Bekerja merupakan sesuatu yang amat didambakan oleh setiap orang. Hal itu ditandai dengan makin banyaknya orang yang mencari pekerjaan. Masyarakat yang membutuhkan pekerjaan pun tak terhitung lagi jumlahnya, mulai dari anak putus sekolah, tua atau muda. Apakah dia kaya atau rakyat jelata sekalipun. Sarjana atau bukan Perkotaan penuh sesak oleh manusia. Bahkan tak jarang, demi sebuah pekerjaan masyarakat merelakan dirinya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman dan keluarganya sendiri.
Begitu banyak manusia yang butuh pekerjaan, banyak pula cara yang ditempuh. Adakalanya cara yang ditempuh itu tak masuk akal. Pakai jalan pintas atau potong kompas. Masing-masing mencari koneksi. Biar mengeluarkan kocek pun tak jadi soal, yang penting dapat kerja. Ironis sekali memang, tetapi itulah kenyataan yang harus diterima pada masa sekarang ini.
Sebagai pekerja, manusia adalah penghamba yang mengabdikan diri untuk rajanya. Pekerja yang memang benar-benar mendapatkan pekerjaannya dengan jalan yang benar. Pekerjaan yang ditempuhnya pun tidaklah sebatas bahu semata, namun dibarengi dengan niat suci dan perasaan. Sedangkan sebagai topeng, dia memiliki perubahan dari segala hal. Percaya atau tidak, Anda sendirilah yang menilainya.
Sebagai pekerja yang memiliki landasan agama yang kuat, melaksanakan kerja suci yang penuh pengabdian, sudah tentu orang itu bekerja dengan sungguh-sungguh, rajin, ulet, dan tidak kenal putus asa. Tiada waktu luang yang terbuang percuma. Semua waktunya diisi dengan kegiatan yang menu njang pekerjaannya.
Berapa pun detik waktu yang ada akan dipautnya dengan menciptakan suatu perkerjaan yang menguntungkan semua pihak. Yang pasti, kerja yang dilakukan sesuai dengan pendidikan yang pernah dikecapnya. Kerja yang dilakukan pun tidak sembarangan atau serampangan. Semua dilakukan menurut aturan yang ada. Hasilnya baik dan menguntungkan, baik untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat lingkungannya.
Suci tidaknya kerja yang dilakukan tergantung dari insannya juga. Sampai sejauh mana dia memahami makna kerja yang sesungguhnya. Apakah kerjanya itu hanya sekedar memenuhi materi belaka, menurut hati nurani sebagai amanah dari Maha Pncipta, ataukah ada sisi lain yang hanya mengharapkan pujian semata.
Berbahagialah Anda para pekerja yang telah mencurahkan segala perhatiannya terhadap tugas yang dibebankan ke pundak kita. Meskipun pekerjaan bertumpuk, menggunung, yang menurut perkiraan tak mungkin bisa diselesaikan, namun dengan memiliki sifat kesabaran yang tinggi, niscaya tugas pekerjaannya itu dapat diselesaikan. Inilah mungkin yang terbaik. Sebab, orang sabar amat dekat dengan rahmat Tuhan.
Sucinya kerja yang dilakukan bisa jadi karena pekerja melaksanakan tugasnya diiringi rasa cinta yang amat dalam. Bekerja tidak harus ada orang yang mengawasinya, namun melaksanakan kerja itu merupakan suatu panggilan jiwa, bukan karena nafsu badaniah. Pekerja seperti ini ibaratnya mencintai pekerjaan layaknya mencintai dirinya sendiri. Dia merasakan benar nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya.
Menyadari hal demikian, sudah tentu pekerja yang bekerja menurut kesanggupannya dan tidak ngoyo atau serakah, akan merasa puas batinnya. Pekerja itu akan semakin bahagia ketika tahu kerja yang dilakukan itu berhasil sesuai aturan agama. Sebab, dia bekerja memiliki landasan yang sangat kuat semata-mata mengharapkan ridho Allah. Kerja baginya merupakan ibadah suci dan bersih dari noda, yang dilakukannya penuh dengan kreativitas, selaras dengan edukatif yang dimiliki, rajin, jujur, dan amal diwujudkannya dengan sabar, usaha, cinta, dan ikhlas yang mengantarkannya menjadi ihsanulkamil.