Cakrawala berkabut kian tebal menenggelamkan panas siang tadi. Gumpalan awan hitam makin perkasa mengoyak darah insan tak berdaya. Hembusannya menyisir jiwa yang kemudian mengoyak-ngoyak mengajak hengkang sebab kotak suara tak ikut lagi bergetar. Ya anak itu tertunduk lesu tak sanggup berbuat apa-apa. Mulutnya terkatub diam, hanya jemarinya memberi kabar pada orang yang lalu lalang.

“ Jangan salahkan aku………, jangan………, jangan……!!!”  Begitu ungkapnya dari lubuk hati yang paling dalam. Tidak ada yang mendengarnya adik-adik. Tak ada yang peduli atas dukanya. Kalian bagaimana, Dik ? Mereka seakan lupa diri. Lupa segala-galanya. Namun ternyata, Dik, dugaan-dugaan itu jauh dari tempayan yang sesungguhnya.

Si bocah cilik putra tukang becak dan penjual kue, tetap tegar mengarungi samudera yang amat luas ini. Ia tidak gentar badai dan topan, guntur yang melengking-lenking, maupun duri-duri liar yang siap menelan lumat raganya yang kekurangan. Tahu, Dik, apa tekadnya ? Dia diam, tetapi pantang menyerah sebelum bertanding, pantang menyerah sebelum kalah, masih tetap digenggam teguh dari serpihan kasih bapak tersayang.

Adik-adikku manis. Buktinya ketika dia dihina luluh lantak konco sendiri. Meskipun darah telah mendesir keras dan siap memecahkan kepala, si bocah ingusan yang sebaya dengan kalian, tetap sabar sembari memuja Illlahi Rabbi Penguasa Alam Raya. Dia tidak ingin bogem mentah singgah di jidad kawan, sebab anak itu berfikir kesabaran adalah puncak kejayaan.

Suatu ketika bala hampir saja singgah di pundaknya. Entah siapa yang memulai kegaduhan di kelasnya. Kelas yang biasa tenteram dan damai tiba-tiba berubah kegaduhan bagai sebuah peperangan. Jerit dan pekikan teman wanita kian menyulut bara yang belum marak, menyulut-nyulut peperangan utara selatan. Satu sama lain saling bersitegang. Tak ada yang ingin dipojokkan atau dikalahkan. Juga enggan digelar si Tukang Nyolong Roti. Sampai-sampai guru kelas turun tangan menengahi pertikaian. Maklumlah, Dik, roti adalah makanan ringan paling digemari saat itu.

Tampilnya guru yang bijak menyentakkan suasana. Mata kami, mata kalian juga mungkin jika berada di sana, membelalak, hati ciut mengkerut, kuping terasa pedas seperti baru dijewer, dan detak jantung bergerak lebih leluasa, menyeringai, meronta-ronta, berfikir-fikir siapa gerangan biang keladinya. Tak satu pun di antara kami yang beranjak dari bangku. Jangangkan bergerak, bergeser pun tidak, sebab sorot mata guru kami menusuk-nusuk penuh selidik menembus tembok kekar jiwa kami.

Sekonyong-konyong halilintar menggelegar-gelegar lalu menukik tajam menyikat keheningan. Si Jendol, temanku yang paling lasak di antara yang terlasak, angkat bicara. Lagunya keras melengking-lengking menyindir-nyindir si bocah  penjual roti, kue, dan lainnya.

“ Bu, aku tadi lihat dia masuk kelas sewaktu jam istirahat,” tudingnya penuh sinis.

“ Ah, mana mungkin, mana mungkin !”

“ Ya, mana mungkin dia berbuat sejelek itu !”  kata kawanku berteriak menyanggah.

“ Aku rasa tidaklah mungkin ia yang melakukannya !” bantah si Kokot pula.

“ Mungkin saja, mana ada pencuri yang mau mengaku, ya tidak, Bu !” ujar si Jendol menyerocos-nerocos teru, terus.

“ O ya, apakah memang begitu ??!!”  Guruku balik bertanya diiringi senyumnya yang menawan.

“ Betul, Bu. Kalau ada yang mau mengakui, pastilah penjara penuh, membeludak, melimpah bagai air kehabisan tempat.”

“ E…….., Do, teriak si Yuni kecil.  Enak saja kamu bicara, apa dia itu bertampang pencuri he…….??!!”

Semua diam sejenak. Tenang seperti ada setan yang mau lewat.

“ Yang kutahu, biasanya setiap ayam yang berkotek, dia yang bertelur,”  timpal Yuni sedikit emosi. Terlontar kata-katanya seperti itu karena dia kasihan pada temannya yang cacat.

“ Sudah, sudah, jangan banyak cakap, yang penting ibu minta kejujuran kalian saja. Ingat, Yang Kuasa melihat segala tindak tanduk kalian. Kalian semua tidak bisa dusta. Siapa yang dusta, pasti akan ketahuan dengan sendirinya. Camkan kata-kata ibu. Sepandai-pandai menyembunyikan bangkai, baunya akan tetap terhirup juga. Berhubung lonceng telah berbunyi, ibu akan tunggu jawaban kalian sampai lusa, hari Senin.  Kejujuranlah harta yang paling berharga, ingat itu ! Selamat siang, kembalilah  ke rumah, jangan mampir ke mana-mana lagi, tiba di rumah salami orang tuamu !”kata Bu Guru menasehati murid-muridnya.

“ Baik, Bu. Selamat siang, Bu !” jawab anak-anak serempak.

Ketika pulang, kami saling berbincang. Perasaan bersalah seakan menyelimuti jiwa kami, padahal sebenarnya kami tidak bersalah. Dengan akalnya, si Banu mengajak aku, Yuni, dan Wira ke rumahnya. Ada sesuatu yang akan dibuatnya. Hal itu jelas kami baca pada secarik kertas yang ditulisnya. Menangkap penjahat dengan perangkapnya sendiri.

Betul juga. Hari Senin itu guru masuk kelas lagi. Si Jendol tak ada. Ia lagi bersembunyi di kamar mandi. Mulutnya penuh roti. Mukanya merah kepedasan, lalu pucat ketakutan bercampur malu ketika guru menjemputnya.

“ Oh……, mati aku, ketahuan juga,”  katanya pelan.

Dia pun harus berterus terang di depan gurunya. “ Akulah yang mengambilnya !”

“ Hu……….!!!”  teriak anak-anak lain mengejeknya.

Gemuruh pun menggelegar. Mendengar kami cekikikan, mukanya merah lagi. Ada rasa marah menyelinap dalam lorong jiwanya yang sewaktu-waktu bisa meledak .