Penulis berpose sejenak di tapak perkemahan putra dalam Raimuna Nasional 2003 di Bumi Perkemahan Rama dan Shinta Candi Prambanan Yogyakarta

Gudep B 02059 – B 02060 Pangkalan Arun mengikuti kegiatan Perkemahan Pramuka Penegak Pandega Nasional. Kegiatan akbar tersebut berlangsung  8 – 17 Juli 2003  di Bumi Perkemahan Rama Shinta, Prambanan, Yogyakarta.dan dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia Megawati Sukarno Putri, Rabu ( 10 / 7 )

Dalam amanatnya itu Beliau mengharapkan sangat terhadap kader-kader calon pemimpin bangsa masa depan, khususnya yang berada di bawah naungan kepramukaan agar mempertahankan keutuhan dan negara yang kita cintai ini, bukan sekedar ahli dalam mengupas perbedaan-perbedaan, membanding-bandingkan segi kualitatif dan kuantitatif secara berlawanan dengan dalih penelitian, sebagai pengamat politik, ketika situasi menjurus ke arah perpecahan tiba-tiba mencuat tak terkendali.

Melalui Raimuna Nasional ini akan disadari betapa pentingnya keanekaragaman  bangsa ini dan kita diminta untuk meresapinya dalam-dalam, menikmati keindahan keanekaragaman itu  sebagai suatu rahmat dari Tuhan Yang Mahaesa.

Meskipun pembukaan acara akbar Raimuna Nasional 2003 agak molor dua hari dan dua jam dari jadwal semula, namun tidak mengurangi semangat dan patriotisme seluruh anggota Pramuka Penegak dan Pandega yang memadati lapangan utama Candi Prambanan untuk menyaksikan acara pembukaan.

Acara pembukaan itu diawali dengan acara kesenian, tari dan lagu daerah, penyerahan mozaik miniatur nusantara oleh Presiden kepada anggota Pramuka Sabang dan Marauke untuk dipasang di mozaik nusantara yang menggambarkan peta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan pengibaran bendera Rainas yang diiringi Hymne Pramuka.

Dalam pesan lainnya, Presiden Megawati  dengan bijak berharap kepada semua anggota pramuka, sebagai calon-calon pemimpin bangsa di masa depan hendaknya tumbuh dan kembangkan kemampuan untuk saling mengenali saudara yang datang dari daerah lain, belajar menerima dan menghargai pendapat mereka meskipun berlainan suku, agama, dan adat isitadat, menghargai perbedaan-perbedaan, dan cara pandang saudara kita yang berkumpul di Bumi Perkemahan Rama Shinta ini.

Bila itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan dengan hati yang bersih, insya Allah bangsa kita akan memiliki bekal yang kokoh dalam peran kepemimpinan masa depan, syaratnya terus mempererat kesatuan dan persatuan. Sebaliknya, bila kita melupakannya dan tidak melaksanakannya, kita bisa lemah mungkin akhirnya malah musnah dari kehidupan bangsa-bangsa di dunia sekarang dan masa depan.Hasil yang kalian peroleh bawalah ke daerah masing-masing untuk terus dipupuk dan dibina sehingga kita nantinya akan menjadi bangsa yang besar dan saling menyayangi antar sesama, demikian akhir dari pesan Presiden kepada segenap anggota Pramuka Penegak dan Pandega yang hadir di Raimuna 2003 di Yogyakarta.

Pada Raimuna kali ini yang diikuti kontingen Kota Gas ada suatu hal yang rada unik. Sebuah miniatur rumah adat suku Arfak dari Manokwari Irian Jaya berdiri megah di antara ratusan tenda di Buper Rama Shinta. Rumah adat yang berukuran 2 x 2 meter ini lebih dikenal dengan sebutan rumah kaki seribu. Dikatakan demikian karena tegaknya miniatur ini ditopang  oleh banyak tiang.

