Seminggu setelah kepulanganku dari rumah kakek, hari begitu cerah. Panas tidak, hujanpun enggan menyisir bumi. Awan di atas sana bersih. Bersih sebersih-bersihnya. Yang tertangkap mataku hanyalah mentari yang sempat terbahak sembari mempercepat langkahnya. Wajahnya tetaplah ceria seceria badut membawakan gelak tawa. Tak sedikitpun tebersit di benaknya rasa keangkuhan, melainkan kesetiaannya sepanjang zaman tetap dikenang orang. Percaya atau tidak teman-teman? Cobalah tatap muka kawan-kawan di sekitarmu, tetanggamu, dan dirimu sendiri. Cerah bukan?

Kalian kenal denganku, kan? Tubuhku kecil, sama kecilnya dengan tubuh teman-teman yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Umurku baru setampuk pinang. Orang tuaku bilang umur baru setahun jagung, masih muda belia. Aku ini tidak ada apa-apanya, masih bau kencur. Namun begitu, aku punya satu kunci kemenangan. Tekadku bulat dan begitu yakin dengan kemampuanku. Biarpun kecil sekecil cabai rawit, aku tak ingin dikalahkan orang lain. Moto seperti itu penting sekali kawan-kawan. Soalnya, bapakku menanamkan hal seperti itu karena beliau tak suka melihat anaknya tertinggal dengan anak-anak yang lain. Biar kita miskin harta, tetapi tidak boleh miskin ilmu dan kemauan. Meskipun kita orang lemah, namun tidak boleh mempunyai sifat yang mudah putus asa. Tidak boleh cepat-cepat menyerah pada keadaan. Tidak pula berharap selalu menggantungkan hidupnya pada orang lain. Hal semacam itu pula yang mendorong diriku agar senantiasa tidak patah semangat. Pekerjaan orang tuaku yang hanya sebagai guru sekolah rendahan mempertinggi semangatku untuk memacu dalam meraih cita-cita.

Hari itu udara di sekitar rumah mungil tiba-tiba saja berubah. Awan mulai gelap. Kelam menyelimuti permukaan alam. Seakan gelap menyelimuti hati. Bersama dengan itu, keceriaanku berganti kegalauan yang tiada bertepi. Kedua belah mataku mulai memerah menahan lajunya gelombang badai. Jiwaku semakin pilu, sedih membalut hatiku. Hatiku sedih menjulang langit. Betapa tidak begitu, kedua adikku yang meminta uang guna bayar sekolah ternyata tidak mendapat jawaban dari pengasuh kami orang tuaku sendiri. Semakin perih hatiku mendengar jawaban mereka. Namun apa hendak dibilang, memang telah suratan takdir bagiku. Bapakku belumlah lebih kantongnya. Ia tidak beruang hari itu. Maklumlah sendiri, suasana dalam keadaan bulang sedang hamil tua.

Sebagai seorang kakak, perasaanku timbul seketika. Aku merasa kasihan sangat pada kedua adikku. Aku ingin duka itu biarlah aku yang menanggungnya. Janganlah mereka yang masih imut-imut sangat yang memikulnya. Tidak pantas, kan?

Secepat langkah kudekati kedua adikku.  Kuelus-elus kepala mereka. Ternyata teman-teman, belaian kasihku seakan-akan sanggup menghilangkan duka lara. Mereka tentunya yakin dan percaya bahwa aku akan sanggup mengubah suasana. Kukatakanlah bahwa jika aku telah bekerja dan mendapat uang yang cukup, aku tentu akan melunasi kebutuhan mereka. Di samping itu, kuharapkedua adikku bersabar hendaknya serta selalu ingat pada Tuhan. Allah yang membagi rezeki kepada kita hamba-Nya yang selalu ingat pada janji-Nya.

