Hujan dan panas datang silih berganti, berteman akrab menjalin persaudaraan.Tidak pernah iri hati dan tetap berjalan pada garis hidupnya. Langkahnya pasti buat hujan menyenangkan makhluk penghuni bumi, sedangkan panas mengingatkan tentang bahaya mendatang. Begitu yang dialami dua teman sekota. Cicil hidup dalam kemewahan. Cicit dalam sengsara badan. Keduanya berseteru dalam menuntut ilmu, akrab bermain dan canda.

Sejak kecil Cicil memang terlihat pintar, tetapi tidak bagi Cicit. Ia lambat dalam berfikir, namun bijak dalam mengambil keputusan. Meskipun sedikit telmi, Cicit banyak teman. Ramah sifatnya, murah senyum, dan ringan tangan.

Kemewahan dan kemampuan bikin Cicil pongah. Egonya terus bertambah seiring langkah mencibir-cibir. Rakus harta membalut penuh dalam jiwanya. Sifat buruknya itu pun terbawa hingga ia dewasa dan berkeluarga.

Suatu hari rintik hujan mengguyur bumi. Cicit melanglang buana berteman pancing kesetiaan. Pergi jauh mencari ikan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Dia sendiri saja tiada yang menemani. Cuma satu tekadnya, anak-anak tidak sengsara seperti dirinya waktu kecil.

“Tuhan, terimakasih atas rahmat-Mu pada keluarga kami. Biar rumah gubug reyot, beratap rumbia, aku akan mengucapkan syukur pada-Mu. Lindungi kami dari perbuatan merugi !” Begitu doanya dalam khayal panjang saat memancing ikan di kali.

Dia nggak ambil peduli atas cercaan orang.

“Yang penting aku tidak mencaci orang lain,” pikirnya.

Kata-katanya betul. Ketika pulang dari memancing, ia lewat di depan rumah orang yang berduit. Maksudnya hendak beristirahat di bok, namun malang yang diterimanya. Dia dihina karena berpakaian lusuh, koyak-koyak, dan tidak beralas kaki. Mirip gembel yang tak pernah mandi.

Cercaan anak gedongan mengundang si bokap kaya. Orang itu langsung menyerang habis-habisan. Kata-katanya penuh bisa, tajamnya bukan main, menusuk-nusuk bagai duri berlipat-lipat. Anehnya, Cicit malah membalasnya dengan senyum. Ditatapnya wajah tua di depannya. Ia seakan-akan kenal. Kau……..kau…….., lalu si miskin pun menjauh.

Langkah panjangnya bergulir menjejakkan diri di kediaman. Sambutan hangat diterima, hidangan mantap telah tersedia. Lahap makannya, meskipun hanya rebusan daun ubi dan sambal terasi. Tak ada ikan tak juga telur. Sederhana saja, yang penting halal, begitu nasehatnya pada anak dan bini. Semuanya nurut, manut pada bapak bijak berperi.

Ketika makan, datanglah teman lamanya. Kebaikannya tiba-tiba saja muncul. Si kawan diajaknya nyantap. Betapa bahagianya dia. Nggak hanya itu. Cicit membawakan oleh-oleh buat teman dibawa pulang. Ada jeruk, langsat, jambu, dan sekeranjang kelapa. Semuanya didapat dari kebun di belakang rumahnya. Kebun warisan ayah tercinta.

“ Terimakasih, Cit, kalian baik sekali. Aku nggak nyangka kalau kamu masih ingat teman lamamu,” kata si kawan.

“ Biasa kok, selagi ada rezeki, kan tidak baik disantap sendiri,” balas Cicit.

Di tempat lain, gaduh mengukir langit. Kedua belas anak Cicil bingung nggak karuan. Ada suara tangis dan jeritan histeris. Lihatlah, si bokap lagi terbaring tiada daya. Nafasnya pun tinggal satu-satu. Rengeknya bagai anak bayi yang telah sakit berbilang tahun. Ke mana pun ia telah dibawa, namun belum juga sembuh. Duitnya yang menumpuk gunung di bank, tanah berhektar-hektar, dan rumah sewanya ikut ludes untuk membiayai sakitnya, namun sia-sia. Dokter dan dukun manalagi hendak dicari ? Alamak, nasib………!!!

Saat itu masyarakat telah numplek di halaman rumah. Mereka mengelilingi mobil ambulance. Haiiii, sekarat. Muka pucat, tulang-tulang kelihatan bagai tengkorak hidup. Ibarat hidup segan mati pun enggan. Tangannya menggapai-gapai minta tolong.

Cicit yang hendak mancing turun ke situ. Ia mengintip di dekat kaca mobil.

“ Ha…itu………itu……… tu………!” Cicil teriak.

Dokter dan perawat cepat tanggap. Mereka memperhatikan lelaki tua itu.

“ Tolong dia, Pak Tua !” pinta dokter penuh harap.

Si Kere mendekat lalu disentuhnya tangan Cicil.

“ Kau…….., kau yang di depan rumahku, kan ? Kau…..kau si..? “

“ Aku Cicit temanmu. Kau Cicil, kan ?”

“ Ya, oh… maafkan aku. Maafkan……!”

“ Sudah, engkau sudah kumaafkan !” sambut Cicit tenang.

Seketika itu nafasnya  pun hilang. Cicil pergi diringi deraian air mata.

“ Terima kasih, Pak Tua, maafkan kami !” kata anak Cicil dan keluarganya yang lain.

Cicit membalasnya dengan senyum persahabatan. Selamat jalan saudaraku.