Udara pantai begitu bersahabat mendayu-dayu mengiringi musik alami. Pasir putih basah menyeringai mengulas senyum mengiringi ikan-ikan kecil menari dipermainkan musik samudera. Semilirnya angin meneguk kemanjaan insan-insan di seputarnya. Oh, indahnya tepian pemandian membalut luka seorang lelaki tengah baya yang sedang mengayuh sampan demi perut sejengkal.
Tangan kecilnya terus menari-nari tanpa menanti waktu yang menggulir mengikuti larinya masa. Senyumnya telah membuka lembaran baru keluarga. Betapa tidak, istri terkasih tengah membuka warung kecil guna menambah penghasilan. Anaknya giat meraih cita-cita. Tidak seorang pun terlena dengan mimpi-mimpi indah di siang bolong. Sedikit saja lalai, mereka akan berteriak keras mengusir lolongan anjing yang menakutkan.
Riak laut yang tadinya tenang, kini berubah jadi musuh bagai api yang siap menelan mangsanya. Lelapnya para nelayan di atas kapal sedikit mulai terusik dengan munculnya tamu baru di kampung tercinta. Bahkan para istri sedang sibuk menyiapkan lomba mengukir keindahan di leher masing-masing. Mereka terus bersaing mengejar kemilaunya bintang yang tak mungkin dapat tergapai oleh keringat para suami yang menentang maut di antara badai di tengah laut lepas.
Tak ingin dikatakan kuno dan ketinggalan zaman, anak-anak ingusan siap merentangkan sayap-sayapnya menyibak dunia menatap layar kaca di rumah tetangga berpunya.
“ Hei, teman-teman. Sini, main ke sini. Kalian boleh dengan bebas main di rumahku yang besar ini. Ayo, apalagi yang kalian tunggu. Cepat, sini rame-rame, kan enak !” ajaknya suatu kali saat baru beberapa hari menetap di situ.
Anak-anak kampung seusianya yang masih sekolah dasar itu pun berkumpul, bergabung, berteriak histeris, kegirangan, dan kayak kesetanan begitu mendapat kesempatan main. Wou….., asyiknya……! Boleh jadi seharian mereka main. Kejadian itu berlangsung begitu cepat dan bertahan lama.
Siang hari, tak pandang terik maupun hujan, mereka diburu mainan tamiya, gembot, spika, ps, dan lainnya. Anak-anak nelayan tak ambil pusing lagi pada kemampuan ayah-ayah yang bergelut mencari nafkah di tengah samudera. Yang penting, bisa main. Sebab, anak tetangga yang baru itu, mainannya melimpah ruah, berjibun, berserakan, menggerakkan air liur teman sebaya. Tak dinikmati mubazir menganga, diikuti seleranya sengsaralah pasti melekat melilit leher sendiri.
Begitu pula dengan istri warga kampung. Ibu-ibunya pada belomba-lomba menghiasi leher, tangan kanan dan kirinya. Mereka sampai begitu tergiur dan bernafsu memilikinya kerena yang punya gedongan itu pintar mengambil hati.
“ Ayo, ibu-ibu, belilah, nggak mahal kok! Kalau ibu-ibu nggak bisa kontan, ya nyicil juga bisa, langsung saja dengan saya. Tidak perlu pakai uang muka lho, Bu. Biar saya nanti yang kontanin duluan, ya Bu, ya ? Nggak usah takut, yang penting, kita semua bisa menikmatinya, biar nggak dibilang terlalu kere. Mau kan, Bu ?” katanya dengan lembut.
Wanita-wanita kampung yang umumnya berpendidikan rendah itu akhirnya lunak juga. Semuanya pingin memilikinya.
“ Ah, biar mahal, yang penting kita kan bisa nyicil !” kata seorang ibu dengan entengnya..
Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin pas diberikan kepada mereka yang tidak pernah merasa puas atas nikmat yang diberikan Tuhan.
“ Bu, belikan mainan kayak orang tetangga yang baru itu ya ?” tanya seorang anak pada mamaknya yang sedang menggoreng pisang untuk dijual.
“ Memangnya gaji bapak kita gajinya gede…….? Kalau gede seperti orang kaya itu, baru beli mainan, makan saja masih hitung-hitung, eh………kamu malah mau beli tamiya segala. Tahu kamu berapa harganya………?” kata seorang ibu yang tahu kerja suaminya dengan mata melotot.
“ Kan bisa nyicil, Bu ? Orang itu bisa beli, kok kita tidak……..??!! “
“ Betul kata ibumu, Nu. Kita jangan sekali-kali lihat ke atas, tapi cobalah tengok ke bawah. Kalau menuruti nafsumu, bisa-bisa nasib keluarga kita terperangkap tengkulak. Hancur……….! Lihat tetangga kita yang jualan itu, mereka terus gaduh tak hentinya,” kata ayah yang bijak.
Benar, Pak Nelayan yang istrinya jualan itu bingung. Tiap saat para tentenir datang ke rumahnya menagih hutang. Kepalanya pusing tujuh keliling memikirkan istri dan anaknya yang kini sedang naik daun mengikuti irama kehidupan si kaya.
Setiap pulang dari melaut, si istri terus nyosor minta dibelikan gelang. Padahal, di lehernya telah melilit benda kuning hasil keringat sendiri. Mengapa masih kurang………..?
“ Entahlah.”
“ Ingin pamer……?”
“ Entahlah.”
Yang jelasnya, si istri mengumbar senyum manakala suami berangkat ke kota memenuhi maksudnya. Keceriaan rupa mengumbar kabar. Tetangga pada tahu bahwa sebentar lagi si empunya kedai akan kaya mendadak.
“ Betulkah ?” tanya para tetangga penasaran.
Kita lihat saja apa yang akan menjelma ke permukaan. Apa yang terjadi kemudian harus kuceritakan.
Hari itu suaminya pulang dengan wajah lain. Di tangannya melekat bungkusan tebal lagi berat.
“ E………e………..e………., Mak………, bapak pulang ! Bapak pulang……..,Mak..! Bapak bawa bungkusan besar, Mak !” Si anak lari menyongsong ayahnya. Gembira benar hatinya. Ia melompat ke sana-sini persis kayak orang kesetanan.
Istrinya yang telah menanti lama bergegas tak ingin ketinggalan.
“ Untukku, Pak ?”katanya dengan hati berbunga-bunga.
Bapak hanya manggut. Kotak langsung dibuka. Si anak sudah nggak sabar, ia ingin cepat-cepat melihatnya, tetapi lapisan bungkusnya banyak sekali Selapis, selapis, dan terus begitu samapai kotaknya tinggal kecil persis kayak kotak rokok.
“ Apa isinya ya ? Ha……, sebuah rantai besi kecil dan secarik kertas berisi surat penyegelan tanah !” kata anaknya heran.
“ Untuk siapa, Pak ?” tanya si ibu pula.
“ Ya……, untuk kamu !”
“ Ooooooo……mati aku !” Senyumnya lenyap berganti rentenir bersorak.

1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
2. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin
8. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).