“Wah……..wah……….., bahagia sekali aku hari ini ! Kemarin hujan deras, sekarang panas mentari sedang-sedang. Kulitku nggak akan gosong……..!” Srigala melonjak gembira. Dia melompat dan berlari kayak kesetanan.

Betapa tidak begitu, adik-adik. Karena sekejap lagi panen besar akan mampir di jidadnya. Ia akan memetik hasil yang melimpah dari kebunnya yang amat luas. Mungkin kedua belah matanya sebentar lagi akan berubah warna. Hijau tatapannya menghitung duit yang menumpuk menggunung tinggi. Suara gembiranya yang keras membangunkan seluruh isi kampung.
Hari itu semua penghuni hutan mengumpul di dekat kebun Srigala. Alangkah terkejutnya hati rakyat. Ternyata lolongan tadi cuma omongan besar Srigala. Rakyat yang berkumpul cuma bisa menatap buah-buahan. Jangankan memetik, mendekat saja tidak boleh. Duh, heran pun menganak sungai. Rakyat pada melongo juga takjub pada ketidakpedulian Srigala pada tetangga.
Sesaat kemudian, seekor lebah berteriak lantang.
“ Hei, Srigala……, lihat rakyatmu, mengapa tidak engkau pedulikan ……??!!!”
“ Masa bodoh, itu bukan urusanku !” jawabnya sinis.
“ Kikir amat kamu !” kata yang lainnya.
“ Ya, kamu terlalu pongah, loba, sekaligus tamak.”
“ Masalah tamak atau tidak itu kan urusan dapur sendiri.”ejek Srigala lantang.
“ Hu…..uuuuu…..uuuu ! “ Rakyat pada teriak sekalian mengumpatnya habis-habisan.
“ Hei kawan-kawan, kalian jangan gusar, bingung, dan ketakutan. Ayo, ikut aku ke kebun. Di sana kalian akan bebas menikmati hidanganku. Ayo……..!! “ Lebah buka mulut agar saudara-saudaranya tidak berkecil hati.
“ Nah, Srigala. Coba lihat, lebah kecil, tetapi jempolan. Kalau kamu cuma berbadan besar kayak raksasa, namun hatimu nol besar……..! Kamu kalah, Srigala, kamu kalah, kamu kalah……..!” teriak ular.
Hutan perawan di lereng bukit Lauser sunyi lagi. Yang terdengar cuma gemercik air dedaunan yang jatuh ke bumi. Cicit burung kecil menyambut kepulangan mama tercinta. Rimbunan pepohonan kian menyeramkan rakyat yang lalu lalang namun tidak bagi lebah. Ia makin takjub akan kebesaran Maha Penguasa.
“ Ya Rabbi…..berkahilah limpahan rezeki halal bagi kami. Rezeki bersih tiada noda. Rezeki yang bisa dimanfaatkan bagi semua makhluk penghuni bumi…….!”
Nah adik-adikku manis. Nyata benar, doanya diterima Sekejap kemudian hujan turun dengan derasnya. Tumbuh-tumbuhan semakin subur makmur. Kemakmuran warga kian terasa. Lebih-lebih kebaikan lebah kepada tetangga yang dina papa. Semua berkumpul di satu kebun. Bekerja bergotong royong, bahu-membahu, membersihkan dan membangun istana lebah. Semua senang, gembira, dan bahagia. Tiada rasa kecewa di pundak mereka, sebab rezeki dibagi rata.
Selang beberapa bulan, Srigala datang ke wilayah Lebah bersama temannya. Kedatangannya tetap disambut hangat dan penuh persahabatan. Lebah dan anggota warga menyediakan makanan lezat untuknya. Dia pun diupah-upah, disanjung-sanjung, dan dihormati. Namun apa nyana, Dik ? Kebaikan mereka dibalas Srigala dengan sikap congkaknya.
“ Hei saudara-saudara, lihat diriku, kalian tetap menghormatiku, kan ? Kalian bodoh sekaligus tolol. Lebah, Kupu-kupu, Tawon, Kumbang, dan Burung-burung, ngapain kalian kerja keras di sini ? Lihatlah kebunku, sekakejap lagi akan panen. Aku akan menjadi kaya mendadak. Ha…..ha……ha……..! Besok, besok , itu pasti……! Kebun kalian bagaimana ….?” tanya Srigala pada Ratu Lebah penuh sinis.

