Aku punya kucing jantan. Tubuhnya tegap, berbidang, dan kekar. Sepanjang hari kerap kali ia bersimbah peluh. Bulunya indah dan menarik. Matanya tajam berbinar, senyumnya segar menawan. Langkahnya pun penuh perhitungan. Itulah kucing kesayanganku.
Kucingku sangatlah ringan tangan. Setiap pagi dia giat bekerja keras. Rajinnya enggak terbilang. Sampai-sampai ototnya yang bertulang besi pun tampak menonjol dan besar-besar. Kalau kubilang pun ya mirip kayak binaragawan betulan. Padahal bukan. He…..he……he……!!!

Begitu pula kalau mandi. Seperti kita-kita juga. Tubuh disikat, digosok, disapu-sapu hingga bersih benar kayak tegel bisa memantulkan cahaya bayangan kita.
“ Kilatlah ya………?”
“ Pasti dong……..! Menggosoknya pun tidak dengan batu, melainkan dengan lidah antiknya. Bayangkan,Dik, nggak ada tersisa sedikitpun. Karenanyalah tubuhnya jadi sehat tiada sakit yang mengusiknya.
Adik-adik, mau kan mengikuti jejak kucing kesayanganku ? So pasti. Kalau tidak, tubuh kita kan berdaki, kumal, dan mengerikan. He……..he……..he……..!
Anehnya, Dik, jika telah bersih, kucingku kan terbahak sendiri sembari ngoceh minta makan. Kalian mau membantunya nggak ? Pasti mau kan ? Kalau enggak, ya kelewatan. Masak kita mau makan sendiri.
Begitu makanan telah terhidang di depan moncongnya, mukanya pun berbinar, berseri, bercahaya, dan berkaca-kaca menyiratkan keriangan. Senang pun ikut berbicara, menyeringai, bertepuk- tepuk dada sendiri, menyertainya kemana pun dia pergi. Nggak ada lagi yang mengganggu hidupnya sebab kucingku enggan mengusik ketenangan jiwa tetangga lain. Itulah prinsip hidupnya yang dengan mantap digenggamnya hingga saat ini.
Suatu hari ada tetangga yang bertandang ke rumahnya. Mukanya kusut seribu belah. Pipinya penuh noda pulau kerjanya sendiri. Warna-warni menyayat pipinya. Dia baru bangun dari tidurnya yang panjang berliku.

Mulanya sih kucingku menyambutnya dengan ramah. Akan tetapi, setelah diketahuinya si tetangga yang bertandang belum cuci muka, marahnya pun membakar jiwa. Marahnya pun tidak seperti yang lain kok, Dik. Ini rada aneh, lucu, dan geli kalau aku ngerti apa yang mereka perbincangkan.
Nah, bicaranya pun pelan dan sopan, tetapi sambarannya bisa bikin warga lain jadi pontang-panting. Ibarat geledek menyambar pohon kelapa sampai gundul mentul kayak pentol korek api. He………he……, apa tahu setelah itu, Dik ? Si tetangga pulang dengan menyimpan malu yang amat sangat, tetapi tidak sakit hati.
Selang beberapa menit setelah itu, konco yang belum cuci muka, eh malah nongol lagi.
“ Apaan tuh si Hitam, datang pakai nangis segala!” gerutu si Belang kucingku. “Emangnya di sini kolam susu apa ? “ katanya lagi.
Si Belang kian terheran-heran manakala si Hitam merangkulnya erat-erat dari belakang sambil menjerit histeris.
“Eong………..eong………..e………..eong……! Abang………abang !” Dia berteriak kuat sekali sampai-sampai telinga kucingku hampir pekak dibuatnya.
“ Hei, tenang, katanya seraya menampik mulut si Hitam dari kupingnya. Ada apa denganmu, kok belum cuci muka, pakai nangis segala ? “
Si Hitam diam membisu seribu kata. Pikirannya tengah melayang jauh mengingat kejadian yang menimpa ayah dan ibunya.
“ Ayah dan ibuku !” katanya.
“ Kenapa dengan mereka, Tam ?” tanya si Belang heran.
“ Mereka telah tiada, Bang !”
“ Kapan, kok abang nggak tahu ?”
“ Kira- kira dua tiga minggu yang lalu. Waktu itu kan rumah lagi kosong. Abang kan lagi ngantar tetangga yang pindah rumah,” jawab Hitam dengan sedikit memelas.

Mendengar perkataan si Hitam, kucingku seakan merasa bersalah. “ Maafkan abang, Dik. Abang tidak bermaksud menambah luka hatimu. Tadi abang sedikit emosi. Abang kira kau……..Ah, sekarang kau tidak usah sedih. Tinggallah bersamaku, di bilik sederhana, yang kubangun dengan cucuran keringatku sendiri,” ajak kucingku kepada si Hitam tetangganya.
“ Baik benar kucingku ya…?”
Malam harinya si Hitam nggak bisa memejamkan mata. Ia gelisah sangat. Keringatnya mengucur deras bagai air terjun ke bumi. Duduk salah berdiri pun enggan menyapa. Gundah membalut kenangan menyaksikan malam menggerogoti nyawa orang tuanya.
Bapak si Hitam terjatuh dari bangunan yang tenah dikerjakan tukang. Soalnya, kayu yang dipijaknya telah rapuh dan mudah patah. Mujur enggan mendekat, malang enggan menjauh. Ibunya mati tersiram air panas insan penghuni bumi yang lagi kesurupan setan.
“Padahal ibuku nggak punya salah kok dihukum begitu kejam. Eong…..eong…!”
“ Apa bapakmu nggak dibawa ke bilik perawatan ?” tanya si Belang kucingku lagi ingin kepastian.
“ Sudah, Bang. Tetapi sayang, dokter Kambing enggan mengoperasi. Soalnya, dokter bilang, biayanya sangat mahal. Kami kan keluarga miskin, manalah mungkin sanggup. Jadinya ya…… tulang leher dan kayu yang menusuk tubuh orang tuaku dibiarkan saja. Eong……..eong……..!” si Hitam merintih lirih menahan duka yang tak bisa melepaskan diri darinya.
“ Kalau aku jadi dokter…….., !” kata si Belang kucingku.
“ Apa, Bang ??” Kata-kata si Belang mengusik lamunan si Hitam.
“ Kalau aku jadi………”
“ Jadi dokter begitu kan, Bang ?”
“ Ya, aku akan berupaya mendahulukan si sakit ketimbang upah. Aku akan menyelamatkan nyawa dulu daripada……”
“ Ya daripada……..!”
“Eong……eong……..eong………!” Si Belang dan si Hitam koor bersama.
“ Aku akan mengikuti jejakmu,Bang!” kata si Hitam penuh yakin.
“ Bagus, bagus, aku akan berusaha menjadi yang teladan, terutama bagi masyarakat kecil, dan menolongnya tanpa mementingkan uang lebih dulu. Kasihan kan mereka kalau tidak ada yang menolong. Kalau bukan kita, siapa lagi ???” sahut kucingku.
Keduanya melambaikan tangan seraya mengharap kejutan-kejutan antik dan aneh.