Hari begitu cerah. Secerah badut membawakan gelak tawa.Burung-burung pun pada ikut ngakak. Mereka geli melihat teman-temannya banyak yang jingkrakan. Kucing-kucing pada berlarian berkejar-kejaran. Semut-semut juga tak ingin melewatkan suasana gembira, yang mungkin hanya sekali duakali seumur hidup. Kegilaan mereka pun kian menjadi manakala angin bertiup kencang. Dingin, ser….., menyegarkan. Lebih-lebih bagi keluarga yang baru saja mengguyur badan menjelmakan keharuman.
Keceriaan alam diikuti seekor kutu. Dia tengah berjalan-jalan menghirup udara segar. Waktu itu sih mainnya di semak-semak. Semak itu bukan hutan yang lebat, bukan pula tempat kumuh seperti comberan, melainkan semak di tubuh anjing yang lupa dibersihkan.
Dengan tubuhnya yang kecil mungil, Kutu bergerak leluasa, nggak ada yang menghalangi. Meskipun rajin mencari makan, makhluk berkaki kuat itu tidak akan pernah besar. Di tetap kecil, kecil, kecil kerdil, kecil selamanya. Padahal makannya congok minta ampun.Weleh…….., weleh………….!!!!
Suatu hari saat Kutu asyik bermain, dia bertemu dengan Semut Merah. Matanya melotot. Mulutnya cengar-cengir, mencibir-cibir, mengejek-ngejek, dan memaki-maki. Anehnya, si Semut malah tersenyum-senyum saja. Tak dihiraukannya caci maki tetangganya yang usil itu.
“ Hai, Semut, mari kita adu sembunyi !” ajak Kutu memulai pembicaraannya untuk menarik simpati Semut.
“ Oke, mari kita mulai !” tantang Semut Merah tak gentar.
Pertandingan pun dimulai. Genderang ditabuh bertalu-talu. Suaranya menggema ke angkasa, sampai-sampai terdengar ke penjuru wilayah Lauser yang luas itu. Hingar bingar menderu. Sorak-sorai pun ikut nimbrung menyatu. Semuanya gembira, kegirangan, berpesta ria menyambut pertandingan keduanya.
Sang Kancil bertindak sebagai juri. Lagaknya nggak tanggung-tanggung. Persis seperti juri lari di tingkat olimpiade. Suaranya tegas dan tidak bisa dibantah kata-katanya. Benar saja. Jika dia telah berdiri jadi juri, maka yang lain tentulah tidak dapat berkutik. Semua pasrah dan…….. pasrah.
Bendera start dikibarkan. Kutu lari kecang. Ia melompat-lompat. Lompatannya jauh betul melebihi lompatan juara dunia. Semut Merah keteteran, tertatih-tatih, dan kehaisan tenaga dibuatnya. Nafasnya ngos-ngosan. Makhluk yang kerap menyikat gula itu pun nggak sanggup lagi untuk lari.Dia terduduk lesu kehabisan tenaga seperti orang baru selesai kerja berat.
“ Ah…., daripada aku mati konyol, sia-sia, percuma, lebih baik aku istirahat saja,” pikirnya.
Karena kehabisan tenaga dan keletihan, akhirnya Semut Merah tertidur pulas di bawah rimbunan pohon. Di tempat terpisah Kutu beriang sorak sebab ia baru saja memenangkan pertandingan.
Dalam perjalanan kembali ke biliknya, Kutu berpapasan dengan Semut Betina. Ditegur, dan digodanya. Yang parahnya, hiasan Semut Betina yang telah usai dan segera dijuanlnya ke pasar, berantakan dan pecah berkeping-keping. Semut betina jadi marah bukan kepalang, mukanya memerah. Lebih-lebih setelah si Kutu mengejek tentang abang kandungnya, si Semut Merah.
“ Abangmu goblok, loyo, lelaki tak bertenaga, masak untuk lari bersembunyi begitu saja tidak sanggup !”