“ Ya, mudah-mudahan saja kalau Tuhan mengizinkan, insya Allah kita akan sama-sama memetik hasil,”sahut Lebah rendah.
“ Ah, nggak mungkin, nggak mungkin. Aku nggak percaya, sedangkan sekarang saja masih pentil semua. Mana mungkin ! Kalaupun jadi, kalian ke manakan buah-buahan itu ? “
“ Tentu saja akan kami sumbangkan kepada yang membutuhkan !” jawab Ratu Lebah tenang.
“ Wah, bodoh amat. Mengapa tidak kalian jual dan uangnya kau simpan ?” tanya Srigala lagi.
“ Untuk apa, kan lebih berkah kalau kita bagi semua rezeki itu, biar mereka turut merasakan yang kita rasakan !”
“ Hu……uu……, dasar tolol. Kalau aku, tidaklah yau…..! Oke, selamat tinggal Lebah tolol ! Ye hui…………..!”
Srigala yang berego tinggi itu pun berlalu begitu saja. Lebah-lebah dan warga lain cuma bisa menatap heran melihat tingkah polanya.
“ Kok begitu kikirnyalah dia !” ujar semut.
“ Ya, semoga saja Tuhan memberi petunjuk dan bukti nyata kepadanya agar dia tidak loba lagi.”
Nah, adik-adik manis. Malam kian larut. Srigala dengan tenangnya ngorok. Ia tiada lagi memperhatikan keadaan sekelilingnya. Dia pun terus berkhayal dalam lelapnya.
Sementara itu, di kebun Lebah sedang ramai. Warga pada bersimpuh sembari berdoa memuja-muji kebesaran Tuhan. Harapan mereka doa kebesaran itu bisa dikabulkan. Semoga warga bisa menikmati hasil kerja keras selama ini. Semoga saja begitu.
Pagi harinya Srigala terbangun. Herannya bukan kepalang. Marahnya pun kian memuncak naik.
“ Mengapa, mengapa ladang gandumku mati ……..?? Siapa yang bikin ulah begini ha……?? Apakah ada makhluk lain yang merusak kebunku ….?? Hei, siapa yang telah memporakporandakan ladang gandumku……? Ini pasti kerjanya pasukan Lebah, lain tidaklah. Aku harus beri perhitungan !” teriaknya sambil menghunus parang yang tajam dan putih bersih lagi mengkilat.
Setibanya di kebun Lebah, Srigala mengumpat sejadi-jadinya.
“ Hei pasukan serakah, ayo……unjukkan gigi kalian yang telah beraninya merusakkan kebunku. Ayo……!” tantangnya dengan menghunus senjata yang dibawanya.
Lebah dengan sabar coba meladeninya.
“ Wahai saudaraku, mengapa gusar benar hatimu ? Kamu bilang ladang dan kebunmu hancur berantakan, apa betul …..?”
“ Ini pasti kerja kalian !” tudingnya.
“Ngak mungkin, sedari semalam kami kumpul di sini.”
“ Jadi, siapa ?” tanya Srigala ingin kepastian.
“ Aku cuma bisa kasih nasehat, itulah balasan padamu,sebab kamu selalu takabur. Tuhan tidak mau seperti itu. Nyatanya kamu sekarang sengsara kan ?” ujar Lebah merendah.
“ Oh, mati aku……..! Siapa lagi yang akan menolongku………?” katanya kecewa.
“ Okelah, kami akan membantumu sebisa kami. Tinggal dan menetaplah di istana kami ini !”
“ Terima kasih sahabat. Aku sekarang insyaf !” kata Srigala yakin.
“ Bagus, baguslah kalau engkau telah menyadari kesalahan yang telah diperbuat selama ini.”
“ Betul yang kalian bilang, sampai kini aku tetap makan makanan yang tersisa dari kalian. Itu pun karena kebaikan kalian semua.”
Lebah dan keluarganya tetap menerima kehadiran sahabatnya itu dengan penuh lapang hati.