Gempa dan badai adalah suatu hal yang memang mengerikan sekaligus menakutkan bagi seluruh makhluk penghuni bumi ini. Tidak ada yang dapat menyangkal hal itu walau kita ahli dalam segala macam bidang ilmu. Bila hal ini terjadi, maka semua yang kita miliki, rumah-rumah mewah, kekuasaan, jabatan, dan kedudukan akan sirna begitu saja tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.

Gempa diiringi badai tsunami yang terjadi ini beberapa tahun lampau bukanlah untuk yang pertama sekali jika kita masih mau menatap kehidupan masa lalu. Dahulu sekali, ketika masih zamannya para nabi, hal semacam telah pernah terjadi. Namun tiada manusia yang mau menyadari akan kejadian alam masa lalu. Kejadian dahulu itu hanyalah dianggap angin lalu, seakan tidak akan pernah terulang, karena manusia zaman kini telah dirasuki akan sifat kesombongan dan kemunafikan, sehingga banyak yang melupakan dan menyepelekan segala peringatan Tuhan, padahal telah banyak tanda kekuasaan-Nya yang telah ditunjukkannya kepada kita. Marilah dari sekarang kita ingat-ingat teguran Allah itu dan kita jadikan sebagai pelajaran yang amat berharga.

Gempa dan badai tsunami yang melanda Indonesia khususnya Aceh dan wilayah lain di dunia adalah bukti bahwa Allah ingin membuktikan jati diri dan kekuasaan-Nya dengan kasih sayang-Nya kepada kita semua. Allah memberikan pelajaran agar kita senantiasa tidak melupakan-Nya, kita ingat terhadap nikmat yang telah dicurahkan, kita ini tidak hebat, kita ini rapuh serapuh-rapuhnya..

Ingatlah itu semua, sesungguhnya nyatalah bahwa Allah masih menginginkan semua ciptaannya ini tetap tunduk dan patuh atas segala perintah, dan jalan dalam garis yang diridhoi-Nya. Dia memberikan peringatan dan teguran keras kepada umat manusia yang membangkang yang telah diberi peringatan berulang kali dan tidak mengindahkannya, dan kita semuanya yang masih tinggal ini agar senantiasa mempelajari alam kehidupan-kehidupan terdahulu, mengamati keadaan alam yang terjadi di depan mata, dan meyakini benar bahwa begitu mudahnya Allah jika Ia ingin mengubah dan mengganti suatu kaum dengan kaum yang lain tanpa harus permisi dan pemberitahuan terlebih dahulu.

Gempa dan badai tsunami ini bukanlah sebuah fenomena belaka, bukan hanya sebagai suatu kejadian alam atau pergeseran yang terjadi di dalam bumi seperti yang dikatakan oleh para ahli ilmu pengetahuan, tetapi sesuatu kenyataan bahwa Allah menegur kita agar kita tidak lengah, lalai, lupa, loba, tamak, rakus, menang sendiri, korupsi, dan bertingkah di luar batas adat, susila, dan ajaran agama.

Lihatlah sejarah kehidupan umat manusia masa lalu. Umat Nabi Nuh pun lenyap ditelan air bah yang maha dahsyat dikarenakan mereka ingkar kepada Allah Tuhan mereka yang menjadikan dan mematikan umat-umat itu. Peristiwanya bukan karena gempa bumi atau pergeseran perut bumi, melainkan sebuah peristiwa dimana Allah menghendaki untuk menggantikan umat masa itu dengan umat yang lain, sehingga tidak ada lagi orang-orang yang ingkar kepada-Nya.

Umat Nabi Luth pun begitu adanya. Mereka lenyap tak tersisa karena tingkah mereka sendiri yang sudah di luar batas norma agama. Kemegahan, kemunafikan, peristiwa asusila menyadomi orang pun mereka bayar mahal dengan kehancuran diri mereka, anak-anak mereka, dan seluruh kehidupan dalam suatu wilayah. Akankah peristiwa semacam ini tidak lagi menjadikan pelajaran dan hikmah bagi kita di sini ?

Sekarang marilah kita berkaca diri mengenang peristiwa yang terjadi di negeri ini berapa waktu lalu.
Minggu pagi 26 Desember 2004, di bulan penghujung tahun, mulanya awan tanpak bersahabat. Cerah menyinari alam ini. Kicau burung masih terdengar riangnya. Tidak tampak guratan alam yang memandang dengan kebencian. Semuanya bersahabat, bersenang ria, bergembira, berlari pagi menyambut pagi alam ciptaan Tuhan.

