Dahulu, sudah lama sekali, dalam sebuah hutan hiduplah sebuah pohon. Pohon itu sering disebut pohon ek. Batangnya tinggi besar menjulang. Daunnya hijau melebar nan panjang.
Di situ pula tinggal juga seekor Tupai Tanah. Ia tengah berkeliling-keliling. Si Tupai Tanah mendengar suara tangis yang memelas jiwa. Rintihnya keras melengking tinggi. Ou…ou, kasihan sekali, pikirnya.
Tupai Tanah menghentikan langkahnya. Kedua telinganya dibuka lebar agar dapat menangkap jelas-jelas suara itu. Lebar sekali kayak lebarnya sebuah parabola bisa menangkap siaran mancanegara. Sesekali kupingnya digerak-gerakkan. Untuk memastikan suara itu, ia pun memanjat sebuah pohon yang cukup tingi.
Dari puncak pohon nan tinggi itu, ia melihat ke sekelilingnya. Matanya sedang mencari-cari. Tatapannya begitu tajam.” Wou………,wou………., di sana, di sana,” teriaknya kecil. Ternyata, biarpun jauh, dia bisa melihatnya dengan matanya yang sangat besar. Hebat sekali.
Setelah turun, Tupai Tanah menuju pohon yang dilihatnya tadi. Langkahnya begitu cepat. Ia melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Sekejap saja telah tiba di tujuan.
“ Hei mengapa engkau kurus sekali ?” tanya Tupai Tanah heran.
“ Ya beginilah nasibku. Aku begini karena ulah seorang yang tak bertanggung jawab,” jawab Pohon Ek.
“ Kasihan sekali kamu. Kalau boleh aku tahu, diapakan kamu rupanya ?”
“ Malam itu aku dikerjainya. Tubuhku dicongkel dan diberi garam. Karena keasinan, ya begini jadinya. Hidupku jadi merena, tolong aku sahabat !” pinta Pohon Ek penuh harap.
Tanpa pikir panjang lagi, si Tupai Tanah menolongnya. Ranting-ranting kayu yang kering dikumpulinya. Sekelilingnya digemburkan dan ditimbunnya dengan sampah-sampah kering yang berserak di situ. Nggak cuma itu, ia pun mengambil air di kali yang tidak jauh dari tempat Pohon Ek berdiri. Air itu dibawanya dan disiramkan ke tubuh sahabatnya yang sedang sakit.
“ Makasih sahabat, engkau baik sekali. Sudah berbilang hari ini aku tidak minum. Untung ada kamu, kalau tidak ada, apalah jadinya diriku ini. Begitu baiknya dirimu seindah warna hitam dan krem yang menghiasi matamu,” ucap Pohon Ek kepada Tupai Tanah.
“ Ah, biasa kok. Kita hidup kan harus saling menolong,” sambut Tupai merendah.
“ Sahabat, sebagai balasannya, engkau kuberi hadiah. Engkau boleh makan yang kumiliki. Petiklah buah yang ada di tubuhku, sesukamu !” ucap Pohon Ek yakin.
Betapa bahagianya Tupai Tanah mendapat rezeki yang demikian banyak. Biarpun sahabatnya kekeringan, namun buahnya tetap saja ada. Dipetiknyalah buah ek, dimakan, dan sebagian lagi dibawanya pulang.
“ Terima kasih, aku sudah diberi hadiah,” kata Tupai Tanah sembari memasukkan buah ek ke mulutnya sehingga pipinya tampak gemuk dan ia pun berlari kencang ke biliknya.
Malam harinya terjadi suatu keanehan. Tupai Tanah terkejut setengah mati. Ia didatangi bidadari yang sungguh cantik. Dalam tidurnya itu, bidadari mengharapkan bantuan si Tupai Tanah agar tidak membuang ranting alias tubuh Pohon Ek.
“ Wahai Tupai yang baik. Jangan kau sia-siakan ranting itu. Ranting itu bermanfaat sekali bagimu. Ambil dan bawalah pulang. Engkau harus menumbuknya, lalu masaklah !” kata bidadari kemudian menghilang.
Pagi harinya Tupai Tanah tersadar. Tanpa mandi atau cuci muka, ia pergi ke tempat sahabatnya. Ranting kayu yang tadi dikumpulinya dibawa pulang. Setibanya di rumah, ia melaksanakan apa yang ditemuinya dalam tidur. Ranting kayu itu ditumbuknya dan dimasak. Wou, betapa terkejutnya ia. Bubuk kayu berubah jadi bubur. Enak…, katanya waktu mencicipi bubur masakannya. Bubur itu kemudian diolahnya menjadi roti yang sangat lezat rasanya.
