Mendung pagi mengalun tebal
menutupi jendela-jendela kehidupan
mengiring gerak langkah kita
mengejar bayang-bayang
dalam sekali langkah
meninggalkan tabir kealpaan
siap menerkam urat-urat pintu kehausan
kehausan yang melanda tanah kering sahabatku

Pagi ini juga burung-burung memberi kabar
hilangnya kasih sayang di tengah jalan
merengkuh mendekap tanah tak bersuara
melepaskan bunga-bunga yang merintih
pedih menyayat hati tak terkira
karena lupa menghampiri dada

Pagi ini juga bapakku terkapar
terjerembab melolong di bawah besi-besi tua
tak ada tenaga yang membantu
kecuali beton kekar penghempas kepala

Pagi ini juga kami mengharap
belaian tanganmu singgah lagi
di pintu pelabuhan anakmu
yang tak menginginkan ratapan
mempir menggerogoti sanubari
sebelum lonceng berdentang untuk kembali pada-Nya

Lhokseumawe, 10 Jan 90