Tak berapa lama, masih dalam hitungan detik, sekonyong-konyong, tiba-tiba saja datangnya, tanpa ada yang menyadari, pukul 07.58 sebuah hentakan dahsyat menyeringai, berguncang, meluluh lantak menyentak ketenangan jiwa. Guncangannya begitu keras membahana ke seluruh penjuru wilayah kekuasaan Tuhan. Guncangan dahsyat itu diiringi air sungai yang kering seakan dihisap laut dan orang-orang pun berhamburan mengejar dan mengumpulkan ikan-ikan. Sekejap kemudian air pun bergerak, gerakan air begitu cepat, melebihi kecepatan mobil balap formula one. Riaknya besar, bergelombang, dan berulang kali. Porak poranda pun menghiasi alam ini. Semuanya, besar kecil, kaya miskin, tua dan kuat, gedung dan rumah sederhana, hanyut terbawa arus.

Orang-orang pada bingung lintang pukang. Masing-masing menyelamatkan diri. Seorang penguasa tak mampu meredam lajunya maut yang tengah mengintai dengan kekuasaan yang ada padanya, seorang ahli teknologi tak sanggup menghadang bencana yang tengah menerpa dirinya dengan keahliannya, dan konglomerat tak bisa menahan badai yang menghancurkan kekayaannya dengan kekuatan yang ada padanya. Harta, kedudukan, dan pangkat yang melekat tak menjamin keselamatan manusia pada waktu itu. Semua gelar itu ditinggalkan, sanak saudara pun dibiarkan. Mereka berlari jauh sekali, menangis kuat penuh ketakutan, menghindar jauh dari gedung tempat mereka tinggal. Mengapa mereka harus menghindar ? Mengapa tidak ada di antara mereka yang mencoba untuk menghentikannya ? Di sinilah baru kita sadar bahwa kita ini nggak ada apa-apanya. Tak satu pun yang sujud kepada Tuhan waktu itu. Kecuali yang selamat, mereka ingat kepada Tuhannya.

Selepas itu.
Raut wajah Serambi Mekkah pun berubah wujud. Bumi retak terbelah dan tercabik-cabik. Awan tampak tak bersahabat lagi. Gelap nan pusing mengitari bumi. Kicau burung dan cicit ayam pun hilang lenyap tak lagi mengangkasa mengiringi jeritan dan pekikan tangis anak manusia. Mayat bergelimpangan di sana-sini. Alam jadi kotor, semrawut, air pun jadi hitam kelam nan menakutkan. Alam memandang manusia dengan sinis, penuh kebencian dengan sorot mata yang menakutkan. Alam memberikan perhitungan tanpa pernah permisi lebih dahulu. Mengapa ini bisa terjadi begitu cepat ????????? Jawabannya ada pada kita sendiri.

Kini, setelah bencana itu terjadi, setelah mayat bergelimpangan di sana-sini, setelah semuanya hancur berantakan, setelah porak poranda, setelah kota menjadi mati tak bermakna, kita mulai sibuk berbenah diri. Kita mengatakan semua adalah saudara, mereka adalah kita, kita adalah mereka. Mata kita baru terbuka. Hati kita baru tersentuh nilai rohaniah. Manusia pun bersatu padu, berlomba-lomba menyingsingkan lengan baju, mengulurkan tangan, memberikan bantuan. Hilanglah seketika rasa kebencian di mata, dan menjelma menjadi mutiara kasih sayang yang dulunya menjauh tak terpikirkan. Orang-orang berupaya menhapuskan genangan air mata kepiluan makhluk tersisa. Apakah dengan bencana ini tidak membuat kita sadar ??? Apakah kita masih memikirkan ego kita sendiri tanpa menyadari bahwa suatu saat kita perlu bantuan orang lain dan kita jadi tercabik-cabik, terpecah belah karena hanya mementingkan kejayaan sendiri ???

Bencana gempa dan tsunami yang terjadi di negeri ini adalah teguran keras buat kita yang selama ini telah melupakan Tuhan, telah semena-mena bertingkah di luar norma agama, telah mencabik kehidupan sesama umat, dan bagi kita yang selama ini hanya mementingkan diri sendiri. Sadarilah bahwa bencana ini salah satu dari empat fenomena alam yang dinukilkan Allah dalam Al Quran selain beradunya bintang di langit, bangkitnya manusia dari kuburnya, dan hancurnya bumi tempat berpijak.

Mari, mulai saat ini, kita merenungkan apa yang telah terjadi. Kita berkaca apa yang telah kita perbuat selama ini. Kita tanyakan apakah tindakan yang kita lakukan selama ini sudah benar atau belum. Sehingga bencana yang kedua tidak akan pernah menyapa kita lagi. Kita bisa hidup damai dan berkasih-kasihan, kita bisa berlaku adil dan tidak membeda-bedakan, saling menjenguk dan menyapa, saling membantu dan menghilangkan rasa iri terhadap orang lain, menyalurkan hak bagi setiap orang yang berhak, dan tidak memakan harta yang bukan milik kita.

Semoga apa yang terjadi mampu membuka mata dan menyentuh hati kita sehingga Allah tidak murka kepada umat-Nya.