“Pak, mengapa anakku malas belajar ?”
“Anakku juga, kalau nggak disuruh, dia tidak mau belajar. Kenapa,Pak si A itu kalau nggak ditunggu, tidak mau belajar, ada apa, Pak ?”
Pertanyaan seperti itu kerap kali kita temui saat pembagian rapor tiba. Kebingungan orang tua semacam itu mengusik penulis untuk turut memecahkan masalah yang dihadapi lewat tulisan yang sederhana ini. Bukanlah bermaksud menggurui, melainkan hanya ingin membagi pengalaman semata.
Malas merupakan penyakit yang ada dan hidup di tengah masyarakat. Penyakit yang tidak ada obatnya kecuali dari dalam diri dan keluarga sendiri. Tidak masuk akal, tetapi itulah kenyataannya. Jadi jangan heran kalau menemukan penyakit semacam itu dalam keluarga kita, terutama anak-anak kita sendiri yang sedang mengikuti pendidikan di bangku sekolah.
Menurut seorang pendidik, Heryanto Sutedja, bahwa malas merupakan suatu reaksi kejiwaan dari seorang anak terhadap orang tuanya atau sekolahnya. Dengan kata lain reaksi ini timbul karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor itu tumbuh dan berkembang dalam jiwa si anak seiring usia yang semakin berkembang. Apa faktor penyababnya dan bagaimana mengatasinya ?
Faktor Penyebab Malas
Malas belajar bagi anak merupakan reaksi kejiwaan di mana minat belajarnya telah mulai memudar karena penerimaan materi didik orang tua tidak mengena pada anak, sebagai reaksi ketidaksenangan terhadap teman, guru, dan pelajarannya, atau mungkin keadaan di dalam rumah tangganya sendiri.
Terkadang disebabkan kurangnya perhatian orang tua yang disebabkan orang tua yang terlalu disibukkan oleh kerja hingga larut malam, sehingga anak yang masih membutuhkan banya perhatian, jadi terabaikan. Suasana pendidikan di sekolah atau di rumah tidak sehat. Kurang dorongan keluarga pada anak untuk menyesuaikan diri terhadap pelajarannya juga bisa menghilangkan gairah belajar.
Kita sadari bahwa kesalahan dalam mendidik anak seperti terlalu memanjakan, membantu membuatkan PR (bukan membimbing anak agar anak mencari tahu jawaban), merupakan salah satu faktor utama timbulnya penyakit malas pada anak (sudah keenakan dibantu terus). Selain itu, menurut para ahli pendidikan, kebanyakan kita selaku orang tua mengharap terlalu banyak pada anak, sedangkan anak sendiri tidak mampu untuk mencapai hasil yang diharapkan. Orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anak ke sekolah favorit tetapi berlawanan dengan keadaan dan keinginan anak sebenarnya, atau mungkin sebaliknya. Tekanan-tekanan batin akibat tuntutan yang tidak wajar semacam itu, mengakibatkan anak mengalami berbagai penyakit yang disebabkan oleh faktor kejiwaan. Di antaranya, mencuri umur saat memasukkan anak ke sekolah juga bisa menghambat kelancaran belajar anak. Hal ini bisa dilihat dari pengalaman nyata penulis bahwa anak yang terlalu cepat dimasukkan sekolah banyak mengalami kegagalan di kelasnya. Anak cepat merasa bosan, konsentrasi tidak menentu, bahkan tidak jarang anak lebih banyak bermain daripada belajar. Ada saja prilaku aneh yang ditonjolkannya.
Sebabnya, karena pada awal sekolah usianya belum cukup matang untuk menerima pelajaran, keinginan anak bermain masih terlihat. Namun, karena sudah terlanjur basah, maka anak akan berlaku di bawah kecerdasan yang sebenarnya dia miliki. Terlalu ketatnya pengawasan belajar anak bagai seekor singa yang menunggui mangsanya, juga bisa membuat anak malas. Coba renungkan, buku di depan matanya, tetapi tahukah kita kalau saat itu pikirannya sedang melayang entah ke mana ? Kalau demikian adanya, maka anak baru mau belajar kalau disuruh.
Pemecahan Masalah
Jika kita sebagai orang tua ingin memecahkan masalah kemalasan belajar anak, maka pihak orang tua dan sekolah bahu-membahu dalam menghadapi anak sehingga terhindarnya saling menuding dan menyalahkan. Adalah lebih baik bila hal ini dilakukan orang tua terlebih dahulu. Terutama dalam menanamkan disiplin yang tidak kaku dan kepercayaan diri anak terhadap kemampuan yang dimilikinya. Menumbuhkan rasa kemandirian dan kedisiplinan diri sendiri ( swa disiplin dalam ajaran ketamansiswaan ) merupakan tanggung jawab kita selaku orang tua, karena orang tua merupakan benteng pertahanan terdepan dalam membentuk / meletakkan dasar pendidikan kepribadian dan karakter anak-anaknya.
Penerapan disiplin yang dimaksud tidak dibarengi dengan emosi, kekerasan, atau paksaan, sehingga hasil belajar anak memuaskan, melainkan harus dengan kasih sayang dan cinta kasih serta penuh tanggung jawab demi masa depan anak kita sendiri. Sebagai orang tua kita harus berani menanamkan kepercayaan diri anak untuk memikul konsekuensi dari tindakan malasnya. Kita tidak semata-mata memanjakannya, mengerjakan Prnya, tetapi berupaya membimbingnya untuk memecahkan masalahnya sendiri, sebab kunci utama menghilangkan sifat malas anak adalah menumbuhkan kesadaran pribadi anak tentang pentingnya arti belajar bagi dirinya sendiri.
Adanya perhatian yang cukup dari orang tua dan pemberian penghargaan yang seimbang pada anak perlu dilakukan meskipun anak tidak selalu mendapat kemenangan, yang penting hasilnya lumayan. Pemberian itu tidak semata bersifat benda, tetapi bisa dalam bentuk ciuman kasih sayang keakraban orang tua terhadap anaknya yang dapat menumbuhkan semangat anak dalam belajar.
Kesimpulan
Dengan uraian singkat di atas, dapatlah kita tarik kesimpulan penting untuk kita. Bila anak malas, maka yang pertama kita lakukan adalah mencari masalahnya, dan pecahkan bersama dengan kepala dingin. Kita curahkan perhatian yang cukup demi kemajuan anak sendiri, dan tidak melupakan memberi penghargaan bila melihat kemajuan yang diperlihatkan anak.
Ridha Nori Irianto, S.Pd.
Guru SMP Yapena Lhokseumawe