Dalam zaman canggih ini, kita sebagai manusia banyak yang melakukan kekhilafan, baik secara sadar ataupun tidak. Buktinya telah banyak kita lihat di permukaan bumi ini. Corak perbuatannya pun tak bisa kita hitung lagi dengan jari. Akankah ini terus begini sampai kiamat tiba? Akankah ada pelajaran berarti yang dapat mengubah hal itu bagi anak kita ke depan?
Sadar atau tidak, segala itu terjadi karena kita tidak tahu lagi siapa diri kita yang sebenarnya, sudah banyak yang meninggalkan kodrat diri sebagai manusia yang suci sebagaimana dulu dilahirkan, percaya atau tidak ? Kita ini siapa? Apa sebenarnya yang telah kita perbuat untuk kita? Semoga tulisan ini dapat mengajak kita untuk berkaca dan berlaku sesuai kehendak Allah.

Kita manusia yang mana?
Kita adalah manusia. Manusia adalah kita. Kita juga topeng. Topeng ada dalam diri kita. Kita adalah makhluk yang senantiasa bertukar tindak tanduk, terkadang baik, terkadang pula buruk, bahkan mungkin keduanya melekat di diri kita.
Kita adalah tanah. Tanah juga diri kita. Kita sama dengan air. Air itu kita juga. Kita pun udara, udara ada dalam diri kita sendiri. Kita juga api. Api pun ada ikut dengan diri kita. Lantas, kita ini siapa ? Kita yang mana ? Yang baik dan beretika seperti lebah yang selalu bersih dan suci, banyak khilaf seperti seekor lalat yang tak bisa membedakan kotor dan bersih ( mau keduanya ),mau menang sendiri bak harimau di padang hutan belantara, atau yang sadar akan dirinya ? Itulah kita, kita bukan apa-apa.
Sebagai manusia, kita tercipta dalam keadaan lemah (Annisa 28), walaupun diberi akal dan pikiran. Kita bukan apa-apa. Kita harus menyadari dan memikirkan asal usul kita. Kita dari mana, mau kemana, dan untuk apa kita ada.
Hai manusia, sadarkah kita bahwa kita diciptakan sebagai penghamba kepada-Nya (Adzdzariat 56) dengan tidak ada keraguan sedikitpun ? Kita bukan apa-apa. Kita ini miskin lagi dina papa, bukan orang kaya pemilik harta. Kita kaya tetapi bukan pembuat harta. Kita cuma makhluk bernyawa sama dengan lainnya. Kita makhluk pinjaman yang tunduk atas segala titah yang tak mungkin dilupakan begitu saja. Kita nggak memiliki apa-apa, makhluk yang banyak dosa, yang selalu dibuai mimpi dan nista. Kita juga kerap mendatangi mara bahaya yang seharusnya dihindari. Yang selalu tak puas dan membanggakan diri. Yang berego tinggi dan tak pernah mau mengalah. Yang kerap menyalahkan orang lain tetapi tak pernah mengakui kesalahan sendiri.
Allah telah mentakdirkan kita lahir tanpa membawa sehelai benang pun dan tanpa pengetahuan. Tiada satu hal pun yang kita ketahui. Ingat, yang kita lakukan cuma bisa nangis dan merintih. Setelah mengarungi samudera yang begitu luas, kita pun lahir. Lahir dalam keadaan polos ibarat kertas putih yang masih bersih dan belum dicoreti apapun. Cuma sebongkah iman di hati yang kita ijabkan waktu dalam kandungan ibunda. Itulah yang kita bawa ke dunia. Namun sayang, kita nggak pernah mau menyadarinya apa yang telah hadir bersama kita. Sepertinya kita melupakannya begitu saja.
Ingatlah manusia. Kita bukan apa-apa. Kita cuma tanah kering berbau busuk dan hitam kelam, jelek lagi menjijikkan (Al Hijr 26) Kita cuma tanah kering. Kita hanyalah air yang hina (Al Murshalat 20), setetes mani yang terpancar dan bercampur (Al Insan 2). Kita cuma tanah. Tanah…….. dan akan kembali menjadi tanah lagi (Al Anaam 2).
Kita bukan emas atau permata yang selalu dibangga-banggakan oleh segala makhluk, dicari-cari setiap orang meskipun banyak halangan yang merintang, dan dipuja setinggi bintang di langit biru bagai artis tiga zaman . Kita bukanlah bidadari atau dewa yang kerap diagung-agungkan oleh pemujanya. Bukan, sekali-kali bukan. Kita hanyalah makhluk yang dicipta sebaik-baik bentuk. Bentuknya baik tetapi bukanlah istimewa. Istimewa tetapi bukanlah segalanya. Bentuknya sama namun ada beda. Beda tetapi bukan berarti kita lebih hebat dari yang lainnya, dan bukan pula kita lebih kuasa. Kita diberi kekuasaan tetapi bukan penguasa yang bisa mengatur sekehendak hatinya. Kita diberi kekayaan yang melimpah ruah tetapi bukanlah pemilik aslinya.
Kita adalah makhluk yang kerap meminta kepada-Nya dengan merendah diri dan rasa takut (Al A’raf 205) dan bukan meminta kepada yang lain. Kita juga adalah pengemis yang lebih parah dari pengemis aslinya. Lantas, mengapa pula kita harus menghina mereka ? Mengapa pula kita harus bangga, loba, tamak, dan memamerkan diri kita dengan kesombongan, keangkuhan, kepongahan, dan kerakusan ?