Santai sejenak di dekat rumah adat suku Arfak dari Manokwari bersama teman-temanku dari Kwarda Papua Irian Jaya dalam Raimuna Nasional di Bumi Perkemahan Rama Shinta Candi Prambanan Yogyakarta

Menurut Aneke Mayor salah seorang pembina gudep 2607 Kwarcab Merauke kepada tim yang berangkat 2 Juli ini  mengatakan bahwa miniatur rumah adat ini dibawa ke perkemahan adalah untuk diperkenalkan kepada seluruh anggota pramuka di tanah air, ini menandakan  bahwa negeri kita memang memiliki keanekaragaman rumah adat yang tak terhitung banyaknya. Mereka juga menginginkan rumah yang memiliki dua tangga dan dua pintu ini dapat menjadi inspirasi buat rekan dari daerah lain, kelak pada Raimuna mendatang akan semakin banyak berdiri miniatur rumah adat lainnya di bumi perkemahan. Bahan yang digunakan pun asli dibawa dari Manokwari. Baik atapnya yang dari daun sagu, maupun dindingnya yang terbuat dari kayu petek, demikian ungkapnya.

Kegiatan Rainas VIII 03 ini hampir 90 % dilaksanakan di luar arena perkemahan seperti di Baturaden, Parangtritis, Magelang dan di seputaran kota Yogya. Ada kegiatan saka wanabakti, dirgantara, bakti husada, lantas dsb.  Masing-masing kontingen diwakili seorang putra dan putri untuk tiap jenis kegiatan. Sehingga antar teman sekelompok mereka tidak bisa saling bertemu, karena kegiatan yang dilakukan waktunya bersamaan. Otomatis kegiatan Raimuna Nasional kali ini benar-benar menguji kemandirian dan jiwa sosial kemasyarakatan tiap anggotanya. Setiap penegak berkelompok dengan penegak dari daerah lain dalam satu kegiatan.

Kegiatan arung jeram yang dilaksanakan pada hari kedua (9/7) melibatkan tak kurang dari 540 peserta. Rute yang ditempuh cukup jauh, yaitu 12 Km melintasi sepanjang Kali Elo di Magelang dengan 8 perahu karet. Setiap perahu karet 6 orang pramuka dengan seorang pengampu dari Citra Elo River.

Kapolsek Mungkid Iptu Subiyanto mengatakan bahwa kegiatan arung jeram ini sangat diminati oleh adik-adik Penegak. Terbukti banyak di antara mereka yang tak sabar untuk menunggu giliran  Namun bagi mereka yang baru pertama mengikuti arung jeram ini, masih ada yang takut-takut, bahkan menganggapnya sebagai wisata air. Selain  mengelar arung jeram, diadakan pula diving bagi adik-adik peserta. Ini  dilakukan untuk mengisi waktu giliran tiba, terlebih mereka mengikuti kegiatan ini sampai enam hari, berkemah di pinggiran kali dan jauh dari perkemahan utama.

Selain itu, kegiatan susur pantai dan sungai juga menarik. Menyusuri Kali Kuning Sleman dimulai sejak Rabu (9/7) diikuti 180 peserta per dua harinya, dengan total peserta 540 orang. Dengan tujuan menanamkan rasa cinta lingkungan dan daerah aliran sungai.

Sedangkan kegiatan susur pantai dilaksanakan di Pantai Selatan G. Kidul sejauh 18 Km ( 2 hari lama tempuh berjalan kaki ) melintasi Pantai Sureng, Sundak, Krokol, Drimi, Sepanjang, Kukup, dan Baror. Di sela-sela waktu istirahat, setiap peserta dibekali pengetahuan, ceramah dan diskusi tentang kelautan, bagaimana mereka harus menyelamatkan pantai, terumbu karang, dan ekosistemnya. Dengan pengetahuan tambahan ini membuat mereka gembira meskipun sebenarnya mereka juga lelah berjalan jauh.

Kegiatan semarak ini berakhir  pada 17 Juli 03 ditutup secara resmi oleh Wakil Presiden Hamzah Hazh. Bagi  Gudep B 02059 – B 02060 kegiatan in sangat bermanfaat sekali sejak tibanya 6 Juli 03. Meskipun lelah, namun tetap semangat dan tidak cepat putus asa. Terlebih ketika seorang pesertanya Romi Amrizal membacakan sebuah puisinya yang mampu menguncang semua peserta dengan tangisan panjangnya. Semua menangis, menjerit histeris, termasuk pemimpin besar kita. Selamat, meskipun sedang konflik, kalian masih bisa datang. Selamat, semoga kita jumpa lagi di Raimuna 5 tahun mendatang.

Papa Nori

Bin Pangkalan Yapena dalam Raimuna Yogyakarta