Dulu, sebelum menjadi guru, aku selalu membayangkan suatu yang aneh, guru itu apa sebenarnya. Apakah hanya sekedar mengajar di depan kelas saja ? Ternyata tidaklah demikian halnya. Rupa-rupanya menjadi guru itu amat menyenangkan dan membanggakan. Kebanggaan itu bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga bagi masyarakat sekeliiling kita. Kebanggaan yang didapat tidak hanya sebatas mata memandang, namun mampu menembus dinding teguh sekeras raga manusia sampai ke lubuk hatinya yang paling dalam. Bagi seorang guru seperti aku ini, bertatap muka dengan peserta didik merupakan suatu kehormatan yang tiada banding dan tidak bisa digantikan dengan uang seberapapun banyaknya, walau menumpuk bagai gunung sekalipun. Soalnya, yang dihadapi bukanlah boneka robot yang bisa diutak-atik dan langsung bisa selesai diperbaiki, melainkan insan yang pandai berfikir, berestetika, dan memiliki ajaran agama yang tinggi. Hal itu sudahlah pasti disadari betul oleh seorang guru yang memang benar-benar guru, yang hatinya telah terpaut pada tugas yang mulia ini.
Begitu perasaan orang, begitu pula yang kurasakan dan alami. Bagiku, menjadi guru merupakan suatu tantangan dan ujian sebagai bukti pengabdianku pada Rabbul Izzati. Pengabdian yang tiada henti walau telah sampai ke titik akhir kehidupan. Keberuntungan yang didapat pun tidaklah hanya sebatas kepuasan materi semata, melainkan kepuasan batin yang dapat menenangkan hidupku sampai ke akhirat kelak.
Sekali lagi, kalau dulu aku masih bertanya-tanya dalam hati, apakah benar menjadi guru itu membuat kita bahagia. Tetapi sekarang, setelah kulalui bahtera hidup ini dengan murid-muridku, barulah benar-benar kurasakan nikmatnya menjadi seorang guru. Guru yang tidak hanya digugu dan ditiru, tetapi guru yang memang benar-benar dicintai muridnya.
Kebanggaanku menjadi guru adalah puncak kehidupanku dan semakin mempertebal keyakinanku bahwa guru adalah orang nomor satu dalam hidup dan kehidupan anak manusia di mana pun berada. Seorang guru yang membuka jalan hidup seseorang untuk meraih kemenangan bukanlah cuma selogan, melainkan suatu tindakan nyata. Kalau tidak percaya, tanyakanlah hal itu pada diri kita masing-masing. Adakah orang yang sukses tanpa dibimbing seorang guru ?
Selain itu, dari hari ke hari, kebahagiaan dan kebanggaanku menjadi guru semakin menyelimuti kehidupanku. Bayangkan, betapa bahagianya aku manakala menemukan dan kuketahui ada muridku yang telah menjadi orang terkenal, berpenghasilan cukup lumayan, dan mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Walaupun mereka telah hidup mapan dan mandiri dengan cita-cita yang telah diraihnya, ternyata mereka, anak-anakku masih ingat kepadaku gurunya di sekolah dasar. Murid-muridku masih mau menjengukku di gubug reyot di pinggiran desa.
Dalam keseharianku kini, aku hanya bisa memohon pada Tuhan semoga anak-anakku yang lain pun demikian adanya. Betapa tidak demikian, karena merekalah aku bisa berdiri di depan kelas membagikan ilmu. Tanpa kehadiran anak-anakku di sekolah, mungkin sampai kapanpun aku tidaklah mungkin dipanggil dengan panggilan guru.
Begitu bahagianya aku menjadi guru sampai-sampai terlahirkan sebuah puisi untuk mereka.

Kepada Anak-anakku

Lihatlah……tataplah………!
Wajah-wajah kami dalam hidupmu
Yang belum berarti apa-apa
Kiranya saksi bergema
Menyimpan rahasia dalam jiwa kecilmu
Membangkitkan jiwa mati
Tapi tak daya menghidupkan insani
Hanya itu
Pelambang kasih kami padamu

Oh….anakku……!
Harapan kasih dalam jiwa hati kami
Terimalah bakti ini
Dari orang-orang tak berpunya
Hanya sekelumit asa pinta beta
Ubahlah bumi ini
Tembuslah bukit-bukit gersang
Selamilah samudera
Telusurilah hidupmu
Dengan budi akal dan iman
Ingatlah pada pengasuhmu
Bagaikan matahari
Bukan seperti kacang tertimpa matahari

Aha, betapa bahagianya aku waktu itu. Ya, kebanggaanku menjadi guru yang tak mungkin bisa dilukiskan di atas kertas putih seluas bentangan bumi. Rasa bangga tersebut tidaklah dapat dituangkan dengan kata-kata semata. Yang jelas, kebanggaan itu bisa kurasakan betapa nikmatnya menjadi guru. Kebanggaan yang cuma bisa dirasakan antara aku dan anak-anakku di sekolah.