Dulu
tanah itu kubelai
tempatku beriang sukma
tanah sejengkal itu dulu kucium
kupeluk mesra
kubuka pakaiannya
dan kurasakan kenikmatannya
tetapi kini
semua jadi kelam
sirna di pelupuk mata
tak ada lagi kasih kudekap
semua lenyap
hilang cintaku
hilang cintanya padaku

Gara-gara tanah sejengkal
berjibun jiwa beterbangan
berjibun jiwa ditinggalkan
berjibun jerih lenyap tak berbekas
binasakan kasih
menghalalkan segala rupa
melukis jagad dengan cairan pilu
menenggelamkan cinta kalbu
menjelmakan durjana
melahirkan nista duka nestapa

Gara-gara tanah sejengkal
tanpa ingat asal muasalnya
laut menerjang
mencipta teluk-teluk tak bertepi
itukah lukisan yang kita damba ?

Gara-gara tanah sejengkal
akankah tanah itu hilang tanpa makna
tanpa jemari kita mengelusnya
tanpa dihiasi kasih sayang ?
itu semua ada pada kita

Lhokseumawe, 14 Nov 02