Sadarilah kita siapa
Sadarilah bahwa kita tak memiliki apa-apa, nggak punya apa-apa, sedikit pun kita nggak punya. Jangankan berlebih, setetes saja kita nggak punya. Kita diciptakan dalam ketakberdayaan. Kita bukan apa-apa walau punya suami, istri, anak, dan harta benda. Kita bukan apa-apa walau kita cantik ataupun ganteng bak bintang layar kaca. Semua itu hanyalah barang pinjaman, barang yang bisa luntur dan habis terkikis termakan waktu, yang sewaktu-waktu akan diambil lagi oleh pemiliknya dan sebagai cobaan (At Taghabun 14) bagi kita agar kita sadar akan keberadaan kita sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan, makhluk yang harus ingat kepada Allah setiap waktu di mana pun dan kapan pun kita berada ( Annisa 103).
Ingatlah, dulu kita nggak ada, nggak berwujud, nggak berbentuk, lalu diadakan, diciptakan, dan dibentuk. Semua bukan kehendak kita, bukan diri ini penyebabnya walau kita berkeluarga pada waktu yang ditetapkan. Semua itu karena Allah, bukan kemauan emak atau ayah kita. Biar emak atau ayah berupaya, tanpa kehendak-Nya kita tak mungkin hadir ke dunia ini. Karena Allah jua kita ada dan diciptakan. Karena Allah pula kita hidup, besar, dan dimuliakan. Karena allah pula nantinya kita dihinakan. Yakinlah dan percayalah semua itu terjadi tanpa kita ketahui namun harus kita pikirkan, kita yakini seyakin-yakinnya sebagai orang yang benar-benar beriman kepada-Nya.
Sekarang, sudahkah kita renungkan itu semua ? Sudah sadarkah kita ini siapa? Tanyalah pada diri kita masing-masing. Jangan tanyakan apa yang telah diperbuat buat orang lain, tetapi pernahkah kita sadari adakah yang kita perbuat itu menyadarkan akan pengetahuan kita tentang diri kita ini siapa ? Sudahkah kita menyayangi diri kita sendiri ?Apakah sudah seimbang yang kita perbuat untuk jasmani dengan rohani ?
Semua jawaban itu terpulang pada diri kita sendiri karena kita bukan apa-apa. Kita makhluk yang tiada daya, namun harus berdaya upaya agar menjadi manusia yang benar-benar manusia yang memiliki nurani sejati dan bukan sebagai orang yang berkawan nafsu belaka. Sekali lagi kita bukanlah apa-apa.

“Telah dimuat di SKU haba Rakyat, Langsa-Aceh, Indonesia, edisi 93 Minggu Pertama April 2010, hlm 7