Judul tulisan ini membutuhkan jawaban dari kita sendiri. So, pasti kita semua tahu siapa yang dikatakan pemimpin. Apalagi bagi orang yang telah mengenyam yang namanya dunia pendidikan. Semua akan menjawab persis sama dengan yang ada dalam kamus bahasa Indonesia, pemimpin adalah orang yang memimpin. Apakah ia memimpin perusahaan, lembaga, atau pun kelompok di sekitarnya. Namun, sadarkah kita siapakah sebenarnya pemimpin yang benar-benar memimpin? Jawabannya terpulang pada kita masing-masing dan semoga tulisan ini bisa memberi pencerah hati siapa sesungguhnya pemimpin yang dicintai Allah dan masyarakat sekelilingnya.

Sosok pemimpin dimulai dari lingkup terkecil. Adalah kita seorang pemimpin untuk diri kita sendiri. Manakala orang telah mampu mengendalikan dirinya untuk mengisi kehidupan yang sesungguhnya, kuasa menghidupkan jiwanya ke jalan yang benar, bisa menyikapi segala macam persoalan dengan hati tanpa tergesa, bisa menjadi panutan untuk diri dan keluarganya, ia adalah sosok pemimpin yang dicari.

Karakter seorang pemimpin yang seperti itu muncul dengan sendirinya, bukan dibuat-buat, bukan pula hasil rekayasa, tetapi hasil dari penghambaan diri kepada Tuhannya. Karena dekat dengan Tuhannya, maka seseorang itu diberikan hidayah untuk menjadi seorang pemimpin, mulai dari lingkungan terdekat hingga lingkungan yang lebih luas. Dipilihnya seseorang menjadi pemimpin karena dalam kesehariannya orang itu memang telah benar-benar menunjukkan jati dirinya menjadi pemimpin, bukan pula karena dia ingin jadi pemimpin, bukan juga karena menyodorkan diri untuk dipilih menjadi pemimpin, bukan. Sebab, menjadi pemimpin itu sudah menjadi suratan dari Tuhan, karena Tuhanlah yang telah menentukannya.

Pemimpin sebenarnya merupakan orang pilihan, orang yang mampu mengendalikan keadaan, yang mampu menciptakan suasana menyenangkan dalam segala situasi di mana pun dan kapan pun. Pemimpin yang bisa membawa perubahan dari waktu ke waktu dengan menerapkan langkah kebijakan yang dapat diterima oleh siapa saja, yang mau menerima masukan dari bawahan, yang menerapkan hidup tidak membedakan mana bawah dan atasan, yang bisa masuk ke segala sisi kehidupan, yang memberikan kepercayaan penuh pada bawannya untuk melakukan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, yang memberikan teladan bagi bawahan dari segala sikap prilaku dan bicaranya sehingga orang-orang merasakan suatu yang lebih dan mendatangkan ketentraman lahir batin. Seorang pemimpin yang benar-benar telah menerapkan nilai trilogy kepemimpinan, seperti yang telah ditorehkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai orang yang ing ngarso sungtulodho, ing madya mangunkarso, dan Tutwuri handayani.

Itulah pemimpin yang benar. Lantas, akankah masih ada pemimpin yang benar-benar berjiwa memimpin di zaman canggih seperti saat ini? Jawabannya tentulah ada. Tetapi tidak banyak, hanya segelintir saja, masih bisa dihitung dengan jari. Ironis sekali, namun apa hendak dikata, memang itulah yang sebenarnya terjadi saat ini.

Saat ini banyak kita temui pemimpin di dunia ini. Ragam cara dan tingkah yang ditampilkan. Namun sayang, cara yang ditempuh dan hasil yang didapat, bukanlah mencerminkan hasil dari seorang pemimpin sejati. Sosok pemimpin zaman sekarang, yang dihadirkan bukanlah pemimpin yang benar-benar bisa memimpin. Lihat sajalah dalam kenyataan hidup. Seseorang itu jadi pemimpin karena adanya sesuatu di belakangnya. Ada disebabkan karena adanya hubungan sanak saudara, ada pemimpin dipilih karena keinginan sendiri, pemimpin dari orang yang asal tunjuk saja karena di sekitarnya tidak ada lagi orang yang berani menjadi pemimpin, bahkan ada pula orang yang jadi pemimpin diangkat berdasarkan pengetahuan saja, karena ia sudah sarjana, tetapi tidak dilihat kapasitas dirinya apakah punya jiwa pemimpin atau tidak.

