By Ridha Nori Irianto

Setahun sudah Topeng menuntut ilmu agama dari kakeknya. Baginya itu belum seberapa. Ia belum merasa puas. Anak itu masih ingin menuntut ilmu lebih banyak lagi. Oleh sebab itu, lelaki itu ingin mengikuti hasrat hatinya. Dia mengembara entah kemana sembari menyumbangkan ilmu yang sudah dimilikinya. Dengan berbekal ilmu itu pula Topeng mulai melintasi daerah yang ada di tanah leluhurnya. Ia masih sendiri, tidak ada yang menemaninya kecuali sebuah kitab suci.
Di desa yang disinggahinya, di pedalaman jauh di balik gunung berlembah nan indah, lelaki itu menjadi guru agama. Pemuda-pemuda tanggung, anak, dan remaja, bahkan orang tua, serta tetua adat Peureulak pun ikut belajar bersamanya. Sekejap saja muridnya telah berjibun, banyak, berpinak-pinak, yang berguru kepadanya. Mereka menyenanginya karena Topeng berakhlak baik. Seluruh umur digunakannya untuk beramal. Sebab, baginya beramal itu sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Beramal itu ibarat kita menanam sebiji tanaman. Satu yang ditanam akan menghasilkan tujuh tunas baru, yang masing-masing tunas akan memiliki tujuh puluh cabang, setiap cabangnya akan menghasilkan seratus tunas-tunas baru, dan tiap tunas barunya itu akan mendatangkan seribu cabang berikutnya. Betapa banyaknya dan kita sendiri tak mungkin dapat menghitungnya.
Pada suatu hari, ia membeli sebuah cerek di kedai atau toko kampung itu. Benda yang dibelinya itu sudah sangat tua dan berkarat pula.Sepertinya telah tidak berharga lagi. Meskipun demikian, Topeng sangat senang pada benda tersebut. Karena mengumpulkan benda-benda bekas adalah salah satu kegemarannya sejak kecil. Orang tuanya sempat menjulukinya dengan si Mainan Ajaib.
Di rumah pondoknya, di rumah sementara, di rumah yang disinggahinya, benda itu dicuci, dibersihkan, dan depernisnya. Benda itu pun berubah, tidak buruk lagi. Wanginya menyibak ke mana-mana. Bersih dipandang dan menyegarkan. Cek ile..!! Tidak lama kemudian, dia memanggil ketiga murid pilihannya.“ Coba lihat benda apa ini ! “ katanya.Ketiga anak didiknya menatap heran dan tidak tahu benda yang di depannya itu.“Sekarang aku akan membuatkan kalian minuman yang lezat. Minuman bukan beralkohol, tetapi minuman yang menyehatkan, membangkitkan sendi gerakmu, dan.. pokoknya siiip !” ucapnya penuh bangga.
Cerek itu diletakkan di perapian. Tiba-tiba saja ada keanehan menjelma ke permukaan.Ia berekor dan memiliki empat kaki.“ Oh, panas.., aku terbakar…aku terbakar..!” teriaknya sembari melompat ke luar dari api dan terus lari. Cepat sekali larinya, kayaknya melebihi kecepatan sprinter dunia saja.Keheranan Topeng semakin bertambah karena cereknya sudah minggat dari perapian.
“ Cepat tangkap.., jangan sampai lolos !” teriaknya keras.
Seorang di antara siswanya memegang sapu ijok, yang lain memegang kayu bersulut api, sedangkan yang satunya lagi memegang bambu dan terus mengejar. Ketiganya tidak berhasil menangkap benda yang berbentuk seperti burung itu. Mereka kalah cepat dengan Topeng. Benda yang bersembunyi di balik semak berhasil ditangkapnya.
“Sekarang, aku ingin menjualmu ke pasar burung atau juga ke pasar loak!” katanya.
“Jangan, Tuan, aku takut. Mudah-mudahan aku nanti dapat menolong dirimu, kumohon Tuan, kumohon..!” kata benda itu lirh dan penuh harap kecemasan.
Topeng senang mendengarnya. Gembiranya menyeruak, menyebar-nyebar, berakar-akar, dan berserak-serak itada kira. Dipandanginya benda itu dengan seksama. Dikecupnya pelan-pelan, beulang-ulang, sampai menyentuh jiwanya, nalurinya, hatinya, dan perasaannya yang paling dalam. Dibelai-belainya, digendong-gendongnya, dan ditimang-timang seperti anak bayi yang baru dilahirkan ibunya beberapa hari.Sejak saat itu, sejak perhitungan detik dimulainya, sejak kedua tangannya menyentuh jiwa raga benda itu, sejak itu pula ia merawatnya dengan baik dan tulus ikhlas, tanpa basa-basi, tanpa dusta menyelimuti hati.
