Orang-orang berjingkrakan tak karuan, gedebak gedebuk alunan music hingar binger menghentak suasana. Riuh rendah teriakan mereka. Lupa segalanya.

Suatu hari si Kere jatuh sakit. Sepertinya kesembuhan telah mulai menjauh dari kehidupannya. Banyak sudah usaha yang ditempuh, namun tak jua membuahkan hasil. Muka anak sulungnya blingsutan, muka memerah menahan marah, geram rasa hati ingin ditumpahkan, namun diurungkan. Si Tengah juga demikian. Dia jengkel bukan main. Uang telah banyak dikeluarkan, tetapi tak sembuh juga seakan jalan telah tertutup.

“Anakku, di antara kalian bertiga, siapa yang ingin ikut dengan Bapak, kalau mati nanti?” Si Tada dan Anri diam dan menggeleng. Mereka nggak sudi ikut.

“Aku ikut, aku ingin menolong Bapak, kasihan Bapak, ” ucap Aso yakin.

“Kalian kenapa nggak mau ikut?” tanya si Kere kepada dua anaknya yang lain.

“Mereka memang begitu, mereka takut dan nggak mungkin ikut !”  bisik suara kecil.

“Ya sudah, kalau begitu, tinggallah kalian di sini….!”

Seketika itu pula si Kere menghembuskan nafas terakhirnya. Ia pun kembali kepada Illahi. Benar saja, si Aso anak bungsunya memang ikut menemani sampai di kuburnya. Kedua anak yang lain si Tada dan Anri tetap tinggal di dunia. Ya memang harta benda dan anak istri nggak dibawa mati, sedangkan amal sholeh itu yang menyertai jiwa di alam sana.