Saat senja menampakkan dirinya, aku sedang duduk santai menikmati hidangan sore bersama keluarga. Terdengar olehku kicau burung menyanyikan lagu kerinduan memelas jiwa. Rindunya burung-burung pada sanak keluarga. Mereka ditemani cicit anak ayam yang sibuk pulang ke kandang. Tawa mereka pun beda. Ayam-ayam piaraan tetangga bersorak-sorai sebab sejenak lagi kenduri keluarga dimulai. Burung-burung ciptaan-Nya hanya bisa menatap kosong menyaksikan makanan banyak mubazir.

“ Oh……, bagi-bagilah rezeki kalian ……!” teriak burung-burung.

“ Hai kawan-kawan, biarkanlah mereka berpesta, sebagai gantinya dengarlah nyanyianku yang bikin kita semuanya senang !” teriak kodok-kodok di samping rumah.

Saat itu pula, tanpa kusadari butir-butir salju mulai mencair mengiris jalan menuju lembah nan indah. Ya….. titik jeritan kasih pun mulai membasahi kedua pipiku.

“ Apa gerangan ?”

“ Oh, pilunya hati ternyata tidak bisa diobati oleh seorang dokter manapun.”

“ Kenapa kamu ? Apa yang berkecamuk dalam pikiranmu ? Apakah kamu sedang ditinggal pergi orang tuamu ? “ Suara-suara aneh itu pun menggilirkan pertanyaan-pertanyaan di daun telingaku.

“ Kasihan, aku kasihan sekali, sedih !”

“ Kasihan dengan siapa ?”

“ Hei, kita tidak boleh bersedih benar, cobalah bahagiakan dirimu sendiri !” teriak suara yang lain.

“ Sudah, sudah, jangan sedih, aku bisa membahagiakan kalian !”

“ Jangan ragu, jangan turuti nafsu kebaikanmu itu, ayolah ikut aku !”ujar suara-suara itu lagi.

“ Bagaimana tidak sedih dan terkoyak-koyak hatiku menatap sosok bayang pengemis tua renta menggapai-gapaikan tangan terkasih mengharap jasa baikku demi hidup hari esok. Dia datang menghampiriku. Mulutnya komat-kamit. Orang tuaku bilang, pasti dia sedang berdoa. Aku tidak tahan melihatnya lama-lama.”

“ Sudah, sudah, tak usah kaupikirkan orang tua itu. Kan salahnya sendiri. Kalau aku, boro-boro membantunya.”

“ Tidak……., tidak…….., jangan ganggu aku ! Hatiku berkata aku harus menolongnya. Aku tidak bisa membiarkannya merana seperti itu. Aku tak tahan.”

“ Bodoh benar kamu. Itu namanya menyusah-nyusahkan dirimu saja, tolol !” Suara-suara itu semakin gencar memburuku. Masing-masing ingin menang.

“ Bagaimana ? Bagaimana ? Kau masih juga kasihan ?”

“ Apa untungnya kamu menolong dia ?”

“ Ya, apa untungnya ?”

“ Kamu bukan semakin untung, melainkan menjadi rugi, tahu  ?”

“ Ah, masa bodo dengan kalian. Yang penting, kata hatiku telah bulat. Tidak ada yang bisa mencegahku lagi. Aku harus menolongnya. Menurutku, itulah yang terbaik daripada membiarkannya tetap sengsara.”

“ Duh, teman-teman. Cobalah tatap, jalannya itu !”

“ Beri saya sedekah, Nak. Belum makan dari pagi. Tolong, Nak……sesuap nasi dan seteguk air !” pinta pengemis penuh iba.

“ Hai teman-teman, rupanya dia belum makan ! Ha……ha……ha……!”

“ Kalau anak itu membantunya, bodohlah dia !” teriak suara yang lain.

Tanpa pikir lagi kuajak kedua kakiku melangkah ke dalam rumah, sementara dia kupersilakan duduk di beranda depan.

“ Wah, bisa gawat kita. Apa pula yang akan dikerjakannya di ruang makan. Jangan-jangan hendak membagi rezeki. Celaka, orang lain dapat makan, aku tidak kebagian. Ayo teman-teman, kita goda lagi dia!” teriak si raja usil.

“ Duh, mau-maunya kamu menyediakan makan untuknya. Bodoh amat. Lihatlah, perutmu saja masih perlu diisi, eh malah menyibukkan diri untuk orang lain. Apakah tidak baik kamu makan sendiri ?”

“ Betul kata kawanku tadi. Aku gemuk karena banyak makan. Kasihan kan kalau ibu telah bersusah payah menyayur e….ternyata hanya untuk beri makan orang lain ! Contohlah aku !”  Suara-suara di daun telingaku semakin merajalela.