“ Kalau begini kejadiannya, aku akan panggil saudaraku yang lain, biar mereka semua turut menikmatinya,” ucap Tupai Tanah bangga.
Beberapa lama kemudian.
“ Hai Tupai Tanah, kemarilah. Aku ingin kabarkan sesuatu kepadamu !” teriak Pohon Ek memangil-menggil Tupai Tanah yang sedang berkelana.
“ Ada apa ?” tanya Tupai Tanah heran.
“ Terima kasih untuk yang kedua kalinya. Lihat, di sepanjang jalan yang engkau lalui, telah banyak tumbuh keturunanku. Itu berkat kebaikanmu, ” pujinya.
“ Mengapa denganku ?” tanya Tupai tanah lagi.
“ Karena, sewaktu engkau makan sambil pulang kemarin, sisa yang kau buang itu telah berubah menjadi tunas-tunas baru. Aku bersyukur karena Tuhan telah memperbanyak keturunanku dengan bantuanmu !” puji Pohon Ek sekali lagi.
“ Bagus, bagus. Kalau begitu, aku akan melakukannya sepanjang hidupku, biar keluargamu semakin banyak,” janji Tupai Tanah.
Sesudah kejadian itu, Tupai Tanah merenung diri. Renungannya amat dalam dan penuh makna. Otaknya diputar-putar. Kepalanya terus memikirkan sesuatu. Akal cemerlangnya pun datang.
“ Hai sahabatku Pohon Ek. Mengapa tubuhmu bisa begini keras dan kuat ? Boleh aku tahu rahasianya ? Ceritakan dong kepadaku, mungkin nanti aku bisa membantumu lagi,” kata Tupai Tanah.
“ Baiklah, aku akan katakan kepadamu tentang diriku, semuanya. Tubuhku ini kuat dan keras karena aku banyak makan. Sari makanan yang kau timbun ke diriku tempo hari, itulah yang kusantap. Nah, sebagai gantinya, sekarang kau boleh mengambil batangku. Tetapi ingat, jangan kau habiskan, sisakan sedikitlah, biar dapat bertunas lagi.”
“ Untuk apa semua itu ?” tanya Tupai Tanah penasaran.
“ Malam nanti juga engkau akan tahu,” jawab Pohon Ek tenang.
Malam harinya Tupai Tanah nggak bisa memejamkan mata. Hatinya gundah, apa benar yang dikatakan Pohon Ek itu nanti. Tetapi, setahan-tahannya ia bergadang, akhirnya tertidur juga.
Untuk kedua kalinya Tupai Tanah bermimpi. Mimpinya kali ini lain. Yang datang bukanlah bidadari, tetapi makhluk aneh. Tubuhnya tinggi lagi kuat. Si Tupai Tanah dicengkeramnya. Ia mengaduh kesakitan, makhluk itu bilang, “ Kamu jangan takut. Apa yang dikatakan sahabatmu itu benar. Tubuhnya bisa kamu pakai untuk dinding rumahmu, bisa juga untuk lantai rumahmu.”
“ O……ya !” sahut Tupai Tanah. Matanya terbuka, namun si makhluk aneh itu sudah tidak ada di depannya lagi. Keherananlah yang ditemui si Tupai Tanah, “ Aku nggak mungkin membangun rumah dengan kayu ek, tidak. Rumahku kan di antara batu-batu, di dalam lubang lagi. Lucu ya……..? Tetapi , enggak apalah, biar bukan untukku, kan yang lain bisa membutuhkannya. Nah, lebih baik aku jual saja di pasar !”
Sejak saat itu jadilah Tupai Tanah pedagang mebel antik dan malam harinya menjadi penjual roti dari kayu ek. Wou…….., jadilah ia Tupai Tanah yang kaya mendadak, namun tidak pernah menyombongkan diri, sebab ia juga kerap menyebarkan benih pohon ek di tempat yang sering dilaluinya.
“ Terima kasih, Tupai Tanah. Engkau memang sahabat sejatiku !” kata Pohon Ek sambil melambaikan tangannya yang besar ditiup angin kencang.
“ Terima kasih juga. Engkau juga baik kepadaku. Karena engkau, aku bisa bangun rumah dan membuat mebel sampai sekarang,” ujar Tupai Tanah bangga.
Keduanya berpisah sembari meninggalkan nama yang baik untuk semua penghuni bumi ini.