“ Awas kamu, kuberitahu abangku !” kata Semut Betina gemas.
“ Kasih tahu, cepat !” teriaknya sambil menyepak hiasan di depannya.
Semut betina lari pulang dengan menangis tersedu-sedu. Bajunya dibiarkan saja tergerai ditiup angin kencang. Rambutnya jadi awut-awutan persis kayak gembel nggak pernah menyentuh air beberapa hari.
“ Abang……..!” rengeknya setiba di rumah.
“ Kenapa kamu ? Siapa yang telah mencederai kamu begini ? “ tanya Semut Merah heran.
“ Itu……..Bang. Si Kutu telah merusakkan semuanya. Habis sudah karyaku,” katanya kesal.
“ Hu….uh…, di mana dia sekarang ?” tanyanya dengan emosi.
“ Di sana, di hutan perawan dekat tepi kali !”
“ Biar kuhajar dia. Kalau sudah martabat dan harga diri diinjak-injak, siapapun pasti marah. Demi kehormatan adikku dan keluargaku, akan kuhajar dia !”
Dengan emosi yang meluap-luap, Semut Merah ke belakang rumahnya. Dia mencari kayu panjang. Sebilah celurit turut dibawanya. Ia pun pergi mendatangi Kutu yang telah merusak segalanya itu.
Warga sekitar telah berkumpul di sepanjang jalan tikus di lereng hutan perawan pegunungan Lauser. Mereka terheran-heran, bertanya-tanya. Ada apa ? Ada apa ? Semut Merah terus melaju tanpa menoleh ke belakang.
“ Hei, Kutu. Di mana kau….? Ayo, tampakkan batang hidungmu ! Jangan hanya berani di belakang layar !” katanya marah sambil mengacungkan kayu dan celurit.
Dengan berlagak nekat kayak jagoan, Kutu keluar dari peristirahatannya. Tiba-tiba, “ Ha………., gawat, bisa mampus aku….!” katanya ciut. Kutu lari.
“ Hei, jangan lari kau ! “ hardik Semut Merah. Ia terus mengejarnya. Ke mana pun Kutu bersembunyi akan dicari. Nggak peduli apakah itu harus manjat pohon ataukah tidak. Aku harus mendapatkannya, pikirnya.
“ Nah, bagus. Ternyata kamu sembunyi di sini. Aku nggak harus bersusah payah mencarimu lagi !” kata Semut Merah yang mengetahui jejak persembunyian Kutu di sela-sela kayu di sekitar lahannya sendiri.
Kutu sudah tekepung. Ia tidak berkutik lagi dan mengangkat tangannya ke atas. Ternyata di sekelilingnya telah berdiri keluarga semut.
“ Maaf, Bang Semut. Aku salah. Aku yang telah merusakkan semua hiasan adikmu. Maaf, jangan pukul aku !” akunya.
“ Bagus. Walaupun kamu telah meminta maaf, bukan berarti hukuman tidak diberlakukan terhadapmu. Hukuman itu tetap aku jalankan. Kamu harus menerimanya, karena itu kesalahanmu, mengusik ketenangan hidup warga lain.”
“ Ya, Bang Semut, aku terima apa saja hukuman yang kalian berikan,” jawab Kutu dengan tangan terborgol.
“ Ingat, Kutu. Hukuman yang aku berikan akan berlangsung seumur hidupmu. Kamu harus bekerja untuk keluargaku. Kamu tidak boleh membantah. Satu lagi, setiap selesai kerja dan mendapat hasil, kamu harus setor kepada kami !” jelas Semut Merah.
Kutu pun menerima hukuman akibat perbuatannya sendiri. Dia menjadi sapi perahan, peliharaan, sekaligus budak si Semut Merah.
Itulah mengapa Kutu harus menyerahkan sebagian hasil keringatnya berupa embun madu untuk keluarga semut. Tetesan embun madu yang dihasilkan Kutu pun tetap dimakan Semut hingga sekarang.