Biarlah kawan-kawan pada ngomel terus, aku tidak peduli.

Sesaat kemudian.

“ Kok banyak sekali, Nak ? Engkau sungguh baik sekali. Kalau boleh aku tahu, siapa namamu, Nak ? “ pengemis itu bertanya kepadaku. Ia terheran-heran memandang piring di depannya yang penuh nasi, lauk-pauk,  dan secangkir air. Aku memandanginya terus sampai-sampai lupa terhadap pertanyaan yang diajukannya.

“ Siapa namamu, Nak ? “ tanya pengemis itu sekali lagi.

“ Sari, Pak. “

Kutatap  lagi dirinya sepuas-puasku. Lihatlah teman, bajunya lusuh seperti tidak terawat lagi. Kumal dan……..Rambutnya kusut seribu belah. Sorot matanya seakan tidak punya harapan lagi. Kedua kakinya yang telah keriput tampak jelas tidak beralas dan bersarung. Pipinya sedikit menggambar kepulauan yang perlu mendapat perhatian. Makannya begitu lahap sekali membuatku menjadi senang tak terkira. Aku semakin akrab dan ingin tahu lebih banyak lagi.

“ Mengapa Bapak bisa begini ?” tanyaku heran.

“ Dulu, ketika muda, aku orang senang, penuh kegembiraan.”

“ Nah, apa kubilang, dia anak orang gede kan ?” kata suara itu menggoda lagi.

“ Itulah kamu tidak mau dengar cakap kami beberapa menit yang lalu. Kalau kau ikuti kata-kata kami, pasti………”

“ Ah, masa bodo, kau kaulah, aku ya aku. Aku tidak mau menuruti kata-kata kalian yang menyesatkan diriku nantinya.”

Eh, teman-teman. Suara-suara itu terus saja menguntit. Mereka tak bosan-bosan meskipun aku coba menangkisnya. Kayaknya suara itu ingin mengubur diriku hidup-hidup. Lucu ya ……?

“ Sekarang semua tinggal kenangan. Diriku telah renta dan mungkin sebentar lagi magrib akan menjemputku. Aku tiada sanak saudara. Sepanjang jalan kerjaku kini hanya meminta-minta sambil menyorongkan kaleng susu kosong memohon belas kasihan. Setiap hari badanku kuyub bermandikan hujan badan sendiri dan dari langit serta terik mentari yang menyengat kulit. Pondok  juga tiada ingin singgah padaku, apalagi sawah ladang. Terkadang aku tinggal di emperan toko. Tak seorang pun yang………Itulah aku karena salahku sendiri, bukan salah bunda. Memang begitu sudah goresan pena Illahi atas diriku. Hidup melunta-lunta, dicemooh, dan dihina. Dulu, ketika orang tuaku senang, aku lalai dan malas belajar. Akhirnya ya begini. Untung ada Nak Sari. Kalau tidak, mungkin  lelah semakin membuatku tak berdaya,  ”  jelas pengemis itu.

“ Bapak tidak perlu menyesali diri. Bagaimana, Pak, apa Bapak mau tinggal di rumah saya ini ?” kataku menawarkan jasa baikku.

“ Duh, mau-maunya dia menawari begitu.”

“ Eh, kok kamu mau ikut-ikut repot mengurusi si Tua Bangka itu. Bapak kamu saja tidak kamu urus, e…malah sok jadi dewi segala. Urus dirimu sendiri kan bagus. Ayolah, tinggalkan dia !”

“ Hei, Usil, sekali lagi kamu mengganggu aku, kubakar kamu dengan satu ayat !” bentakku pada suara-suara itu.

Suara-suara itu pun kemudian menghilang.

“ Bagaimana, Pak, mau ?” tanyaku meyakinkan.

“ Ah, tidak usah, Nak. Bapak malu rasanya. Nanti menyusahkan ibu bapak anak sendiri.”

O ya teman-teman. Sebelum pergi, aku masih sempat membungkuskan pakaian-pakaian yang sudah tidak terpakai lagi namun masih bagus. Khususnya pakaian bapakku. Masih baru, bahkan ada yang belum pernah dikenakan. Kelak bisa menggantikan pakaiannya yang telah lusuh. Mungkin sudah sekian kali tak dibersihkannya atau diganti. Kuberikan semua itu dengan ikhlas.

Pengemis itu berlalu meninggalkan aku dengan senyumnya yang sangat penuh persahabatan.

Bapakku gembira hatinya tatkala kuberikan bingkisan kepada orang tua tadi. Bahkan ia masih menyempatkan diri memberinya lagi untuk oleh-oleh berupa makanan tambahan untuk di jalan.

Kutatap lagi wajah tua itu sampai menghilang di balik awan yang temaram. Selamat jalan saudaraku……………….!!!!!!!!