“Anak-anak, keluarkan buku ulangan anda semua!”
Suasana hening semakin hening.
“Wah, gawat………….., belum apa-apa sudah ulangan.Jangan-jangan soalnya susah
Namun kuharap soalnya mudah, biar aku dapat menjawabnya, sebab kemarin beta tak belajar. Belum lagi tampang gurunya, duh…. menarik dan mengerikan. Bagaimana dengan kalian?”
“Mah, mampus aku, ulangan rupanya !!! Mengapa begitu mendadak Pak Guru ini bikin ulangan , apa tak ada hari lain ?!”
“Duilah, tak kusangka, biar tampang agak kece, tetapi bikin orang serba ketakutan. Hebat juga !!”
Nah adik-adik, sekejap saja si guru sudah selesai menulis soal di papan tulis. Lumayan soalnya. Mudah, tidak terlalu sukar. Sungguh, meskipun mudah, aku tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu.
“Bingung ya ?”
“ Sudah pasti aku bingung.”
“Lantas, apa usahamu ? “
“Entahlah, selain bingung, aku juga pusing.”
“Pusing ???!!!”
“Ya, pusing. Pusing sekali.”
“Mengapa kamu pusing ?”
“Apa yang hendak kujawab lagi, sudah tahu orang lagi pusing ditanya terus.Apa aku ini seperti mesin mobil yang tidak pernah kehabisan bensin ?? Ayo, mau tanya lagi?”
“Lha, gitu saja marah. Tenanglah , jangan risau. Aku bisa bantu menenangkan kepusinganmu itu.”
“Kau……, kau yang bertubuh kecil begini mau coba membantuku ??!”
“Benar, tetapi kalau kau setuju.Tetapi. sets….., ada pengawas datang. Siap-siap menjawab pertanyaan.”
Oh…, teman-teman, tiba-tiba saja mulutku terkatub mati seperti terkunci rapat. Kepalaku tidak bisa kudongakkan ke atas. Duh, habislah aku. Kalian mau tahu mengapa bisa begitu ? Kalau mau pintar, coba tebak dengan jitu.
“Pak Guru sudah berada di sampingmu,kan ? Ia memperhatikan perbincanganmu dengan temanmu tadi ?Ah, begitu saja takut. Jawab saja begini, aku pusing memikirkan Mike Giver,Pak. Habis perkara. “
“Masih ada lagi. Kalau aku bilang begini, aku sedang teringat Mission Imposible,Pak. Cocok, bukan ?”
“Apa kalian pikir aku ini tolol ???!!!”
“Tidak, engkau tidak tolol.” Suara itu pun menghilang jauh.
Sesaat kemudian guruku menepuk pundakku yang mungkin dikiranya besi. Mungkin, kalau benar ya, tetapi itu hanya emosiku saja yang mengatakan demikian. Aku terkejut, dadaku bergetar kencang melebihi kecepatan mobil patroli jalan raya.
“Mengapa belum dijawab soal yang nomor dua ? Sulitkah itu ?”
Aku bingung menjawabnya bercampur rasa takut yang mendalam. “Ti…tidak,Pak.”
“Lantas, mengapa belum juga kaum menjawabnya ?” desak guruku.
“Aku sedang memikirkan…………”
“Memikirkan apa ?” kata guruku, suaranya agak meninggi.
“Mike Giver,Pak.”
Ger……….semua teman sekelas terbahak.
“Siapa namamu?”
“Wah, Bapak kita sudah pikun, masak nama anak didik sendiri lupa.”
“Diam !!!!”
“Namaku Kokot Belot,Pak.”
“Bagus, esok kamu jadi Mike Giver,ya ?” Ger……..! Si Gendut nyeloteh lagi.
“Mike Giver ??!!! “ Guruku bertanya seperti main-main, namun ada benarnya juga sebab beliau pun punya parabola.
“Betul,Pak. Aku juga menyaksikannya malam tadi,Pak. Pokoknya seru…..”
“Apalagi yang kamu saksikan ?”
“Mission Imposible,Pak” teriak Gendut dari belakang. Ger……
“Anu, Pak……..??!”
“Apa yang ingin kamu katakan ? Ayo, jawab saja !”
“Kaulah ..!”
“Aku….?!”
“Ya, kamu .” Telunjuk guruku mengarah padaku.Sepertinya ia tengah membidikkan senapannya, tepat sekali. Kali ini aku tidak bisa menghindar, mati kutu rasanya. Sebagai lelaki kucoba untuk menjawabnya. Kalau pun marah ya sudah, memang sudah takdir.
“Dunia dalam berita,Pak!”
“Bagus, tepat sekali jawabannya.”
Nah adik-adik, ternyata jawabanku direstui guruku. Beliau tidak marah, malah jawabanku membuatnya tersenyum. Manis sekali. Lesung pipitnya tampak dalam bagai ngarai nan indah. Sayang, sayang sekali aku tidak memilikinya. Selagi aku mernungkan tentang ngarai, bos kita yang akrab dengan kapur ngoceh, “Kumpulkan tugas kalian!”
“Oi mak, berapa nilai yang kudapat nanti? Apakah masih tetap berwarna –warni?”
“Kan bagus kalau berwarna-warni, indah lagi.”
“Amboi, indahnya sih boleh, tetapi tak enaknya tiba di rmah pasti kena palang pintu.”
“Masih lumayan kalau itu.Aku lain dari yang lain. Aku tak diberi uang jajan.”
“Jajan…???!!” kata Cekgu heran.
“Ya, Pak. Kokot tak diberi uang jajankalau nilai hari ini jelek.”
“Bagus, saya juga demikian.Kalau anak saya dapat nilai jelek, pasti tak saya beri,bahkan mungkin bisa lebih dari itu.”
“Misalnya,Pak?” tanya yang lain.
“Saya akan suruh dia ciptakan puisi.Puisi pengalaman pribadinya tentang kesalahan dan ketidaktahuannya.”
“Saya mau,Pak ! Aku juga,Pak ! Aku pun tak ingin ketinggalan,Pak! Aku juga.Aku juga!” teriak kawanku silih berganti.
“Lebih baik kita semua !” kata guruku mengakhiri pelajaran hari itu.