Gina Arun adalah anak yang pandai, baik hati, dan tidak sombong. Ia murid kelas lima esde. Suka bekerja dan tidak pernah putus asa. Setiap   pagi sebelum berangkat ke sekolah, ia tidak lupa membantu ibunya membersihkan rumah dan memandikan adik-adiknya. Nah, begitu yang bagus, Dik. Sebagai anak sekaligus kakak kita harus membantu ibu kita. Jangan malas dan harus menjadikan diri kita contoh bagi yang masih kecil. Betul tidak, Dik ?

Hari ini lain dari hari biasanya. Kalau hari-hari sebelumnya dia selalu membelikan obat untuk ayahnya yang sedang sakit dan itu dilakukan setiap pulang sekolah, sekarang ini Gina sedikit kelupaan. Rupa-rupanya kelupaan itu pertanda ia akan berpisah dengan ayah yang dikasihinya. Ternyata dugaanku benar,  Dik !  Lihatlah, ketika anak itu sampai di tikungan jalan menuju ke rumahnya, orang-orang telah berkerumun. Bendera merah telah terpacak di tepi jalan.

Seketika itu juga, matanya mulai memerah dan bintik bendungan mulai menggenangi wajah dan pelupuk matanya yang putih. Jelas terlihat, Dik. Bibirnya kaku tidak dapat berkata sedikit pun. Perasaan bersalah kini menghantui dan menyelimuti dirinya yang masih hijau segar.

Begitu tiba di depan pintu, ia langsung menghampiri jasad ayahnya yang kaku. Gina merintih, menangis menahan pilu yang amat dalam. Seakan-akan hidup ini hampa. Tiada lagi tempat berlindung keluarganya. Tiada pula tempat mengadukan keluh kesahnya kini. Orang yang selalu disayanginya saat ini telah kembali ke sisi-Nya. Innalillahi wa innailaihi rajiun. Itulah kata yang terakhir yang diucapkannya pada hari itu.

Adik-adik manis, untunglah masih ada ibunya meskipun hanya seorang penjual makanan ringan. Dengan penuh kasih ibunya yang telah mulai tua dan keriput itu menyadarkan anaknya dari musibah yang menimpanya. Gina dibelai dan air matanya yang membasahi kedua pipinya yang montok disekanya.

Hujan deras mengguyur bumi ciptaan-Nya. Si kodok berkata bersahut-sahutan. Cacing-cacing turut pula bernyanyi sembari berdoa, “ Selamat jalan saudara baik budi semoga aman dan ternteram.” Mereka semuanya mengiring langkah mengantar kawan ke pembaringan nan abadi.

Di tempat sepi di bawah naungan kemboja, Gina memperhatikan jasad orang tuanya dimasukkan ke liang lahat. Gadis itu …… dan rintik hujan semakin deras namun terdengar pelan. Para bilal perlahan-lahan membuka ikatan yang berada di dekat kepala dan bagian ujung kaki. Tubuh berkain kafan putih itu dibaringkan benar-benar menghadap ke kiblat, lalu ditutupi dengan papan, kemudian ditimbuni tanah, serta ditaburi bermacam bunga wewangian di atasnya. Dia sendirian di situ dan tiada yang menemani kecuali amal ibadah yang pernah dilakukannya selama hidup di dunia. Amal kebajikan yang dibawanya, bukan pula harta.  Anak, istri, dan keluarganya tetaplah ditinggal.

Sebulan setelah ayahnya berpulang, datanglah seorang tamu ke rumahnya. Kebetulan sekali tamu itu masih teman dekat bapak tercinta. Orang tadi…… ya teman dekat ayah Gina, menyampaikan pesan ayahnya ketika masih hidup dulu. Pak Mul, demikian nama tamu itu, dipesan untuk mengawasi kehidupan keluarga temannya. Keluarga yang tidak lain keluarga Gina.

“ Sekarang kalian semua ke rumah Bapak. Rumah di sana lebih besar dan mewah. Kalian bisa berbuat sesuka hati di sana. Kalian mau ……?”tanya Pak Mul.

“ Mau…….., mau…….., mau………, aku mau !” teriak adik Gina yang memang masih membutuhkan perlindungan yang nyaman. Gina melirik ibunya. Ibunya membalas dengan senyum dan anggukan kepala tanda setuju. Akhirnya seluruh keluarga Gina diboyong ke rumah Pak Mul.

“Wah, selamat ya Gina. Selamat ……!” ucap tetangganya.

“Selamat juga ya !” kata yang lain.

“ Selamat di rumah yang baru ya, Gin !” kata teman sepermainannya.

“Jangan lupa dengan kami yang di kampung ya, Gin !” harap mereka.

“Maaf, Gin, aku tak bisa kasih apa-apa, cuma ucapan selamat. Selamat berbahagia, Gin……!” ucap Yuni sahabat kentalnya.