Sungguh kawan-kawan, mendengar jawabanku tadi, hampir saja kedua tangan bapakku yang kasar melayang membentuk lukisan indah di kedua pipiku, yang mungkin sakitnya tidak terkatakan lagi. Namun keberuntungan masih memihakku. Alhamdulillah bapakku masih sadar dan selalu ingat terhadap kata-kata yang sering diucapkannya. Kita harus selalu sabar dan tawakal kepada-Nya setiap datang penderitaan.

“Mengapa kamu lakukan semua itu, Nak?” Beliau bertanya padaku sambil mencium pipiku anak yang dikasihinya. Seketika menetes hujan kecil-kecil dari balik kelopak matanya.

Dengan penuh haru kujawab pertanyaan itu. “Aku…….., aku ingin meringankan beban bapak ibu yang sudah semakin berat.  Aku tidak ingin….adik-adik terlantar karena aku. Aku ingin melihat mereka selalu ceria. Muka tidak pucat dan baju yang dikenakan tidak kusam. Gembira dan dapat bermain dengan teman-teman yang sebaya dengan mereka.”

Ibuku, orang yang melahirkanku, yang membesarkanku, yang mengikuti jawabanku, tersenyum bangga. Senyumnya begitu menawan. Oh……… indahnya dunia dengan senyum seorang ibu. Keindahan itu semakin tampak nyata dan jelas dipandang ketika dengan rasa kasih didekapnya kepalaku ke pangkuannya, sejuknya tidak bisa terkatakan lagi teman-teman.

“Mukjizat apa gerangan yang telah menyelinap di lubuk hati anakku oh Tuhan…! Tidak ada yang bisa kuucapkan lagi pada-Mu Tuhan selain terima kasih dan rasa syukurku. Yang kutahu pasti ombak kehidupan yang masih amat ganas itu akan dihalaunya. Sepertinya anakku ingin menggapai bulan pada malam hari. Meraih bintang dengan seribu janji. Kan menjadi lilin bila malam singgah di ambang kedamaian. Mungkinkah masih ada perahu yang akan mengajaknya pergi?”

Belaian kasih orang tuaku yang begitu membahagiakan akan kuingat dan kukenang sepanjang dunia masih bisa kutatap. Kuhargai jerih payah mereka dan kuteladani sikap dan tanggung jawab yang telah ditunjukkannya padaku.

“Ya Rabbi….., lindungilah mereka, kasihanilah keduanya sebagaimana mereka telah mengasuhku waktu kecil.  Rabbi Tuhanku, tunjukilah pada mereka jalan yang Kau ridhoi, jalan yang lurus penuh kebahagiaan. Izinkan aku ya Rabbi, membantu mereka menyingsingkan lengan baju meringankan derita. Tuhan, kebulkanlah permohonan dan doaku hamba-Mu yang tidak memiliki apa-apa ini. Engkaulah yang bisa membantuku. Engkaulah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.  Amin….!”

Selang beberapa waktu sesudah itu, setahun setelah aku mengabdi membantu Bu Siska membuka kedai nasi, walau tidak sehari penuh kuhabiskan waktuku, hanya setengah hari memang, tetapi itu telah cukup membungakan hati orang tuaku, memuaskan mereka. Bahkan kini burung-burung yang bertengger di ranting kayu bisa menyuarakan kicau merdunya lagi. Daun-daun tidak lagi berguguran jatuh ke bumi, melainkan batang-batang kayu yang tadinya kering, kini mulai bertunas kembali. Beban derita sudah agak ringan tidak berat seperti dulu lagi. Aku berhasil menduduki puncak kelas meski tidak selalu nomor wahid sambil bekerja sampingan.

Kemenangan yang kuraih, yang telah lama kunanti dan kuimpikan, semakin membuatku percaya diri dan tidak melupakan atas kebesaran Tuhan. Di mana saja, kapan saja, aku selalu mengasah diriku dengan mutiara ilmu dunia dan akhirat, serta kucoba mendarmabaktikan ilmuku untuk orang banyak. Hari-hari kemenangan dan kebahagiaan tidak ingin kulewati begitu saja. Aku masih tetap bekerja di kedai Bu Siska yang telah kuanggap seperti ibuku sendiri. Ibu yang juga sayang dan penuh perhatian padaku.