Setelah sekian lama, pada suatu malam yang gelap gulita, tidak tampak cahaya di luar rumah, tidak ada kunang-kunang yang menerangi, dan tidak pula bulan menyinari alam semesta ini, ketika Topeng selesai shalat tahajud, ia mendengar suara aneh dari cereknya yang amat disayangnya itu.
“Tuan,Tuan Muda, aku sangat berterima kasih padamu karena Tuan telah merawatku, menyayangiku, dan melindungiku. Sekarang aku ingin membalas kebaikan, budi baikmu itu. Izinkanlah aku untuk melakukannya !” “ Kamu…??!!” “ Ya, ya……kalau Tuan mau, Tuan bisa mencobanya, “ kata Cerek.“ Mau apa….?” tanya Topeng lagi.
“ Hanya dengan bismillah, Tuan dapat menjadi kaya, banyak harta dan berlimpah-limpah.”
“Bukan harta yang kucari. Harta yang banyak itu bukan milikku.”
“ Ya, ya, memang bukan milik Tuan, tetapi milik orang yang memang membutuhkannya, membutuhkan pertolongan tuan. Mau ya, Tuan ?”
“ Maksudmu ?” tanya Topeng agak ragu.
“Dari perutku akan keluar kepingan emas. Kuminta jangan sampai ada orang lain yang tahu selain Tuan. Kalau sampai tubuhku jatuh ke tangan orang lain, maka aku kembali seperti dulu, cerek yang berkarat, peyot-peyot, dan tak berarti. Lakukanlah bila purnama tiba !”
Beberapa hari lamanya kemudian, tibalah bulan purnama. Topeng mencobanya sendiri. Ternyata benar adanya. Topeng menjadi kaya raya. Ia banyak mendapatkan kepingan emas, berbatang-batang, berpetak-petak, dan berlempeng-lempeng. Kemudian dibagi-bagikannya kepada para tetangga sekitarnya yang kurang mampu. Itu berlangsung hingga berbulan lamanya.
Aneh, tetapi itulah yang terjadi. Ternyata masih ada makhluk yang merasa iri kepadanya. Rupa-rupanya di antara muridnya ada yang mengetahui rahasia itu. Ada yang mendengarkan pembicaraan rahasia antara cerek dan Topeng waktu di kediamannya.
Seorang muridnya ternyata busuk hatinya. Ia ingin mencobanya sendiri tanpa sepengetahuan Topeng. Waktu itu Topeng tidak ada di biliknya. Muridnya itu kiranya rindu, tergila-gila pada harta yang berlimpah seperti yang pernah dimiliki gurunya.
Mula-mula sekali, ketika mencobanya memang berhasil. Sekali, dua kali, bahkan hingga ketiga kalinya, muridnya itu menjadi kaya raya. Harta yang ditemukannya itu pun digunakannya sendiri.Ia berfoya-foya sepuasnya, berhappy-happy, bergembira ria. Kedua sahabatnya yang lain juga tidak dihiruaukan, tidak diberi tahu, tidak pula dibaginya, termasuk juga fakir miskin di sekitarnya.Keberhasilan murid yang tamak itu ya hanya sampai tiga kali saja. Ketika ia hendak mencoba untuk yang keempat kalinya, si cerek berubah wujudnya seperti sedia kala. Cerek berkarat seperti dulu lagi.
Hari-hari berkutnya hati si murid yang dengki itu semakin gundah, sedih, duka nggak terbilangkan. Ia takut dimarahi gurunya. Setiap bertemu Topeng, ia kerap menghindar. Anak itu malu sejadi-jadinya. Namun, sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, akhirnya akan tercium juga baunya.“ Anakku, kemarilah !” kata Topeng pada muridnya.Si murid yang loba itu terdiam. Dia nggak berkutik lagi. Mati kutu rasanya. Anak itu telah ketahuan belangnya.
“Sekarang jawab dengan jujur, kamu apakan cerek yang di tungku ? Mengapa dia bisa berkarat lagi ? Ayo, jawab! Jangan bohongi dirimu sendiri. Allah pasti tahu apa yang kamu sembunyikan selama ini !” kata Topeng penuh selidik.
“ Maafkan hamba Tuan Guru, memang hamba yang telah mengambilnya. Hamba yang telah membuatnya demikian, Tuan Guru !” akunya.
“ Baiklah kalau memang benar yang kamu katakan itu. Sekarang kamu harus menanggung akibatnya sendiri. Cukup, hanya sekali ini saja, esok jangan kamu ulangi lagi perbuatanmu yang jelek ini !” kata Topeng mantap.
Akhirnya murid yang serakah itu mendapat hukuman karena memiliki harta orang lain tanpa izin. Topeng menghukumnya dengan hukuman yang setimpal atas perbuatannya yang lalu.