Adik-adik, ucapan selamat itu datang bertubi-tubi pada Gina. Sekejap kemudian   mobil yang membawa  mereka melaju dengan kencang sekali.

Nah teman-teman, apa yang terjadi dan menjelma ke permukaan setelah mereka berada di rumah gedongan…………..???????? Sehari, dua hari, sebulan, dan tiga bulan pertama memang mereka meneguk kenikmatan ini begitu nikmatnya. Tetapi setelah  itu ? Kenyataannya kenikmatan itu hanyalah sekejap saja. Malah sekarang balik seratus delapan puluh derajat. Gelombang pasang air laut seakan-akan mengandaskan kapal keluarga Gina sebelum mereka sempat berlabuh ke dermaga, duri-duri di tebing bukit  menanti dan siap tempur membentuk dan mengoyak kulit yang tiada daya .

Adik-adikku yang manis. Di rumah Pak Mul mereka bukan semakin bahagia, melainkan sebaliknya. Bukan pula keriangan hidup yang diperoleh, tetapi sengsara badan yang membalut di dada. Sungguh kasihan sekali keluarga Gina. Mulai bulan keempat hingga seterusnya terpaksalah Gina yang masih ingusan turut meringankan beban ibunya mengurusi rumah baru yang besar nan megah itu.

Seluruh pekerjaan di rumah itu merekalah yang mengerjakannya. Tiada pandang siang dan malam, letih ataupun dahaga, anak beranak itu terus mengayuh sampan guna mencapai tepian pantai dan berlabuh di dermaga semula.

Ketakutan si ibu dan anak itu terus memuncak tatkala diketahui bahwa istri Pak Mul terkenal akan kecerewetannya. Belum selesai kerja yang satu, mereka sudah harus menamatkan kerja lainnya. Begitulah adik-adikku, hari ke hari yang mereka rambati sampai akhirnya Gina tidak bersekolah lagi.

Suatu hari saat gerimis kecil mengulas senyum, Bu Susi menerima amplop dari Pak Mul. Hatinya berdebar-debar kencang sekali. Nafasnya naik turun. Matanya yang binar sebentar-sebentar terkatup dan terbuka seakan tidak percaya dengan yang dilihatnya. Anak dan ibu asyik terus membaca tulisan yang ada di dalam amplop dengan sesekali melirik kertas hijau bernilai rupiah. Betapa terkejut dan herannya mereka. Uang empat ratus lima puluh ribu itu merupakan hasil penggadaian rumah peninggalan suaminya. Rumah itu telah digadaikan Pak Mul. Bu Susi dan Gina geleng-geleng kepala. Keduanya berkata lirih.” Harganya pasti lebih dari ini. Aku tidak sudi, Mak. Tak sudi…! “ Gina berteriak kecil sembari menangis. Si ibu pun ikut menangis pula, si kecil juga. Semua terisak bagai paduan suara saja layaknya.

Tatkala malam telah larut, anak beranak itu mengambil jalan sendiri. Mereka kabur dari rumah yang sungguh jauh berbeda dengan penghuninya. Ibu dan anaknya itu meninggalkan rumah dengan berjinjit sehingga tidak kedengaran oleh majikannya yang terlelap. Bu Susi dan Gina bersama si kecil lari secepatnya. Harapan mereka sebelum fajar telah jauh dari rumah yang mengerikan itu.  Pagi itu juga mereka terdampar di emperan toko.

Di situ, di tempat yang sepi lagi dingin, mereka bertemu dengan Tini seorang guru sekolah dasar. Seorang guru yang menjadi teman Bu Susi ketika esde dulu. Kepadanyalah mereka buka kartu selebar mungkin. Karena harunya, Tini meneteskan air mata di kediamannya yang damai di lain desa.

Suatu hari kabar mengalir ke desa. Dari radio kecil mereka dengar rumah keluarga Pak Mul terbakar dan menghabiskan seluruh isinya. Termasuk anak-anaknya yang mengalami luka bakar. Lain halnya dengan Pak Mul dan istrinya. Keduanya baru saja mengalami kecelakaan dan kini dirawat di rumah sakit.

Segera setelah mengikuti berita itu, Bu Susi dan Tini serta anak-anaknya membesuk keluarga Pak Mul.

“ Bapak dan ibu, terimalah uang empat ratus lima puluh ribu ini sebagai biaya pengobatan. Roti ini sebagai obat pelepas rindu kami !” kata Gina penuh harap.

Kedua orang kaya itu merasa malu dengan anak sekecil Gina. Akhirnya mereka mengakui kesalahannya telah menjual dan memakan harta anak yatim.

“ Maafkan kami, Gina, Bu Susi…..!” kata keduanya memohon.

Gina membalasnya dengan ucapan selamat karena mereka telah sadar kembali.