Hari itu hari Minggu. Aku tidak membantu Bu Siska berjualan nasi. Bukan karena malas, tetapi aku sedang pergi jauh. Pergi ke bilik perawatan guna menjenguk langgananku yang tengah mendapat musibah. Di rumah sakit yang indah nan megah itu tanpa disuruh oleh siapapun aku langsung datang ke laboraturium untuk menyumbang darahku agar nyawa Pak Bandi selamat dari maut yang mengintainya.

Orang-orang pada heran. Mata mereka kayak jelalatan. Ibarat singa yang lagi mengintai mangsa. Mereka bukan mencari-cari kesalahan, melainkan kagum pada keikhlasanku. Aku pun begitu. Kusambut kebaikan mereka dengan senyumku. Senyum seorang anak yang masih mentah dan belum banyak makan asam garan dalam menikmati pahit getirnya kehidupan. Senyum dikulum sebagai pengobat luka. Senyum yang hanya ingin mencari pahala. Maukah kawan-kawan mengikuti jejakku?

Duh teman-teman, tak dinyana dan tidak pula disangka-sangka, setelah sembuh dari sakitnya, Pak Bandi mampir ke rumahku. Rumah yang tidak besar dan tidak pula kecil, namun cukup untuk berlindung dari sengatan matahari dan kuyubnya karena hujan.

Di rumahku yang sederhana, orang kaya itu duduk di dipan kecil kesayanganku. Di situ, di tempat itu, dia merenungkan diriku si bocah cilik yang tengah memolesi karya ajaibku.

“Siapa yang mengajari kamu membuat hiasan dari triplek ini, Nak?”

“Guru saya, Bu Lastri namanya.”

“Sungguh, sungguh luar biasa. Kerjamu rapi dan menarik minat orang. Apa rencanamu selanjutnya tentang hasil karyamu ini, apa cukup sampai di sini saja atau masih punya rencana lain?”

“Saya akan terus berkarya, Pak. Hasil kerjaku akan saya jual. Sebagian akan saya gunakan untuk kebutuhan hidup keluarga, sedangkan sisanya ditabung.”

Pak Bandi menggeleng-gelengkan kepalanya seperti setengah tak percaya dengan jawabanku. Dalam keadaan jongkok beliau memujiku. “Bagus, ternyata kamu anak yang pintar menghemat. Bapak salut padamu. Sekecil begini kamu sudah bijak, apalagi kalau besar nanti, mungkin bisa jadi ahli ukir-mengukir. Satu lagi ingin bapak katakana, hemat itu bikin kita kaya, Ri. Siapa yang lihai menggunakan waktu, ia pasti beruntung besar. Siapa yang menyepelekan atau menyia-nyiakan waktu akan rugi merana. Rugi serugi-ruginya. Ibarat punya alat tetapi tidak mampu menggunakannya.

Lelaki sebaya bapakku itu merogoh-rogoh koceknya. Tahukah teman-teman, apa yang lagi dicarinya?

“Uang dong……!”

“Mungkin juga, tetapi aku rasa bukan.”

“Lantas apa?”

“Ri, terimalah uang ini sebagai penambah tabunganmu!” Pak Bandi menyerahkan beberapa lembar uang padaku dengan penuh harap.

“Terimakasih, Pak. Semoga Yang Kuasa selalu menambah rezeki orang-orang yang sering menggunakan tangannya di atas.”

Aku dan keluargaku merasa bahagia mendapat bingkisan yang tak terduga. Kebahagiaan itu tidaklah kurasakan sendiri. Aku rasakan juga bersama teman-temanku. Di rumahku yang sederhana, aku menghidangkan makanan untuk anak yatim piatu, bercanda punuh suka. Bahagia yang selama ini belum pernah mereka rasakan. Makan enak sampai kenyang tetapi ingat pada aturan agama.