Gambaran keadaan tersebut jelas menunjukkan bahwa sebenarnya menjadi seorang pemimpin itu tidaklah mudah, cukup berat dan sulit. Berat beban yang dipikulnya itu bisa jadi melebihi berat tubuhnya sendiri. Karena, di dalam diri seorang pemimpin banyak hal yang harus dikendalikannya dan diterjemahkan dalam kehidupan nyata.

Seorang pemimpin yang memang benar berjiwa pemimpin adalah orang yang jujur, jujur tidak hanya kepada orang lain, tetapi juga pada diri sendiri dan pada Allah yang memberinya jalan, luwes, bijak, teguh, konsekuen, pendiriannya tetap dan tak berubah, asalkan sesuai dengan kata hatinya. Tentu saja yang diucapkannya itu telah pula dilakukannya terlebih dahulu. Yang diucapkan sesuai dengan perbuatannya sendiri. Seorang pemimpin tidak akan pernah munafik. Mereka adalah yang bisa mengayomi masyarakatnya, pelindung di kala kesulitan menjemput, penengah di kala sedang dilanda masalah, dan penemu jalan kunci menuju kebenaran.

Pemimpin yang demikian akan menyatu dengan segala lapisan masyarakat, baik kecil, tua, muda, kaya atau rakyat jelata sekalipun. Segala keputusannya merupakan keputusan yang tidak merugikan pihak manapun. Dalam mengambil kebijakan pun ia tidak sendiri, ia menarik simpati rekan-rekannya untuk terus menemukan jalan terbaik dengan berbagai masukan yang harus ditempuhnya, tetapi tetap berpijak pada keputusan terakhir berada di pundaknya. Ia tidak akan pernah menyakiti baik secara lisan atau tulisan, tidak goyah atau terpancing dengan segala macam bentuk rintangan yang menghadang perjalanan kepemimpinannya dan tidak pernah melupakan asal usulnya.

Idealnya, pemimpin itu adalah mereka yang siap membuka matanya terhadap maju mundurnya sesuatu yang dipimpinnya dan bijak menyikapi segala bentuk persoalan yang ditemui. Pemimpin siap menderita kalah dan kekalahan itu dianggapnya sebagai cambuk untuk mengubah kehidupan yang lebih baik. Dia segera menyiapkan jurus baru untuk mencapai kebahagiaan semua anggota yang dipimpinnya.

Berkenaan dengan apa yang telah dicapai dan berdaya guna bagi masyarakat sekelilingnya, pemimpin yang baik itu tidak akan pernah mengatakan sesuatu itu telah berhasil kalau tidak ditanya. Tetapi, tanpa ditanya pun pemimpin yang benar berjiwa memimpin akan selalu memperioritaskan segala yang belum berhasil untuk ditindaklanjuti dan diperbaiki dengan perencanaan yang benar-benar matang.
Meskipun kepala itu seorang pemimpin, bukan berarti ia nomor satu, yang paling hebat, bukan. Sekali lagi bukan. Ia seorang yang berada di garda terdepan, yang paling bertanggung jawab, dan menunjukkan arah yang hendak dicapai oleh sebuah kelompok yang dipimpinnya. Meskipun demikian, bukan berarti ia meremehkan segala yang disampaikan bawahnnya, tidak. Pemimpin yang baik itu menerima semua masukan demi kemajuan bersama.

Akankah kita sudah seperti itu? Bila sudah, kita adalah pemimpin yang sesuai dan dicari oleh semua lapisan masyarakat, dan kita cocok jadi pemimpin yang berjiwa memimpin.